Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Perjuangan hidup dan mati


__ADS_3

Dan memulai hari-hari baru di tempat baru menjadi awal perjalanan yang cukup panjang. Adaptasi pada satu tempat ternyata cukup menyita perhatian Topan dan Alia.


Di satu rumah kompleks yang cukup bagus, Alia menjalani hari-hari dengan rasa bahagia. Menanti buah hati yang akan segera lahir beberapa minggu lagi. Dan Topan dengan kesibukan kantor baru juga tugas barunya yang cukup berat.


Alia mulai berbaur dengan tetangga di sekeliling rumahnya. Keramahan para tetangga cukup membuat Alia betah. Bahkan dari kedekatan itu Alia terbantu dalam memilih dokter kandungan dan kegiatan yang membantu untuk kesehatan ibu hamil, seperti senam juga yoga.


Di satu malam. Topan yang baru saja selesai mandi, akhirnya keluar kamar dengan telah di sambut sang istri yang setia menunggunya di meja makan.


"Hari ini kamu jadi ketemu bidan itu??"


"Jadi mas.." sahut Alia dengan memberikan piring pada sang suami yang baru saja duduk di kursi makan.


Topan menerima dan meletakkannya di hadapan.


"Tapi, apa kamu yakin mau lahiran normal??"


Alia mengangguk dengan wajah tenang.


"Tapi.." Topan terlihat gelisah. "Melahirkan secara normal katanya lebih sakit??"


Alia tersenyum.


"Yaa, namanya juga kodrat.." jawab Alia apa adanya.


Topan menghela nafas. Ada rasa khawatir yang liar bisa yang kini sedang menguasai sang calon ayah baru. Hitungan kehamilan sang istri yang kian dekat dengan HPL membuat ia tak tenang.


"Besok ada pembantu baru.." ujar Topan.


Alia terkaget.


"Pembantu baru??"


"Iya, kamu gak bisa ditinggal sendiri begini.. kakak yang menyetrika baju itu udah gak masalah, tapi ini pembantu untuk selalu ada dirumah buat jaga kamu.."


"Maksudnya pembantu yang tinggal disini??"


Topan mengangguk.


"Untuk apa mas?? Alia rasa gak perlu, Alia masih sanggup buat kerjain semua.."


"Kamu sedang hamil tua sayang.." potong Topan tegas.


Alia terdiam.


"Mas tidak ingin, pikiran mas kemana-mana selama mas tinggal kerja.. mengerti??"


Alia tak menjawab, sifat tegas sang suami sangat kentara seolah sosok tegas seorang pengacara tengah mencecar Alia.


Melihat Alia diam dengan pandangan tertunduk membuat Topan merasa bersalah. Ia tau betul sifat Alia yang lebih sensitif jika sedikit saja suaranya bernada tegas.


Topan beranjak dari duduknya dan menuju tempat duduk sang istri yang terlihat tertunduk.


Topan seketika turun dan berlutut di hadapan Alia. Ia meraih jemari calon ibu dari anak-anak.


"Maaf.." ucap Topan pelan dengan menatap raut wajah Alia yang sendu. "Maksud mas.. Mas ingin ketika mas diluar kamu ada yang lihat, kita tidak tau kapan bayi kita akan lahir.. setidaknya ada orang dekat yang bisa membantu kamu kapan pun.." jelas Topan lembut.


Jemari Topan mengelus perut sang istri.


Tatapan Alia berbuah teduh dan ia menyentuh jemari sang suami.


"Maaf ya mas.." ucap Alia pelan.


Topan menengadah.


"Karena Alia sudah buat mas begitu khawatir.."


Topan menghela nafas sembari tersenyum simpul.


"Mas hanya punya kamu dan bayi kecil ini.." ucap Topan sembari mengubah jemarinya untuk mengenggam jemari Alia. "Kalian berdua adalah prioritas mas.."


Alia tersentuh. Tangan Alia yang bebas menyentuh wajah sang suami. Lalu perlahan menjatuhkan satu kecupan pada kepala Topan.


"Ya, Ayah.. Bunda akan patuh" ucap Alia dengan memantap lembut wajah sang suami.


Keduanya saling memberi senyum penuh arti dengan tangan saling menggengam seolah menguatkan satu sama lain.


***


Selang 1 minggu kemudian. Di satu pagi terlihat wajah Topan gusar.


Namun sang istri dengan santai mempersiapkan perlengkapan baju sang suami kedalam koper.


Topan harus ikut klien ke Malaysia. Namun hatinya begitu berat dengan melihat sang istri.


Alia menutup koper sedang itu lalu beranjak pergi mempersiapkan sarapan untuk sang suami.


Topan masih sibuk dengan telfon yang sedari tadi menyita waktunya.


Hingga pada akhirnya Alia menyuapi sang suami dengan sereal.


Topan tak bisa berkelit, ia pun makan dari suapan sang istri yang terlihat tenang-tenang saja mengetahui sang suami akan dinas.

