Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Moment berbeda


__ADS_3

"Mas Topan?? ini.. ini terlalu berlebih" ujar Alia melihat sebuah tempat tidur berikut set lemari dan meja rias.


"Tidak.. ini bagus kok" jawab Topan.


"Iya, ini memang bagus.. bagus banget malah, tapi.. Alia gak bisa nerima ini, Alia pikir cukup dengan kasur lipat saja itu jauh lebih nyaman" Alia protes dengan pembelian sebuah set kamar tidur untuk dirinya.


Topan menghela nafas.


"Tidur di tempat nyaman itu penting, jika kamu nyaman.. maka pagi hari kamu bisa bekerja dengan baik.." sahut Topan dengan tetap pada pendiriannya. "Oke, saya ambil ini" ujar Topan pada seorang pelayan store.


Alia tak bisa berkilah, nota pembelian sudah di tangan Topan dan hanya tinggal menuju kasir untuk membayar.


Topan berbalik untuk menuju tempat kasir berada.


"Mas Topan.." panggil Alia gusar.


Langkah Topan terhenti lalu setengah berbalik.


"Tolong, jangan memberi hal yang berlebihan seperti ini.."


Topan terpaku dengan raut wajah Alia yang tampak serius.


"Tapi, kenapa?"


Alia menangkupkan kedua bibirnya dengan gusar, sorot matanya berubah sedih.


"Ma-maaf tapi.. Alia tidak suka suatu kenyamanan.."


Topan mendengar dengan sulit mengerti.


"Alia takut, jika pada akhirnya.." ucap Alia tergantung. "Alia akan di buang.."


Deg..Topan terpaku mendengar ucapan trauma Alia.


"Tolong.." pinta Alia dengan tatapan terluka.


Topan tak bisa berkata-kata ketika melihat hal itu, ternyata dari balik sikap Alia yang tenang menyimpan suatu derita yang tak bertepi.


***


Setelah membatalkan pesan set kamar itu. Akhirnya Topan mengalah pada permintaan Alia. Namun satu hal yang tak bisa Alia tolak, Topan membelikan sebuah tempat tidur lajang juga pendingin ruangan untuk di kamar.


"Total 7juta" ujar sang kasir.


Topan memberikan kartu debitnya pada kasir. Sembari menunggu, sekilas ia melihat Alia yang tengah menjaga sang ibu.


Terlihat Alia menuntun ibu Topan dengan menunjuk pada lampu yang berkelap-kelip dan menarik perhatian ibu Topan.


"Alia takut.. jika pada akhirnya Alia akan di buang" ucapan Alia yang membuat Topan berpikir keras. Betapa perceraian telah membuat hati wanita ini hancur, hingga menjadikan suatu trauma.


Hati nurani Topan pun kian merasa tergerak pada sosok Alia.


"Ini pak.." ujar sang kasir wanita mengembalikan kartu debit Platinum itu kembali pada Topan.


Topan menerima kembali kartu miliknya dan menyimpan kembali kedalam dompet.


Setelah itu ia menghampiri sang ibu yang masih terlihat penasaran akan kelap kelip lampu hias yang memiliki macam warna.


"Ibu??" panggil Topan.


Namun sang ibu tidak merespon ia terlihat asyik pada lampu.

__ADS_1


"Ibu, lapar?" tanya Topan kembali.


"Tuh..tuh..ituh" tunjuk ibu Topan asyik di dunia yang baru ia lihat.


Alia mencoba mengalihkan perhatian ibu Topan.


"Ibu.. ibu lapar gak?? mau makan?" tanya Alia.


Namun pertanyaan itu tak membuat ibu Topa terpengaruh.


Tingkah ibu yang bagai seorang anak kecil, sedikit memancing perhatian para pengunjung yang lain. Terlihat dari tatapan mereka yang melihat dari sudut mata dengan sembunyi-sembunyi.


Topan menghela nafas.


"Alia.. kita bawa saja ibu.." kata Topan dengan raut wajah tak nyaman.


Menyadari hal itu, Alia mencoba menarik lengan ibu Topan dengan sedikit paksa.


"Ayo buk, kita harus pergi.." ajak Alia dengan terpaksa.


"Eh?? oh.. itu..itu.." ujar ibu Topan yang seketika cemberut.


"Ayo, buk.. di tempat lain ada yang lebih seru" kata Alia dengan terus menarik ibu Topan agar mengikuti langkahnya.


Melihat Alia sedikit kesusahan menarik sang ibu, Topan pun akhirnya turun tangan. Ia merangkul sang ibu dan membawanya dengan sedikti paksaan.


***


Setelah keluar dari store tersebut, Topan dan Alia pun sama-sama merasa lega. Ya, lega karena hal itu tak membuat ibu mengamuk.


Tanpa sadar Topan dan Alia saling berpandangan satu sama lain dengan lucu.


"Mungkin begitu perasaan setiap orang tua yang susah membujuk sang anak ketika tengah asyik.." seloroh Alia dengan senyum kecil.


