Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Tim Sibuk


__ADS_3

Keesokan paginya di ruang kerja Johan, Topan menghadap sang atasan.


"Ada apa?? sampai pagi-pagi sekali kau di ruangan ku??"


Topan terlihat tenang.


"Berikan aku amplop kemarin.."


"Hm?? amplop??" tanya Johan mengulang bingung.


Topan mengambil jeda sembari menatap Johan.


"Aku setuju untuk mengambil tugas di tempat baru.."


Untuk beberapa menit Johan mencerna.


"Kau? se-rius?" tanya Johan hati-hati.


Topan mengangguk pelan.


"Setelah aku pikir-pikir, keputusan untuk pindah tidaklah terlalu buruk.."


Johan tersenyum lega.


"Ya, syukurlah kau menerima ide ku.." sahut Johan senang.


"Tapi, izinkan aku menyelesaikan beberapa kasus yang sudah aku janjikan dengan para klien.."


Johan mengangguk menyetujui. Menyelesaikan semua tugas sebelum pergi adalah hal terbaik dan meninggalkan kesan seorang profesional.


"Dan.." ucap Topan tergantung.


Johan kembali di buat cemas.


"Dan dalam minggu ini, aku akan menikahi Alia.. aku harap kau dan istri mu bisa datang.."


Johan hanya bisa mematung di kursinya.


"I-ni kabar yang cukup bagus.." sahut Johan kaku, namun ia hampir tidak percaya. "Aku turun senang mendengarkannya"


"Terimakasih, jika tidak ada hal lain, aku pergi.."


"Hm, ya silahkan.." sahut Johan.


Dan Topan pun pergi berlalu dari ruangan kerja Johan.


***


Dan malam harinya. Di satu apartemen yang biasanya tenang tiba-tiba terdengar suara sang nyonya rumah terkejut.


"APA??" seru Dinda terkaget bukan kepalang. "Alia?? Alia akan menikah minggu ini??"


Johan jadi ikut kaget karena suara sang istri.


"Sayang?? tenang sayang.." seru Johan mencoba menenangkan sang istri yang tiba-tiba terlonjak kaget dari duduk tenangnya di sofa.


"Mas, nikahnya gak bisa secepat itu, Dinda.. Dinda sudah janji bakal jahit baju pernikahan untuk Alia.. tapi jika dalam beberapa hari mana bisa Dinda selesaikan?" tutur Dinda yang baru saja mendengarkan berita terjegger dari sang suami.


"Mas tau kan, paling cepat jahit baju nikah itu 1 bulan.. 1 bulan loh mas, itu juga desainnya udah sesimpel-simpelnya dengan payet mutiara yang gak terlalu.." tutur Dinda gusar.


"Ya, tapi itu keputusan mereka berdua sayang.." jelas Johan menenangkan.


"Tapi.." protes Dinda yang tak bisa menerima. Johan pun menarik tubuh sang istri yang duduk sedikit berjarak dengan dirinya. Lalu dengan manja memeluk tubuh sang istri dari belakang dan menjatuhkan dagunya dipundak Dinda.


Dinda cemberut.

__ADS_1


"Dengar.. inti menikah adalah hati, perjanjian juga ucapan sakral.. jangan mempersulit lagi jalan niat mereka.." bisik Johan manja pada pundak sang istri.


Dinda terdiam dengan masih sulit menerima. iya memang benar apa yang di katakan Johan, 100% benar, tapi hati Dinda ingin sekali membuat hari bahagia Alia begitu spesial dengan desain baju istimewanya.


"Kau tau.. aku juga pernah berada di posisi itu.. " bisik Johan memejamkan matanya.


Dinda mengeliat dengan hendak melihat sang suami.


"Jadi, dukung saja niat mereka" pinta Johan.


Dinda menghela nafas tak ikhlas.


"Alia sudah seperti adik bagi Dinda, dia yang dulunya datang dengan wajah bahagia lalu berubah datang dengan wajah sedih.. tiap dia datang, dia hanya mencari teman untuk bisa melupakan sesak yang mengukung hatinya .." ujar Dinda bernelangsa mengingat masa-masa pertemanannya dengan Nyonya Alia. " Dia orang tertulus yang pernah Dinda jumpa.."


Johan mendengar semua ucapan sang istri.


"Dan kau, juga wanita tertulus yang sudah aku miliki.." Johan berbisik dengan mata masih terpejam.


Dinda mengidik dan ingin berbalik untuk melihat sang suami yang masih betah memeluknya dari belakang.