__ADS_1


Hingga akhirnya Topan harus pergi, Alia masih setia menemani sampai depan pintu rumah mereka.


Topan mengecup bibir sang istri. Lalu turun untuk mengecup perut sang istri yang sudah terlihat bulat sempurna di kehamilan yang sudah cukup usianya.


Wajah Topan gelisah, namun wajah Alia terlihat tenang.


"Cuma 3 hari.." ucap Topan berat sehingga kembali mengulang perkataan yang sudah beberapa kali ia ucapankan pagi ini.


"Iya, gak papa.. Mas fokus saja, kalau ada apa-apa Alia pasti langsung telfon mas.." sahut Alia.


Namun Topan tak bisa setenang itu meninggal sang istri yang sudah hamil tua.


"Bik, kalau ada apa-apa kabarin saya cepat ya" pesan Topan pada pembantu baru yang ia impor dari Jakarta berkat bantuan Johan dan Dinda.."


"Iya pak.." sahut sang pembantu yang siap.


Topan kembali menantap sang istri.


"Mas pergi ya.."


Alia mengangguk pelan. Jemari Topan masih setia mengusap wajah sang istri. Lalu perlahan tangan itu melepaskan sang istri yang berdiri di depan teras rumah.


Langkah Topan beranjak dengan berat.


Alia dengan setia memberikan senyum hangat pada sang suami yang kian menjauh menuju mobil yang sudah sedari tadi menunggunya.


"Dah.. Ayah" seru Alia.


Topan hanya bisa tersenyum bias. Ia masih tak bisa berkata-kata melihat sang istri yang begitu kuat, sedangkan ia masih saja cemas.


Dan akhirnya Topan berlalu pergi.


***


Namun baru satu hari kepergian Topan Dinas.


Pada pagi hari kedua. Alia yang masih tertidur terlihat gelisah. Ia merasa jika perutnya sedikit tidak nyaman.


Ada rasa yang begitu kuat yang sesekali ia rasakan.


Karena hal itu, Alia bangun dari tidurnya. Ia ingin minum segelas susu hangat, mungkin akan membantu meringankan sakit perutnya.


Namun ketika akan membuka pintu kulkas. Seketika rasa sakit yang begitu kuat kembali terjadi.


"Akh.." desis Alia yang reflek memegang perutnya. Tubuh Alia bereaksi dengan rasa sakit yang kuat itu.


Alia mencoba menenangkan diri, ia melihat pada perutnya.


"Apa?? apa sudah waktunya?" tanya batin Alia.


"Nyonya??" seru bibik yang terdengar kaget ketika melihat sang nyonya rumah telah memiliki tanda akan melahirkan dari kakinya yang keluar cairan deras.


***


Di tempat berbeda. Topan yang sedang bersiap untuk melakukan satu tugas pentingnya pagi ini.


Di kejutkan dengan satu telfon yang tak terduga.


"APA??" serunya terkejut. "Lalu bagaimana dengan Alia??"


"Nyonya sudah dirumah sakit tuan.."


"Baik, aku akan segera pulang.." kata Topan tegas di tengah kecemasannya. Dan komunikasi itu pun terputus.


Tak lama Topan menelfon seseorang sepagi itu.


***


Di sisi lain. Alia kini terbaring di salah satu kamar rumah sakit. Ia terlihat tidur menyamping dengan mata yang sengaja ia pejam untuk menahan gelombang cinta yang sesekali ia rasakan.


Menurut para perawat yang memeriksa kondisi Alia. Jalan lahir masih terlalu jauh, ya itu masih pembukaan 4. Hal itu terjadi karena jalan lahir yang masih sempit, sehingga dari beberapa wanita membutuhkan waktu lebih lama agar jalan lahir terbuka sempurna. Dan mereka menyarankan untuk bersabar dengan tetap tenang dan pengaturan bernafas.


Dengan sabar Alia mematuhi perintah itu, ia mengelus lembut perutnya.


"Sayang, bantu Bunda yaa.. kita sama-sama harus kuat" bisik batin Alia yang mencoba bertelepati dengan sang calon bayi yang akan segera lahir kedunia ini.


Namun menjelang siang, tak banyak yang berubah. Jalan lahir bayi Alia hanya bertambah 1 yaitu menjadi pembukaan 5.


Sang perawat menyarankan Alia untuk berjalan-jalan agar jalan lahir dapat terbuka dengan cepat.


Namun ia merasa tak sanggup, sungguh sakit yang sudah kian terasa kuat membuatnya lemah.


Sang Bibik pembantu membantu mengusap punggung sang majikan yang terlihat lemah.


"Nyonya, sabar yaa.. tuan sedang dalam jalan pulang" kata sang bibik seolah memberi semangat.


Jemari Alia mengenggam ujung selimut dengan gelisah. Bagian intinya begitu perih, sehingga tubuhnya tak kuat menahan sakit yang luar biasa itu.


