
Setelah gagal mencari Alia, kini Rudy pun terlihat kecewa di depan sang perawat reseptionis.
"Maaf mas, tapi dari info pasien Topan Syahputra dari kamar VIP baru saja keluar.."
"Apa?" seru Rudy kecewa. " Bagaimana bisa??"
"Di sini tertulis jika dr. Irsan memberi izin pasien pulang karena sudah sehat.."
Rudy menghela lelahnya. Lelah karena mengejar sang mantan istri juga lelah karena sang pengacara yang sudah keluar dari rumah sakit.
Rudy mengalah dengan mengangguk paham.
"Ya sudah, terima kasih mbak.."
"Sama-sama mas.." sahut wanita itu ramah.
Rudy pun berlalu pergi meninggalkan loby reseptionis itu.
Jalan begitu tak semangat kembali menuju mobil yang telah menunggu dirinya di luar gedung rumah sakit.
Rudy masuk kedalam mobil mewahnya. Dan sang supir membawa laju mobil dengan sangat nyaman.
Rudy duduk dengan menlonggarkan dasi yang terasa begitu mencekik lehernya.
"Sekarang kita kemana pak??" tanya sang supir pada sang majikan.
Rudy diam tak menjawab, tatapanya begitu nanar. Dan tak lama terdengar hela nafas berat Rudy berhembus kasar seolah membuang kekesalan hatinya.
"Terserah kamu saja, kemana pun, asal tidak pulang.." ujar Rudy dengan nada datar.
Sang supir sekilas melihat raut wajah sang majikan dari kacaspion tengah. Dan terlihat wajah lesu dan kecewa di sana. Tatapannya kosong menatap jendela luar mobil.
__ADS_1
Melihat hal itu sang supir pun hanya bisa membawa laju mobil pelan agar sang majikan tenang merenungi semua masalahnya.
Sedangkan Rudy masih mengingat sosok sang mantan istri yang baru saja ia lihat tadi. Wajah wanita yang telah ia lukai perasaannya.
"Apa ini hukuman buat ku??" gumam Rudy dengan hati yang merindukan sang mantan istri.
Seketika Rudy memejamkan matanya, ia ingin memenangkan pikirannya yang terbang membayangkan sang mantan istri, Alia yang lagi-lagi hilang di depan matanya.
***
Malam harinya. Setelah menidurkan ibu Topan dengan tenang. Akhirnya Alia keluar dari kamar itu.
Hari ini tubuhnya agak sedikit lelah, Alia berpikir untuk segera naik kekamar dan beristirahat.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat sang majikan Topan baru saja keluar dari kamarnya.
Keduanya sama-sama terjegat canggung.
"Hm, iya mas.. mungkin kecapean jadi tidur cepat"
"Oh.." Topan hanya bergumam kecil.
Sekilas Alia melihat sebuah plastik kecil di tangan Topan.
"Mas mau minum obat?"
Topan kaget.
"Hm.. ya"
"Kalau begitu biar Alia ambil air minumnya.."
__ADS_1
"Jangan.." tolak Topan.
Langkah Alia tertahan.
"Jangan, biar mas saja..kamu sudah bisa istirahat"
Alia menatap dengan wajah penuh tanya.
Topan mengatupkan bibirnya dan sebuah senyum bias pun terkembang perih.
"Untuk sekarang dan seterusnya, tolong.." ucap Topan tergantung berat dengan mengambil jeda bernafas. "Tolong jangan tunjukkan perhatian mu pada mas..apa pun itu.."
Alia terpaku mendengar permintaan sang majikan.
Topan tersenyum kecil.
"Maaf karena pengakuan mas, kamu pasti merasa terbebani.. dan mas merasa bersalah, karena telah melukai kebaikan kamu.."
Kening Alia tertaut gusar.
Topan menatap Alia dengan senyum yang kuat.
"Kamu jangan merasa bersalah.. Mas yang akan bertanggung jawab pada perasaan mas sendiri, walau butuh waktu tapi.. Mas akan berusaha agar kamu merasa nyaman kembali.." ucap Topan dengan tulus.
Sesaat tatapan Alia begitu teduh menatap Topan.
"Selamat malam, Alia" ucap Topan yang akhirnya pergi dari hadapan Alia dengan berlalu menuju dapur belakang.
Dan disaat Topan berlalu pergi melewati Alia, ada rasa sesak yang tak bisa Alia jelaskan.
Namun Alia tak mengerti dan ia pun melangkah untuk menuju kamarnya.
__ADS_1