Alia melihat sekilas, begitu juga dengan ibu Topan yang perhatiannya kembali teralihkan pada balon-balon yang di hias sebagai pajangan di sepanjang langit-langit mall.


"Kamu mau makan apa??" tanya Topan pada Alia.


Alia menoleh.


"Hm? apa ya??"


"Bagaimana jika disana" tunjuk Topan pada satu restoran Jepang.


Alia menatap lurus pada arah tunjuk Topan, dan ia reflek menyetujui. Karena restoran makanan Jepang adalah makan favorit Alia dulu, ketika masih menjadi Nyonya kaya.


Dan anggukan Alia membuat Topan lega, ia senang jika Alia menyetujui pilihan.


"Oke, kalau begitu kita kesana.." ajak Topan.


"Ya.. ayo, buk" ajak Alia dengan meraih lengan ibu Topan.


Namun di lain sisi, tanpa di duga jemari Alia diraih oleh Topan.


Deg..jantung Alia berdesir.


"Ayo.." ajak Topan, tanpa menunggu protes dari sang pembantu.


Alia pun akhirnya berjalan dengan langkah yang sama dengan sang majikan. Dan di sisi lain ibu Topan pun mengikuti Alia, sehingga Alia berada di tengah-tengah ibu dan anak tersebut.


***

__ADS_1


Di satu tempat berbeda, di kamar rumah sakit bersalin ternama. Suasana kamar itu berubah panas dengan ketenangan yang kian terasa dari Rudy.


"Aku akan menceraikan kamu, Bella.." ucap Rudy dingin setelah melihat hasil test DNA sang anak.


"MASSS RUDYY!!" jerit Bella frustasi yang masih berada di bad pasien dengan wajah yang kacau.


Ibu Rudy bangun dengan wajah marah.


"Kamu!! kamu benar-benar kurang ajar, Bella.. Tega benar kamu menipu kami!!" tuding ibu Rudy sakit hati ketika mengetahui kebenaran yang sudah terungkap.


Jika cucu yang ia impiankan ternyata anak dari pria lain.


Bella tak tinggal diam. Dengan luka operasi yang masih sakit ia bangkit dari tempat tidur.


Rudy tak peduli. Wajah Bella mengerang menahan sakit pada perutnya.


"Kamu boleh tak mengakui anak itu, tapi.. tapi aku.. aku masih sah istri kamu mas.. aku gak akan pernah mau bercerai dari kamu!!" ucap Bella frustasi dengan berjalan untuk menghampiri sang suami yang terlihat dingin.


Namun sayangnya ucapan itu tak akan pernah meluluhkan hati Rudy lagi. Cukup sekali ia tertipu mulut manis Bella yang telah membuatnya kehilangan wanita spesial.


"Uang?? kau pasti butuh uang, maka akan aku beri, tapi untuk tetap menjadikan kamu seorang istri di keluarga Mahendra, itu tidak akan terjadi lagi!!" tekan Rudy dengan tanpa ragu. Lalu ia menepis tangan sang istri yang sudah menangis kacau.


"Mas Rudy!!"


"Berhenti memanggil nama ku!! KAU TAK PANTAS!!" bentak Rudy murka.


Bella sesegukan menangis di hadapan sang suami yang telah hilang rasa kasih sayang nya.


"Mas.." tangis Bella begitu menyayat hati.


Ibu Rudy mendekat dan dengan kasar memberikan satu tamparan di wajah cantik itu.


PLAAAKKK..


"Akh.. " erang Bella kesakitan.


"Kau.. kau benar-benar murahan Bella!!"


Mendengar ucapan itu, Bella pun menatap marah pada ibu Rudy.


"IBU!! IBU HARUS INGAT JIKA IBU ADALAH OTAK DI BALIK SEMUA KEJAHATAN INI!!" teriak Bella marah.


Ibu Rudy murka dan hendak memberi tamparan untuk kedua kalinya, namun Bella menghindar.


"Kurang ajar kamu, Bella?? kamu!!"


"Kenapa?? apa ibu pikir Bella gak berani??"


"BELLA!!" bentak Rudy marah ketika melihat ibunya di hina. " Sekali lagi kamu berani pada ibu ku, MAKA KAU AKAN BERADA DIPENJARA!!" ancam Rudy.


Bella menyeringai lucu seolah pria ini sudah membuat satu guyonan mengelitik.


"Lakukan!!" tantangan Bella tanpa takut. Lalu ia menatap ibu mertuannya dengan tajam. "Karena ibu mas akan ikut bersama Bella" tukas Bella dengan wajah gila.


Ibu Rudy memucat.


"DASAR PEREMPUAN ******!!" teriak ibu Rudy yang seketika berubah karena sebuah serangan di jantung nya begitu sakit.


"Aakhh.." erang ibu lalu tak lama ia jatuh pingsan.


"IBU!!" seru Rudy dengan cepat menyambut tubuh wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Namun Bella hanya tertawa terbahak-bahak.


"Apa itu acting??" seru Bella bak wanita yang kehilangan akal sehat. Lalu kembali tertawa dengan keras.


__ADS_2