
Pada saat itu, Topan sengaja menyuruh sang ibu untuk pergi kekomplek mewah itu seorang diri.
"Dirumah nomor berapa buk??" tanya kang taksi.
"Hm, saya juga lupa.. tadi anak saya sudah bilang..coba saya telfon lagi ya.." ujar ibu Hazah yang saat itu sedang didalam taksi online.
"Hallo nak.."
"Ya, ibu.."
"Rumah teman kamu itu nomor berapa??"
"15 buk.." sahut Topan dari seberang telfon.
"Ooh, iya.. 15 yaa, ibu lupa tadi, ya sudah ibu kesana yaa.." ujar ibu dan tak lama menutup komunikasi itu.
"Pak, rupanya rumah nomor 15" kata ibu sembari menyimpan handphone jadulnya itu kedalam tas.
"Oh, baik buk kita harus muter, karena ini sudah masuk rumah nomor 20 han.."
Ibu hanya mangut-mangut dari bangku belakang mobil taksi itu. Dan tak lama roda kembali berputar arah menuju deretan lorong rumah berangka belasan.
Setelah melewati 3 rumah, barulah sang supir taksi itu berhenti di satu rumah yang tak berpagar.
"Ini buk, rumah nomor 15.." kata pak supir sembari menghentikan roda mobil tepat di depan rumah mewah itu.
"Ini ya pak.."
"Iya buk.."
Ibu pun meraih uang dari saku tas dan memberikannya pada sang supir.
"Terima kasih ya pak" ujar ibu sembari membuka pintu mobil dan berlalu turun.
Ibu turun dengan melihat pada rumah mewah yang cukup membuatnya kagum.
Perlahan, ibu melangkahkan kakinya untuk menuju teras rumah bernomor 15 itu.
"Kok kayak sepi yaa??" guman ibu Topan ragu-ragu. Namun ia menepis ragu dan akhirnya mengetuk daun pintu rumah besar itu.
Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum.." seru ibu dari depan pintu.
"Wa'alaikumsalam.." sahut seorang pria dari dalam rumah itu.
Tak lama, terdengar pintu rumah di buka. Dan seorang pria muda berdiri dengan wajah ramah menyambut ibu Topan.
"Ibu Hazah.."
Ibu terkaget.
"Ah, iya saya ibunya Topan Syahputra.."
"Iya..iya, silahkan masuk buk.." sambut pria muda itu dengan membuka pintu lebih lebar.
Ibu masih terlihat tenang.
"Tadi saya baru saja di telfon Topan, katanya ibu sedang menuju kemari.."
"Ah, iya.. saya tadi sempat muter, ternyata salah masuk lorong.."
"Oh, iya..iya.." sahut pria muda itu mangut-mangut dan membawa ibu Topan kedalam rumahnya.
"Jadi gimana buk sudah siap untuk saya tunjukkan rumah ini??" tanya pria muda itu apa adanya.
Ibu Hazah terkaget bingung.
"Hah?? maksudnya tunjukkan rumah?"
Pria muda itu tersenyum.
"Iya, karena kata Topan kalau ibu suka berarti ia juga suka.."
Ibu masih terlihat bingung.
"Maksudnya gimana ya?? saya kurang paham?? karena tadi kata Topan hanya menyuruh datang saja.. saya juga bingung memangnya ada apa ya??" tanya ibu yang balik bertanya.
Pria muda itu tersenyum simpul.
"Jadi Topan belum cerita sama ibu??"
"Cerita apa?"
"Topan ingin membeli rumah saya ini, tapi jika ibu suka.."
Ibu Hazah syok.
"Be-beli rumah mewah ini? tapi?"
Dan tak lama terdengar derap langkah dari ruang depan. Sehingga pria muda itu melihat dengan senyum.
"Itu Topan, silahkan ibu bertanya sendiri.."
Ibu Hazah berbalik dengan wajah kaget.
__ADS_1
"Topan??"
"Ibu.." sahut Topan dengan mendekat pada sisi sang ibu. "Gimana? suka sama rumahnya??"
Wajah ibu Hazah tak bisa berkata-kata, ia masih tak percaya.
"Ka-kamu uang dari mana? ini rumah pasti mahal Topan.." ujar ibu yang takut.
Topan merangkul pundak sang ibu.
"Tenang buk, ibu tinggal jawab suka apa tidak??"
Ibu Hazah menelan salivanya dengan wajah gusar.
