Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Segera


__ADS_3

Keesokan paginya.


Aktivitas di rumah nomor 15 berjalan seperti biasa. Walau sang ibu Hazah masih tetap tidak selera makan.


Namun Alia dengan sabar menuntu wanita paruh baya itu untuk sarapan pagi.


Di sela-sela Alia memberi makan sang ibu majikan, ia terlihat gelisah. Tampak jelas jika kegelisahan Alia itu bersumber pada pintu kamar utama yang gak kunjung tampak sang pemiliknya.


Alia gelisah menunggu mas Topan.


"Tumben ya, mas Topan lama" gumam batin Alia gelisah sembari kembali fokus pada tugas mengasuh sang ibu majikan.


"Ayo, ibu makan sedikit lagi.." ujar Alia sembari membantu wanita tua itu agar sendok makan kedalam mulutnya.


Tak beberapa lama, terdengar suara pintu kamar sang Majikan terbuka.


Clek...


Sontak Alia menoleh. Dan sosok yang sedari tadi di tunggu pun muncul dengan wajah sendunya. Sesaat tatapan keduanya bertemu.


Deg.. Alia sedikit gugup, tidak lebih tepatnya ia jadi salah tingkah di hadapan sang majikan.


"Pagi, Alia.." sapa Topan.


"Hm, pagi mas.." sahut Alia berusaha tenang.


Perlahan Topan berjalan menuju meja makan.


"Pagi ini ibu bagaimana?? apa masih tidak mau makan??" tanya Topan dengan menghampiri sang ibu.


Alia reflek bangun dan berubah canggung.


"Hm, iya tapi.. pagi ini ibu makan mas, gak nolak.. mungkin udah kerasa lapar karena beberapa hari makannya sedikit.." jelas Alia.


Topan menatap lekat sang ibu yang tak peduli pada kehadirannya dan menatap kosong pada sendok di tangannya.


"Syukurlah.." sahut Topan lega. Lalu sesaat ia menatap jam tangannya dan terlihat bersiap.


"Ibu, Topan pergi dulu yaa..baik-baik di rumah sama Alia.." ucap Topan dengan membersihkan wajah sang ibu dengan tangannya dan bersiap untuk pergi.


Alia menantap dengan gelisah.

__ADS_1


Dan sesaat pandangan Topan bertemu dengan Alia.


"Mas pergi dulu ya.." ujar Topan dengan berlalu pergi.


Alia masih di tempatnya dengan terpaku.


"Ayo, Alia.." bisik batin Alia yang berperang dengan dirinya sendiri.


Langkah kaki Topan kian jauh menuju pintu depan rumah.


Alia kian ragu-ragu.


Hingga ketika langkah Topan telah sampai di depan pintu dan tangannya hendak membuka pedal pintu tersebut, seketika Alia yakin.


"Tunggu!!" seru Alia dari meja makan yang akhirnya menahan sang majikan.


Topan seketika berbalik dan menatap Alia dari arah pintu depan.


"Tunggu, mas" pinta Alia dan akhirnya ia berjalan menuju Topan.


Kening Topan tertaut heran. Hingga akhirnya Alia tiba di hadapan Topan.


Beberapa saat Alia menarik nafas panjang.


"Mas.."


"Hm, ya??"


"Alia ingin menjelaskan soal semalam.." ucap Alia tergantung.


Topan terpaku.


"Kenapa?? a-pa? a-pa kau tak.." respon Topan yang seketika gelisah mendengar ucapan Alia.


"Ah, mmh.. Alia rasa setelah Alia pikir lagi.. Alia.."


"Kau tak ingin menikah?" potong Topan yang tak ingin ucapan itu keluar dari bibir ranum sang pembantu. "Kau masih merasa takut??" sambung Topan yang seolah membaca cepat arah pembicaraan wanita dihadapannya ini.


"Ah, bu-bukan.. bukan begitu.." sela Alia.


Kening Topan tertaut bingung.

__ADS_1


Alia menatap lekat wajah sang majikan dengan hela nafas yang dalam. Lalu perlahan ia meraih lengan Topan dan menatapnya dengan penuh arti.


"Ya, Alia mau mas menjadi suami Alia.." tutur Alia dengan penuh ketenangan.


Beberapa saat Topan terpanah dan tak lama sebuah senyum terbingkai di wajahnya.


"Kau serius??"


Alia mengangguk.


Topan kembali tersenyum lega.


"Aku begitu senang.."


Alia akhirnya tersenyum.


"Apa mas begitu menyukai Alia?"


Topan mengangguk.


"Hm, sangat suka.." jawab Topan tanpa ragu.


Alia kembali tersenyum.


"Mas, ayo kita segera menikah.." seru Alia.


Topan terpanah.


"Apa kau sudah tidak takut?"


"Tentu saja Alia takut, apa harus Alia katakan lagi??" tanya Alia dengan jeda menatap bola mata sang majikan. "Tapi untuk kali ini akan Alia coba jalani.. bersama mas, untuk kembali membina suatu hubungan pernikahan" sambung Alia dengan yakin.


Seketika wajah Topan berubah lega dan tanpa sadar ia menitikkan air mata di hadapan sang pembantu.


Melihat hal itu, dengan tanpa ragu Alia memberi pelukan pada sang majikan. Hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.


Topan benar-benar mendapatkan hati sang kekasih utuh.


Namun di tengah-tengah keharuan moment itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pada daun pintu rumah Topan.


Tok..tok

__ADS_1


__ADS_2