Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Rindu


__ADS_3

Dan hari-hari menunggu sang pengacara pun di mulai. Setelah berdebat panjang dengan mbak Dinda dan pengacara Johan, akhirnya Alia dan ibu Topan pun kembali kerumah nomor 15


Entah mengapa, dirumah yang terlihat kosong namun bagi Alia rumah itu telah banyak menyimpan moment manis.


Kini Alia mengurus ibu Topan dan menjaga rumah itu tetap hidup. Walau nyatanya sang pemilik tidak berada di sana.


Alia berusaha terbiasa dengan kondisi itu. Berdua dengan ibu Topan melewati hari-hari yang terasa panjang. Ya, menunggu bukanlah satu hal yang mudah jika yang di tunggu adalah orang yang terkasih.


Alia berusaha untuk terlihat ceria di hadapan ibu Topan dan membuat wanita tua itu melupakan sedikit rindunya pada sang putra.


Sesekali Alia memperlihatkan beberapa video yang sempat ia simpan di handphone pada saat moment Ulang Tahun Topan.


Ibu melihat dengan ekspresi datar, namun terlihat jelas jika di matanya begitu mendalam sosok sang anak yang tengah meniup lilin.


Hari-hari terlewatkan begitu saja, dengan hati yang masih terus merindu dengan menanti kepulangan Topan.


Jika di siang hari Alia bisa menyimpan segala rindunya, namun jika di malam harinya Alia akan merasa berat melewati rasa rindunya.


Setiap kali ia melewati pintu kamar utama yang merupakan kamar Topan, ia akan mengingat wajah sang pengacara yang selalu tersenyum hangat setiap kali keluar dari kamar itu.


Seperti di malam ini, ia berdiri dan menantap lama pada pintu kamar Topan.


Ada rasa rindu yang tak bisa ia ucapankan, ada rasa kosong yang akhirnya membuat Alia sadar ternyata sosok Topan sudah memenuhi seluruh hatinya.


Suaranya, tatapannya, tawanya dan perhatiannya membuat Alia lupa jika pria ini adalah pria yang telah membuatnya menjanda dan harus melewati semua cobaan terberat.


Ia menyentuh daun pintu itu.


"Alia rindu.." bisiknya dengan suara lembut.


***


Di lain sisi, di tempat berbeda Topan yang sedang rebahan hanya bisa menantap langit-langit ruang sel itu.


Dingin, pengap dan rasa tidak nyaman pun kini harus Topan lewati.


Pikirannya terbang merindukan rumahnya, kamarnya dan kekasih hati juga sang ibu.


Hela nafas Topan berhembus pelan sembari bangun dari rebahannya.


Dan ternyata didalam sel tersebut ia dikumpulkan bersama beberapa teman tahanan yang lain.


Terlihat jika mereka bukanlah penjahat yang mengerikan. Beberapa wajah dari mereka sekilas sangat sering terlihat di media sosial.


Entah kasus yang seperti apa sampai mereka bisa berada di sana, tak ada yang tau.


Namun seorang pria mungkin seusia dengan dirinya duduk mendekat pada Topan.


Topan tak berkata apa-apa hanya membiarkan pria itu duduk di sampingnya.


"Sangat tidak enak, ya.." kata pria itu.


"Hm.." sahut Topan mengiyakan.


"Kau sudah lama??"


"Hampir 3 minggu.." sahut Topan.

__ADS_1


"Ohh.."


Dan keduanya sama-sama menghela nafas panjang.


"Ternyata hidup bebas itu benar-benar berarti.." ujar pria itu.


Topan mengangguk.


"Aku Yuda.."


"Topan.."


"Pekerjaan mu?"


Topan sedikit jeda ketika menjawab.


"Pengacara.."


Yuda berdecak tak percaya.


"Kau pengacara tapi??"


Topan menyeringai bodoh.


"Ya begitulah.. tidak ada yang benar-benar bisa menahan emosi.."


Yuda tertawa renyah.


"Kau memukul orang.. "


Topan mengangguk pelan tak menapik tebakan teman saru selnya itu.


Dan kedua pria itu pun tertawa lucu dengan menertawakan diri sendiri.


Obrolan keduanya pun bergulir. Hingga dini hari.


