
Dan setelah acara selesai, Alia berganti baju di salah satu kamar hotel dengan di temani ibu Topan dan juga asisten Dinda. Dan tugas Topa adalah membayar semua bill yang di berikan Johan pada dirinya.
Topan menekan nomor pin kartu platinumnya di salah satu ruang hotel.
Ia menyeringai kecil dengan membayangkan wajah licik sang teman yang sukses membuatnya berada di sini.
Tak lama struk Bill itu pun keluar dari mesin pencetak bukti pembayaran.
Seorang petugas wanita tersenyum senang melihat bukti pembayaran itu tercetak sukses. Dan uang sebesar 198 juta masuk mulus ke dalam rek hotel. Ia pun dengan cepat memotong struk itu sembari menarik kartu debit platinum itu dari mesin pembayaran.
"Ini mas, kartu anda dan bukti pembayarannya.. sudah sukses tertransfer" ujar petugas wanita itu ramah.
Topan meraih struk juga kartu atmnya. Ia membaca sekilas dengan kening tertaut.
"198 juta?? bukannya 180 juta?" seru Topan protes.
Petugas wanita itu pun mencoba melihat Bill yang di sodorkan kembali oleh sang pelanggan.
Dan wajahnya terlihat tenang.
"Iya benar pak, 198 juta.."
"Tapi bagaimana bisa?? bukanya di Bill tertulis 180 juta?? mana yang benar??" tanya Topan kembali.
Petugas wanita itu tersenyum, lalu ia kembali mengambil salah satu Bill dari nakasnya lalu memberikan kepada Topan.
"Ini mas, ada Bill dari mini Bar hotel.. ada beberapa tamu yang membuka Bill di sana atas nama anda.."
Topan terhenyak.
"Bill dari mini Bar?"
"Iyya, ini ada beberapa minuman wine Luren dan beberapa cerutu Jerman yang di pesan pelanggan atas nama anda.."
Topan hanya bisa menggeleng.
"Wine?? cerutu??" ulang Topan mengingat siapa yang sangat suka minuman keras itu. "Kevin.." desisnya. "Awas saja kau, nanti.. aku akan balas!!" gumam Topan.
"Ya, ya sudah, terimakasih.." sahut Topan menutup semua pembahasan tentang Bill yang jadi membengkak karena ulah para teman kurang kerjaannya itu.
Petugas wanita tersenyum.
"Sama-sama mas, selamat menempuh hidup baru pak.. selamat malam pengantin.." ucap sang petugas dengan wajah berseri.
Topan hanya mendengar lalu berlalu pergi dengan masih berpakaian nikahnya.
Dan ternyata di ruang tunggu lobby terlihat Alia sudah berganti pakaian dan disampingnya ada ibu Topan.
Topan mendekat pada kedua wanita berharganya itu.
"Sudah siap?"
"Iya mas, kita udah siap.. tapi ada barang Alia sama ibu disana.." tunjuk Alia pada ruang sudut kursi Lobby.
"Ooh, oke.. kalau begitu mas ambil mobil dulu yaa..kalian tunggu di sini.."
Alia mengangguk menyetujui. Topan pun berlalu pergi.
***
__ADS_1
Dan di sepanjang jalan pulang, Alia duduk tenang bersama ibu Topan di belakang.
Topan pun melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Jalanan yang sedikit lenggang membuat mobil Topan meluncur dengan mulus tanpa hambatan.
Sesekali Topan mencuri padang pada sang istri yang duduk menatap luar jendela mobil.
Rasa gelisah juga senang menghinggapi perasaan Topan yang akhirnya membawa pulang sang istri.
Berselang 35 menit, akhirnya roda mobil Topan pun masuk kedalam halaman rumah nomor 15.
Roda berhenti dan sedetik kemudian mesin mobil pun ikut di matikan.
"Yuk.." ajak Topan.
"Ya.." sahut Alia tenang. "Ayo buk kita turun, kita udah sampai dirumah.." ujar Alia pada ibu Topan yang terlihat mengantuk.
Setelah ketiganya turun. Topan membuka kunci rumah itu.
Clek.. pintu rumah terbuka dan Topan masuk kedalam untuk menghidupkan beberapa lampu agar ruangan yang gelap menjadi terang benderang.
Dan tak lama Alia masuk bersama ibu. Namun Alia terkejut ketika melihat ruangan tamu yang biasanya kosong kini telah berjejer beberapa sofa minimali di sana.
Topan menyadari keterkejutan sang istri. Dan itu menbuatnya puas.