"Johan.." bisik Dinda hendak berbalik dengan mencoba lepas dari kedua lengan Johan yang masih mengunci pinggangnya.


Namun akhirnya Johan mengalah dan melepaskan pelukanya.


Dan akhirnya Dinda dapat menantap wajah sang suami dengan masih cemberut.


Johan menghela nafas, ia tau betul sikat kekeh sang istri.


"Baiklah.. kita akan buat sedikit pesta kejutan untuk keduanya.."


Seketika wajah Dinda ceria.


"Terimakasih, Johan Bastian.. love you sooo much" puja Dinda dengan senyum terkembang.


Johan hanya menantap.


"Kenapa? liat gitu?" tanya Dinda sedikit mengidik bahunya dan mencoba untuk sedikit mundur.


"Memang kenapa?" Johan berbalik tanya.


Namun gerakan Dinda kalah cepat dengan gerakan tangan Johan yang telah menahan lengan sang istri.


Kedua mata Dinda melebar.


"Kau tau kan?? tidak ada yang gratis di dunia ini.. " tutur Johan dengan menarik Dinda untuk mendekat.


Dan tak lama, Johan mengecup bibir sang istri dengan penuh kasih.


Sesaat Dinda tak bisa berkutik, ia hanya bisa pasrah pada hasrat sang suami tak bisa ia tahan lebih lama. Perlahan Dinda mererai ciuman itu.


Johan tertahan dengan nafas sedikit tersengal.


"Janji ya?"


Kening Johan tertaut dengan tak percaya.


Dan malam perjanjian itu pun terjadi.


***


Keesokan paginya. Rumah nomor 15 terlihat tenang dan aman.


Sang pemilik sudah pergi untuk bertugas seperti biasa. Sedangkan Alia masih dengan rutinatas menjaga ibu sang kekasih.


Namun selisih di waktu yang sama, tiba-tiba saja pintu rumah itu kedatangan tamu yang tak di duga.

__ADS_1


Tok..tok..tok..


Alia yang baru saja membereskan dapur belakang pun terkaget mendengar suara ketukan yang terdengar tidak sabar.


Tok..tok..tok..


"Siapa ya?" bisik Alia sembari berjalan menuju pintu rumah.


Pedal pintu di raih dan tak lama pintu itu pun terbuka.


Wajah Alia seketika pun terbengong.


"Mbak Dinda?" serunya yang menyambut tamu tak terduga.


Dinda berdiri dengan wajah sendu.


"Mbak Dinda, tiba-tiba kerumah ada apa?"


"Kamu mau nikah, tapi gak kasih tau aku.. jahat kamu" tuding Dinda ceplas celpos.


Alia terpaku tanpa bisa berkata.


"Mbak.."


"Ck, sudah.. ayo ikut aku.. kamu bisa di sini bersama calon suami.."


"Hah?? maksudnya?"


Dan melihat reaksi kaget Alia, Dinda pun langsung to the poin. Kedatangannya ingin menjemput Alia dan ibu Topan untuk tinggal bersama, sampai hari pernikahan.


***


Di ruang kantor Pengacara Bastian. Topan di hadang oleh seorang Security dan Dodi.


"Maaf pak Topan, anda dilarang masuk.. ini perintah Pak Johan.." ujar sang Security.


"Dodi? jangan bercanda.. aku sedang tidak punya waktu lagi.."


"Lebih baik kau pulang.." seru Johan dari belakang.


Topan berbalik.


"Kau akan menikah, jadi aku beri kau cuti dua hari sampai hari pernikahan" ujar Johan dengan melewati Topan begitu saja.


"Hey!!" Topan protes.


"Dodi, angkat saja.. suruh dia pulang.." titah Johan.


Dodi dengan cepat menahan Topan yang masih memaksa untuk masuk.


"Turuti saja.. jarang-jarang Johan bermurah hati.." tukas Dodi.


Topan menghela nafas.


Dan tak lama, terdengar suara nada telfon dari handphone Topan.


Topan merogoh saku untuk meraih phonselnya. Keningnya berkerut lalu dengan cepat mengangkat telpon dari sang kekasih.


"Ya, Alia??" sahut Topan.


Namun tak lama wajahnya berubah kaget lagi.


"APA? kamu bakal berada dirumah si JOHAN itu??" Topan terkejut.


Dodi hanya bisa menahan tawa melihat Topan bak kebakaran jenggot.

__ADS_1


"Maaf Topan, ini perintah Nyonya Johan, jadi Johan pun tak bisa membantah akan permintaan sang istri.." gumam batin Dodi sembari melihat wajah melongos Topan.


__ADS_2