"Jadi kau melawan Rudy Mahendra??? wah aku tidak percaya.." seru Yuda.


Topan hanya tersenyum simpul.


"Dia benar-benar musuh dalam selimut, beberapa anak buah ku di ambil tanpa sepengetahuan ku.."


Topan diam dan hanya mendengar, karena semua cerita Yuda sudah Topan ketahui. Bagaimana tidak, ketika dulu menjadi pengacara pribadi Rudy Mahendra, Topan lah yang membersihkan semua kasus yang di buat oleh para musuh Rudy.


"Ah, aku merasa senang, akhirnya Rudy kena batunya.." umpat Yuda. "Tapi kau benar-benar sangat berani Topan, aku dengar Rudy memiliki pengacara handal.. sehingga beberapa kasus yang dulu aku tuntut kalah dengan telak.."


Topan kembali tersenyum kecil. Andai Yuda tau jika pengacara Rudy terdahulu adalah dirinya, bisa jadi Yuda akan musuhinya.


Sejenak keduanya terdiam.


"Mmh.. sudah larut malam, pasti anak-anak sudah pada tidur dengan nenek mereka.." ucap Yuda.


"Kau sudah menikah.." tanya Topan.


"Ya.. aku sudah menikah dan memiliki dua orang anak perempuan.." jawab Yuda tenang.


Sejenak Yuda terdiam dalam lamun.

__ADS_1


"Tapi, sayangnya istriku, malah berkhianat.." sambut Yuda.


Topan dan Yuda sama-sama terdiam.


"Jika sudah keluar dari sini, aku akan menuntut cerai dari istri dan mencari pengacara handal agar dia tidak bisa mendapatkan hak asuh anak-anak.."


Topan mendengar lalu sejenak berpikir.


"Jika kau tidak keberatan, aku bisa jadi pengacara mu.." kata Topan menawarkan.


Yuda menoleh heran.


"Aku spesial pengacara perceraian.. mudah bagi ku untuk memenangkan kasus perceraian seperti ini.."


"Kau serius.."


Topan mengangguk.


Seketika Yuda lega.


"Baik, aku mau memakai jasa pengacara mu.."


"Setelah aku keluar dari sini, aku akan memproses kasus mu.." ucap Topan santai.


Yuda tersenyum licik.


"Bagus.. aku senang mendengar ucapan mu teman baru.."


"Tapi, dengan satu syarat.."tutur Topan serius.


Yuda terpaku.


"Apa??"


Topan menarik nafas panjang.


"Tolong pinjamkan aku bantal kepala mu, aku sudah beberapa malam tidur tidak enak karena tidak ada bantal.."


Sontak Yuda tertawa lepas.


"Ah, kau benar-benar unik teman.. jika hanya bantal silahkan kau ambil, aku tidak masalah.. "


"Terimakasih atas kemurahan hati mu.." sahut Topan melucu.


Yuda pun mengambil bantal kepala miliknya lalu menyerahkan pada Topan.


Topan pun menerima dengan senyum terkembang. Sudah sangat lama ia merindukan bantal empuk untuk tidur. Harusnya bisa saja ia menitipkan pada Kevin atau Johan, namun ia merasa sengan karena hal kecil itu akan membuatnya jadi bahan bulan-bulanan nantinya.


Dan malam ini, lagi-lagi harus Topan lewati di dalam sel. Namun berkat bantal yang di pinjamkan Yuda, cukup membuat Topan merasa sedikit nyaman.


Didalam hati, Topan bersumpah akan tidur 3 haru 3 malam sampai puas. Dan ia juga berjanji akan memesan semua makan terenak setelah masa tahanan ini selesai.


Dan ia juga berjanji akan masuk kantor lebih rajin dan bekerja dengan semangat untuk membalas kerinduannya pada dunia pengacara.


"Tunggu.. aku pasti akan mewujudkan semua keinginanku itu.." gumam batin Topan.


"Dan aku pasti akan menikahi Alia, sesegera mungkin.. dan memeluknya setiap malam" timpal Topan dengan perlahan memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Dan dalam hitungan detik, Topan pun tertidur lelap. Sungguh tidur yang nyaman setelah mendapatkan bantal pinjaman.


__ADS_2