"Bagaimana kamu suka??" tanya Topan sembari mendekat.
Alia mengangguk pelan.
"Ini mas yang??"
"Ya" sahut Topan. "Mas sengaja menantap kembali rumah ini seperti sedia kala.. agar kamu senang.."
"Bagus sekali.." puji Alia sembari kian masuk kedalam rumah yang kini lebih terlihat berbeda.
Topan tersanjung.
"Syukurlah kamu suka.." sahut Topan senang.
"Buk, nanti kita jejerin beberapa vas bunga ya.. juga beberapa toples kristal.." ujar Alia pada ibu dengan rencananya.
Namun wanita paruh baya itu hanya melihat tanpa ekspresi.
Topan mendekat pada sang ibu.
"Sepertinya ibu ngantuk??"
Alia menoleh.
"Hm, mungkin ibu kurang istirahat karena acara tadi.. ibu gak nyaman.." sahut Alia.
Topan memijit pundak ibu merasa bersalah.
"Yuk, buk..kita istirahat.." ajak Alia.
"Ya sudah, ibu istirahat saja.." seru Topan.
Alia menantap Topan.
"A-lia, tidurin ibu dulu ya mas.." ujar Alia seolah meminta izin.
__ADS_1
"O-oh..ya.. ya mas juga mau bersih-bersih dulu, terlalu gerah pakai baju ini.."
Alia tersenyum lalu perlahan ia berjalan menuntun ibu Topan menuju kamar istirahatnya.
Topan hanya menghela nafas menantap punggung sang istri, sepertinya ia harus bersabar lagi untuk bisa berduaan dengan sang istri.
"Ya sudahlah.." seru Topan mencoba untuk berlapang dada dan kemudian berlalu menuju kamar utama.
***
Hampir satu jam setengah, akhirnya ibu Topan tidur dengan tenang di kamarnya.
Alia duduk di tepi tempat tidur dengan mengusap pelipis wajah ibu yang akhirnya bisa tidur setelah dua hari tidur gelisah di apartemen mbak Dinda.
Alia tersenyum teduh.
"Senyaman-nyamannya kamar apartemen mbak Dinda.. tetap gak bisa ngalahi nyamannya kamar sendiri ya buk??" tutur Alia bijak.
Alia menghela nafas panjangnya. Lalu ia melihat kesekeliling kamar yang sedikit berantakan karena ibu. Alia pun beranjak dan sedikit merapikan rak pampes ibu juga beberapa baju ibu yang tak tapi.
Setelah semua kembali rapi, Alia pun akhirnya beranjak keluar dari kamar itu, perlahan Alia meninggalkan kamar ibu dengan mematikan lampu terang dan mengantikan dengan lampu tidur.
Pintu di tutup dan seiring perasaan Alia yang lega. Akhirnya tugas mengurus ibu pun selesai.
Dan ketika hendak beranjak pergi dari depan pintu ibu, ia pun terpaku menantap pintu kamar utama.
Seketika Alia gelisah. Ia mengingat jika kini ia adalah istri dari sang pemilik rumah. Dan kini kamar yang ada di hadapannya itu adalah kamar yang juga jadi miliknya.
Perlahan Alia melangkah kakinya memberanikan diri menuju kamar utama.
Namun ketika berada di depan pintu itu, seketika ia merasa ragu.
"Apa mungkin mas Topan sudah tidur??" pikir Alia dengan hendak mengetuk pintu kamar utama.
Alia ragu-ragu ingin mengetuk, tapi ia juga tidak berani jika harus langsung masuk. Rasa-rasanya ia masih tidak percaya jika kini ia menjadi istri sang pemilik rumah.
Alia masih berpikir lama di hadapan pintu dengan bibir yang ia gigit gelisah.
Hatinya berdebar-debar, hingga ujung jarinya terasa dingin.
Sungguh ia serba-salah. Tangannya berkali-kali ingin mengetuk tapi, hatinya masih malu.
Namun ketika Alia masih berperang dengan batinnya sendiri. Tiba-tiba saja pintu terbuka.
Ceklek..
Sontak tubuh Alia mematung.
Dan sosok sang suami pun menantapnya dengna heran.
"Alia??"
"Ya??" sahut Alia spontan.
"Kenapa terus berdiri?? kenapa tidak langsung masuk??" cecar Topan.
"Ya? ah-hm.. itu Alia.." sahut Alia rancau.
Topan tersenyum. Lalu tanpa pikir panjang langsung menarik tangan Alia untuk segera masuk kedalam kamar pengantin.
__ADS_1