"Kamu?? serius?"
Topan mengangguk pelan.
"Suka gak buk??" tanya Topan kembali pada poin awal.
Ibu Hazah berbinar tak percaya, ia melihat dengan cepat pada sekeliling ruang yang masih kosong. Rumah yang cukup besar dan mewah, sehingga pasti harganya sangatlah mahal.
"Su-suka.." jawab ibu bergetar.
"Deal.." sahut Topan dengan wajah bahagia.
Dan pria muda itu pun langsung tersenyum lembar.
"Selamat buk, ibu udah jadi ibu-ibu orang kaya.." goda Topan pada sang ibu yang seketika menangis harus di pelukan sang putra yang sukses membuatnya terharu luar biasa.
"Kamu.." seru ibu kesal dengan godaan sang putra dengan linangan air mata.
"Jangan nangis dong, buk.. ibu harus senang, kita sudah punya rumah sekarang.. ini rumah ibu.. Topan beli untuk ibu.."
Ibu kian terrenyuh.
"Jangan.. ibu bukan rumah ibu, ini rumah kamu.. ini dibeli dengan hasil keringat kamu.."
"Tapi semua berkat doa ibu.. " potong Topan. "Karena doa ibu, Topan bisa mendapatkan semua dengan mudah. "Tolong jangan berhenti doa ya buk.."pinta Topan dengan mengecup pucuk kepala sang ibu yang terus berderai air mata.
Pria muda itu pun ikut terharu melihat moment yang cukup langka.
"Baik pak Topan, apa langsung kita proses?"
"Ya.." sahut Topan dengan cepat.
Pria itu pun mengangguk dan berlalu untuk mengambil sesuatu yang sudah ia siapkan.
"Nanti di sana kamar ibu, dan di sana itu jadi kamar Topan.."
"Topan.."
"Ya, bu??"
"Menikahlah.."pinta ibu dengan wajah haru.
Untuk beberapa saat Topan terdiam.
"Ibu tau, kamu sudah punya kekasih.. jadi menikahlah.."
Topan masih menimbang dalam diam.
"Biar ibu ada temen.. di rumah sebesar ini, dan ibu juga udah pengen liat cucu.." kata ibu.
Topan hanya tersenyum simpul sembari menghela nafas panjangnya.
"Satu-satu ya buk.."
***
Berselang 2 tahun, Topan menikah. Namun didalam pernikahan itu terjadi perselisihan yang membuat sisi ibu Hazah sedih.
Sang menantu, tak begitu menerima hadirnya. Sering kali ibu Hazah mendengar pertengkaran kecil sang putra dan menantu karena hal sepele.
Dan lagi-lagi karena keberadaannya yang mulai menjadi beban.
Perlahan ibu Hazah sering lupa dan menbuat masalah baru.
Ia sering lupa jalan pulang kerumah. Sehingga membuat sang menantu jengkel yang harus mencari ibu mertuannya karena perintah sang suami.
***
Dan di satu hari yang tak akan pernah Topan lupa. Ketika ibu di bawa kesalah satu dokter.
"Gejala Alzaimer.." ucap sang dokter dengan raut wajah berbeda.
Deg..
Untuk sesaat waktu di sekitar Topan dan ibu berhenti. Kedua ibu dan anak itu merasa dunia mereka runtuh.
"Alzheimer adalah penyakit progresif, bertahap dari waktu ke waktu dan menyebabkan lebih banyak bagian otak yang rusak. Karena itulah gejala yang muncul menjadi lebih parah.." jelas dokter pelan.
Topan dan ibu mencoba mencerna dengan awam.
"Penyakit progresif yang menghancurkan memori dan fungsi mental penting lainnya. Koneksi sel otak dan sel-sel sendiri merosot dan mati, akhirnya menghancurkan memori dan fungsi mental penting lainnya.. dan ibu perlahan akan melupakan semuanya" sambung dokter menjelaskan dengan bahasa lebih mudah di pahami.
__ADS_1
Tanpa sadar air mata ibu jatuh.
"Apa bisa sembuh?" tanya Topan tanpa rasa takut.
Dokter menggelengkan kepalanya dengan wajah prihatin.
"Sejauh ini, tidak ada pengobatan yang dapat menahan atau menyembuhkan penyakit Alzaimer itu.."
Ibu kian terguncang. Dan perlahan ibu terisak di sisi sang putra yang tak bisa berkata-kata apa-apa.
