Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Tunggu aku


__ADS_3

Dan pagi harinya semua menjadi heboh.


Kejadian semalam membuat Alia jadi tak enak pada Dinda dan suaminya pak Johan yang jadi tidur di lantai karena menemani ibu Topan.


"Maaf yaa mbak Dinda.." seru Alia tak enak.


Dinda tertawa kecil.


"Gak papa, lagiankan ibu pak Topan gak sadar.. namanya ibu sudah rindu sama anaknya.."


Alia mendengar perasaan berkecambuk. Ia sampai mengingat mengapa ia tak sadar jika ibu Topan?? apa sebegitu lelapnya ia tidur hingga tidak menyadari ibu Topan keluar dari kamar.


"Sudahlah Alia.. siap-siap.. karena Johan akan mengantar kita ke tempat Topan.."


"Ah, iya mbak Dinda.." sahut Alia sungkan. "Tapi sekalian lagi maaf ya mbak, dan makasih banyak sudah mau mengerti ibu.."


Dinda hanya tersenyum dan ia menikmati susu hangat di pagi hari bersama sang teman.


***


Dan akhirnya, mobil mewah milik Johan pun tiba di satu tempat yang berbeda.


Alia melihat sekilas dan merasa asing pada tempat yang belum pernah ia lihat.


"Kita sudah sampai.." seru Johan.


Dinda menoleh kebelakang.


"Ayo kita turun.." ajak Dinda dengan senyum.


"Iya mbak.." sahut Alia lalu ia pun menoleh pada Ibu Topan. "Ayo bu.. kita mau ketemu mas Topan di sini.." ajak Alia pada ibu Topan yang hanya diam sedari tadi.


Wanita paruh baya itu hanya mengikuti tanpa menolak. Tangannya mengenggam erat jemari Alia yang menuntun langkahnya.


***


Setelah melewati beberapa izin.


Akhirnya rombongan Johan di bawa ke satu ruangan yang berbeda.


Terlihat wajah Alia gelisah menunggu. Dan tak beberapa lama, seorang petugas membawa sosok yang di tunggu.


"Mas Topan.." bisik Alia.


"Ibu?? Alia??" seru Topan yang mendekat pada keduanya.


Namun ternyata ibu Topan langsung memeluk sang anak.


Topan terkaget melihat reaksi ibu yang tak pernah ia sangka.


Dinda, Johan juga Alia hanya melihat moment rindu sang ibu pada anaknya akhirnya dapat bertemu kembali setelah sekian lama tak berjumpa.


"Ibu? ibu sehat?" tanya Topan dengan mengusap pundak ibu yang memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Ibu Topan menegadah dan menatap wajah sang anak.


Ia menyentuh wajah sang anak dengan wajah Topan dengan wajah sendu.


"Sakit?? gak papa??" seru ibu seolah menenangkan putranya dari satu luka.


Topan hanya bisa terbengong mendengar tiap ucapan sang ibu.


"Ibu rindu banget sama mas" ujar Alia.


Topan menantap.


Johan dan Dinda juga ikut mengangguk.


"Beliau sampai terbangun tengah malam mencari kamu, pan.." jelas Johan.


Wajah Topan berubah iba.


"Ibu?? masih ingat sama Topan??" tanya Topan penuh harap.


Ibu Topan tak menjawab, ia sibuk merapikan baju yang di kenakan sang anak.


"Ibu??" panggil Topan kembali untuk mendapatkan hal yang sangat ia harapkan.


Namun sang ibu hanya terlihat fokus pada apa yang ia lihat tanpa memberi respon pada sang anak.


Dan wajah Topan pun berubah kecewa. Ia hanya menyentuh lembut pundak sang ibu yang kini terlihat kurus.


"Bagaimana sel baru?? apa lebih nyaman?" goda Johan sengaja mengubah suasana.


"Yaa, lumayanlah.. tidak terlalu buruk tidur di tikar.."


Alia kaget.


"Mas tidur di tikar?"


Topan dengan cepat merespon.


"Yaa setidaknya tidak langsung lantai.." sahut Topan mengubah.


***


Obrolan hangat itu pun bergulir. Pembahasan tentang sidang kemarin pun masih terselip di sela-sela obrolan mereka.


"Sekarang Rudy harus berurusan dengan hukum.. dan itu butuh proses yang panjang dan memelahkan.." ujar Topan.


Johan mengangguk menyetujui ucapan sang teman.


"Tapi.. itu jalan yang ia pilih sendiri.. jadi sudah seharusnya ia bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan.."


Alia tertegun. Sekilas ia mengingat mantan ibu mertua dan dua mantan adik iparnya Rara dan Rio.


"Keluarga mas Rudy pasti akan sangat pusing jika mas Rudy tidak ada.." tutur Alia keceplosan.

__ADS_1


Topan menantap wajah Alia.


"Sepertinya akan seperti" sahut Topan yang mengenal orang tua Rudy juga keluarganya.


"Waktunya habis.." seru salah seorang petugas memberi peringatan pada Topan.


Ke empatnya pun reflek tersadar.


"Ah, ternyata 30 menit itu sedikit sekali.." celetuk Johan.


"Kau sudah rindu aku masuk kerja yaa??" celetuk Topan.


Johan menatap sinis.


"Kau pikir aku senang menjenguk mu di sini.."


Topan ikut tertawa.


"Ah, aku pikir kau ikhlas.."


Johan berdecak lalu hanya bisa tersenyum sekilas.


"Sudahlah.. nikmati waktumu dan banyak-banyaklah merenung.." tukas Johan dengan menepuk pundak sang teman.


"Kau pikir aku disini karena sudah membunuh orang??" cibir Topan kesal.


Johan akhirnya tertawa mendengar jawaban ketus sang teman.


Lalu ia berlalu pergi bersama ibu Topan yang mulai akrab dengan dirinya.


"Jaga kesehatan pak Topan, kami pulang dulu.."


"Terimakasih mbak Dinda.. khususnya karena telah menerima ibu dan Alia dirumah mbak.."


Dinda hanya tersenyum simpul lalu berlalu pergi ngikutin sang suami yang telah berjalan sedikit jauh.


Hingga hanya meninggalkan Alia yang masih di sana.


Topan menantap Alia. Begitu juga Alia yang menatap sang kekasih.


Perlahan Topan menarik nafas panjang dan meraih jemari Alia.


"Tunggu aku pulang.. hm" ucap Topan berat.


Alia mengangguk pelan.


"Ibu dan Alia, akan ada dirumah untuk menunggu mas pulang.." sahut Alia dengan lembut.


"Terimakasih Alia" ucap Topan tulus. "Terimakasih atas semua yang telah kamu lakukan.." seakan ingin memeluk tubuh wanita yang telah banyak terluka di hadapannya ini.


Alia menyentuh wajah Topan dan sebuah senyum hangat pun terbingkai seolah ingin memberi ketenangan pada pria yang sudah begitu banyak berkorban untuk dirinya.


Topan tak bisa berkata-kata hanya bisa menantap lekat wajah yang akan ia rindukan selama berada di penjara 1 bulan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu" bisik Topan.


__ADS_2