Dengan sesekali merintis sakit, Alia berusaha kuat untuk melewati fase pembukaan yang begitu lama.


***

__ADS_1


Hingga menjelang sore, akhirnya sosok yang di nanti pun tiba.


Topan dengan langkah tergesa mencari kamar persalinan.


Hatinya gelisah tak terbilang. Ketika mendengar suara rintihan di balik kamar persalinan.


Seorang perawat menahan langkah Topan.


"Maaf pak, tidak bisa masuk.."


"Saya suami Alia Zatifah, istri saya sedang melahirkan.."


"Oh, baik.. pak, silahkan" sahut sang perawat dengan membuka pintu.


Topan masuk dan akhirnya ia mendapatkan wajah sang istri tengah mengejang kesakitan di kamar persalinan.


Terdengar suara seorang dokter wanita memberi instruksi pada Alia yang tengah bertaruh nyawa di sana.


"Ayo.. tarik nafasnya lagi ibu" instruksi sang dokter yang berada di depan pintu kelahiran sang bayi.


Bibik yang menemani seketika kaget melihat sang tua sudah berada disana.


"Nyonya, tuan sudah pulang.." serunya lega.


Wajah Alia yang sudah bersimbah keringat dingin pun menoleh dengan wajah kesakitan.


Topan segera mendekat dan langsung meraih jemari Alia yang memegang pinggiran tempat tidur.


"Sayang??"


"Mas?" seru Alia dengan wajah yang akhirnya menangis.


Ada rasa yang tak bisa ia ungkapkan. Alia benar-benar lelah, lelah dengan tenang yang benar terkuras untuk berjuang melahirkan sang buah hati.


Topan langsung mengecup kening sang istri untuk menenangkan.


"Aku disini!!" ucap Topan memberi dukungan pisikis Alia yang terlihat kelelahan.


Dan tak lama rasa sakit luar biasa kembali menerjang Alia. Seketika tubuh Alia mengejang kembali seolah terpanggil untuk berjuang.


"Ya.. ibu lagi..tarik nafas lagi"


Alia kembali menurut dengan berusaha kuat dengan tubuh yang kian lemah.


Jemari Topan merasakan kuatnya cengkraman sang istri.


Terdengar rintihan sakit dari bibir Alia yang tak bisa ia tahan.


"Aaahmmm.."


Topan pun ikut merasakan ketegangan situasi proses melahirkan yang begitu menguras tenang.


Ia berkali-kali mengusap wajah Alia yang kembali menyerah.


"Ayo buk, sedikit lagi.. "


"Alia??" bisik Topan kembali mencoba membantu. Ia mengusap jemari sang istri yang kembali kehilangan tegangannya.


"Ayo, buk.. udah mau kepala udah kelihatan.." ujar sang dokter. "Ayo pak, beri semangat ibunya.."


Topan beranjak dan langsung menantap wajah kelelahan Alia. Ia mengusap wajah yang nyaris pucat dengan keringat dingin disana.


Topan kembali menautkan tangannya.


"Sayang?? maaf sudah membuatmu sesakit ini" ucap Topan dengan air mata yang tanpa sadar jatuh.


Alia menantap di antara sadarnya. Terlihat Topan mengusap lembut perutnya yang membulat sempurna. Sekilas ia melihat seolah sang suami berbisik di sana.


Lalu tak lama kembali Topan mengecup kening Alia lembut.


Alia hanya bisa merasakan. Namun tak lama rasa sakit luar biasa menerjang tubuh Alia untuk kembali terkesiap menerima tekanan yang mendesak dibawah sana untuk segera keluar.


"Aaaa.." erang Alia kesekian kalinya. Namun kali ini ia harus bisa lebih kuat lagi.


"Ya Tuhan.. Bunda, ibu.. tolong.." jerit batin Alia yang mengedan dengan tenang yang tersisa.


Tak lama sesuatu keluar dengan sangat cepat dan Alia terengah-engah setelah berhasil mengeluarkan sang buah hati.


"Lahir.. bayinya lahir.. " ujar sang dokter senang dan langsung memberikan sang bayi di atas tubuh sang ibu yang terlihat hampir kehilangan kesadarannya.


Suara tangis bayi pun terdengar nyaring dan kuat. Beberapa perawat ikut bahagia. melihat moment yang bahkan sudah sering mereka lihat.


Topan menangis dengan memeluk Alia yang menerima buah hati mereka yang akhirnya lahir dengan selamat dan sempurna.


Alia menangis luar biasa haru, tak dapat ia berkata-kata ketika dapat merasa dekapan bayi merah yang baru saja ialah lahirkan.


"Selamat sayang, sekarang kau benar-benar jadi seorang ibu" bisik Topan dengan suara bergetar.



Assalamualaikum, dari Rayden Musyaffa, bb 3,5 kg.. doakan Rayden jadi anak yang soleh yaa tante-tante online 😘😘

__ADS_1



Rayden dan ayah Topan 😘😘


__ADS_2