Dan sang dokter hanya bisa melihat wajah kesedihan di wajah ibu dan anak itu.
Setelah selesai dari pemeriksaan dan mendengar semua penjelasan sang dokter.
Ibu dan anak itu pulang dengan perasaan hampa. Tak sepatah kata keluar dari kedua.
Sesampainya dirumah, Topan masuk kedalam rumah dengan langkah dingin meninggalkan sang ibu begitu saja.
Ibu menantap dengan wajah sedih.
***
Setelah mengetahui bahwa ibu gejala Alzaimer. Dan akhirnya pertengkaran hebat antara menantu dan putranya kian sering terdengar.
"Mas aku capek, capek ngurus ibu kamu yang udah mulai lupa.. kamu gak mikir gimana jijiknya aku urus kotoran ibu kamu yang udah mulai lupa kekamar mandi???"
"AKU GAK MUNGKIN JADI SUSTER IBU KAMU YANG PIKUN ITU!!" bentak sang istri pada Topan.
PLAK!! untuk pertama kalinya Topan menampar sang istri.
Wajah Topan berubah marah mendengar bentukan sang istri dengan nada yang cukup tinggi.
"Jika kau tak bisa menerima ibu ku, maka kau keluar dari rumah ini!!" tukas Topan dengan mata kemarahan yang sudah memuncak. "Kau bebas melanjutkan rencana karir murahanmu itu!!" ucap Topan tanpa belas kasih pada sang istri yang dulu begitu ia gilai.
Ibu yang melihat hal itu begitu hancur.
Hingga malam harinya setelah pertengkaran hebat itu, ibu mendekat pada sang putra yang duduk di meja makan dengan lampu remang.
"Kamu kok belum tidur nak.." tanya ibu yang membuyarkan lamunnya sang putra.
Topan bersikap acuh.
"Ibu istirahat saja.." perintah Topan dingin dan beranjak dari duduknya hendak berlalu pergi.
"Topan.." tahan ibu dengan tangannya bergetar.
Topan terkaget dan menantap wajah sang ibu yang berusaha kuat.
"Bi..Bisakah kamu mengantar ibu ke panti jompo??"
Deg.. Topan terpaku.
"Ibu..ibu gak papa kok, ibu sadar jika istrimu pasti berat merawat ibu yang sudah banyak lupa.."
"Ibu??"
Ibu tertunduk pilu di hadapan sang putra.
"Tolong.. tolong antar ibu kepanti jompo, ibu.. ibu tak ingin kalian terus bertengkar.. tolong jangan jadi kan ibu duri dirumah tangan kamu nak? karena jika istrimu menangis, maka kamu akan sangat berdosa.." ucap Ibu dengan derai air mata yang tak bisa ia bendung.
Topan memeluk sang ibu hatinya hancur tak terbilang. Sungguh ujian yang cukup berat.
"Gak akan buk.." peluk Topan dengan kuat pada wanita yang kian menua.
"Topan hanya punya ibu.." ucap Topan dengan hati yang sangat hancur.
***
Namun, pada akhirnya Topan menceraikan sang istri dan memulai hari-hari terberat merawat sang ibu.
Dan dunia Topan pun berubah total. Kesedihan dan kesabaran yang lebih besar untuk melewati hari-hari bersama ibu yang mulai lupa.
Hingga pada satu pagi, Topan pun tak bisa berkata-kata.
Di saat ia ingin mengurus ibu dan memberikan obatnya. Ibu diam dengan tatapan kosong.
"Si-apa??" tanya ibu polos pada wajah yang ia rasa asing.
Topan terpaku.
Ibu melepaskan tangannya dari genggaman sang putra dengan rasa curiga.
"buk?? ini.. ini Topan buk.."
"Pan??"
Topan mulai gelisah. Ia meraih tangan sang ibu dan dengan hati kalut ia berusaha bertahan dengan segala kekhawatiran.
"Topan buk, anak ibu.. " ucap Topan dengan suara parau ada sesak yang tak bisa ia jelaskan ketika sang ibu menatap dengan tatapan asing.
Namun wanita itu melepaskan tangannya dan wajah ibu berubah takut.
Air mata Topan jatuh. Akhirnya wanita yang telah melahirkan dirinya kedunia ini, melupakan memori tentang anaknya.
FLASH BACK OFF
__ADS_1