Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Jalur Ninja


__ADS_3

Dan betapa terkejutnya Alia ketika kedatangan tamu yang tak ia sangka.


"Mbak Dinda??"


"Hay.. akhirnya aku tau siapa pengacara bersama mu ketika di acara pernikahanku.." ujar Dinda.


Johan hanya tersenyum kecil.


Alia kian tak bisa berkelit.


"Hm.." Alia hanya bisa tersenyum simpul. "Masuk mbak.. pak Johan.." sambut Alia dengan memberi jalan pada tamu yang tak terpikirkan oleh dirinya.


Kedatangan Dinda tak hanya berdua dengan Johan, ia membawa serta sang asisten jahit. Mbak Nopa dan Mbak Feli. Berikut juga dengan Johan yang membawa Dody, juga 4 orang lain dari kantor yang sengaja ia bawa khusus untuk meramaikan rumah Topan Syahputra.


Namun kehadiran rombongan tamu itu jelas membuat Mbak Susi dan Mbak Puput terkaget. Mereka buru-buru bangun dari duduk santai.


Dengan wajah cemas mereka mencari Alia di antara rombongan yang terlihat orang dari kantor.


Alia segera menghampiri kedua temannya yang terlihat tak nyaman dengan kehadiran rombongan tamu itu.


"Maaf, maaf.. mbak Puput, mbak Susi" seru Alia menghampiri keduanya.


"Siapa mereka Alia?? apa kami sebaiknya segera pulang saja" tanya Puput gelisah.


"Jangan" tutur Dinda dengan senyum. " Jangan pulang yaa.. disini aja, maaf kami jadi menganggu pesta rujak kalian.." ujar Dinda yang mendekat pada Alia.


"Iya.. Mbak puput dan mbak Susi di sini saja gak papa, mereka teman pak Topan.." ceplos Alia.


Sontak wajah kedua teman Alia mematung.

__ADS_1


"Te-teman pak Topan" ulang mbak Susi terbatah.


"Santai saja, kami disini hanya sementara.. lanjutkan saja keseruan kalian.. anggap kami tidak ada.." ujar Dody.


Wajah mbak Susi jadi salah tingkah mendengar ucapan Dody.


"Boleh saya ikut nimbrung?" tanya Dinda tanpa sungkan.


Keduanya reflek mengangguk.


Hingga mbak Nopa dan Feli juga ikut bergabung dan terjadi rumpian hebring ala wanita.


***


Namun tidak dengan Alia yang akhirnya berdiskusi bersama Johan dan Dody.


"Kalian berdua tidak aman jika disini.. jadi aku sarankan, kau dan ibu Topan pindah untuk sementara waktu.." jelas Topan.


"Kalau kalian tidak keberatan, kalian bisa ke apartemen kami.." sambung Dinda yang akhirnya mendekat pada sang suami. "Boleh ya??" tanya Dinda langsung pada Johan.


Johan mengangguk dengan cepat.


"Ya, apartemen kami terbuka untuk kalian.. dan aku rasa Topan juga akan merasa tenang.."


"Mbak Dinda.. tapi ibu Mas Topan.." u


"Tenang, aku mengerti kok, tapi ini yang terbaik dari pada di hotel atau dimana pun.." tukas Dinda menyakinkan.


Alia menghela nafas bimbang.

__ADS_1


"Mungkin memang tidak senyam dirumah, tapi aku percaya kok, kamu bisa tenangi ibu pak Topan.. hm" jelas Dinda kembali.


Beberapa detik akhirnya Alia menyetujui saran pak Johan dan juga istrinya, Dinda.


"Tapi, bagaimana caranya untuk bisa keluar dari rumah ini?? sedangkan rumah ini di awasi.." tanya Alia pada Johan, Dody dan Dinda.


Sejenak Johan berpikir. Begitu pula dengan Dody.


"Apa di rumah ini tidak ada jalur nina??" tanya Johan pada Alia.


"Jalur nina??" ulang Alia bingung dengan istilah yang di ucapakan sang pengacara.


"Hm, jalur ninja..yang tidak perlu lewat pintu depan rumah." sambung Dinda.


Sejenak Alia mengingat denah rumah nomor 15.


"Ada, tapi... di garasi" jawab Alia. "Karena belakang rumah sudah mentok dengan dinding rumah sebelah.."


"Nah.. bisa tuh garasi.." sahut Dody.


"Caranya?" tanya Dinda.


"Biar aku atur.. telfon Kevin suruh mobil nya masuk kegarasi Topan.. karena mobil Kevin paling gelap kacanya.." jelas Dody memberikan idenya.


Johan mengangguk.


"Ya, itu ide yang bagus.. kita keluar dari jalur garasi.. kau dan ibu Topan naik ke mobil Kevin.."


"Lalu bagaimana dengan kunci rumah ini??" tanya Alia pada Johan.

__ADS_1


Johan dengan cepat menoleh pada sang istri.


"Istriku pasti tau caranya.."seru Johan penuh percaya pada sang istri.


__ADS_2