Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Terasa kosong


__ADS_3

Dan benar, Topan benar-benar menepati janjinya. Tiba-tiba keberadaan Topan hilang dari rumah nomor 15 itu.


Setiap pagi, Topan akan kekantor di jam 6 pagi. Ia pergi lebih cepat dan tak pernah muncul lagi di meja makan seperti biasa.


Dan ketika malam harinya, Topan juga pulang lebih telat di jam 10 malam. Ia tak pernah lagi muncul di dalam rumahnya sendiri.


Alia yang tidur di kamar atas dapat mendengar dengan jelas deru mesin mobil sang majikan yang akhirnya pulang di larut malam.


***


2 minggu pun berlalu, dan keberadaan sang majikan benar-benar hilang dari dalam rumah nomor 15 itu.


Hingga suasana itu membuat ibu Topan yang biasanya tak peduli akhirnya merasakan kekosongan.


Dan pagi itu, ibu Topan duduk di kursi makannya dengan memandang kosong pada kursi yang biasa putranya duduk.


"Ibu.. ayo di makan.." seru Alia dengan membantu tangan ibu majikan untuk memegang sendok. Namun tampaknya ibu tidak begitu berselera untuk sarapan. Ia terus menatap pada kursi kosong sang putra.


Alia yang berada di samping ibu majikannya menyadari hal itu.


"Apa ibu menunggu mas Topan??" tanya Alia dengan ikut melihat pada kursi yang kosong itu.


Ibu Topan menoleh pada Alia dengan ekspresi datar.


"Ibu rindu mas Topan??" tanya Alia dengan perasaan bersalah.


Tak ada jawaban, namun dari tatapan ibu terlihat jika wanita tua itu sedikit kehilangan sosok sang anak.


Alia menghela nafas panjangnya sembari meraih jemari sang ibu majikan.


"Alia akan telfon mas Topan.. ya??" kata Alia dengan sekilas menatap kursi tempat majikan.


Ada rasa kosong yang benar-benar terasa ketika sosok pria itu tidak berada di tempatnya. Tempat yang selalu jadi nadi dirumah ini. Tempat dimana pria itu harusnya lebih dekat dengan sang ibu.


Namun kini, tempat itu kosong. Tidak, tempat itu sengaja kosong karena perjanjian yang sampai saat ini membuat Alia resah. Alia tak mengerti dengan permintaan Topan untuk menahannya pergi dari rumah ini.


"Karena mas, tidak suka kamu bertemu kembali dengan Rudy.." Alia mengingat ucapan sang majikan dengan begitu jelas.


"Ada apa sebenarnya?" lirih Alia ketika menatap kamar utama milik sang majikan dengan perasaan yang tak menentu.


***


Siang harinya entah mengapa ibu Topan yang biasanya akan sangat antusias ketika menonton TV Discovery Cannel. Namun siang ini ia hanya duduk termenung di kamarnya.


Hingga tak lama ia pun tertidur karena obat yang ia minum.

__ADS_1


Setelah ibu tidur dengan tenang, sekarang giliran Alia yang gelisah. Ia menatap layar handphonenya dengan gusar.


Jemarinya mengetik nama sang majikan. Namun tak lama terdengar suara ketukan pintu.


Tok..tok..


Alia yang tengah memandang layar handphonenya pun terkejut.


Tok..tok..


"Ya" sahut Alia dari dalam rumah sembari berjalab menuju pintu depan rumah.


Ceklek.. pintu terbuka dan sosok pria di hadapannya sedikit terkejut.


"Hallo, selamat siang.. saya Kevin staff bawahan Pak Topan" ujar Kevin memperkenalkan diri.


"Oh, ya.. hm, ada apa yaa?" jawab Alia ragu.


Pria bernama Kevin itu pun tersenyum simpul.


"Saya ada titipan dari pak Topan untuk di berikan pada anda, mbak Alia"


Alia terkaget ketika pria asing ini mengenal namanya.


Kevin mengeluarkan sebuah amplop putih dan memberikannya pada Alia yang terlihat bingung.


"Ini??"


"Saya tidak tau, tapi pak Topan hanya berpesan agar memberikan amplop ini pada mbak Alia"


Alia menerima dengan bingung.


"Pak Topan sedikit sibuk belakangan ini dan.." ucap Kevin terpotong ragu. "Ah, saya pamit dulu mbak Alia.." timpal Kevin terburu-buru.


Alia mengangguk dengan cepat.


Dan pria itu yang tidak terlalu tinggi itu pun membalikkan tubuhnya. Namun tak lama, langkah Kevin berhenti dan kembali berbalik.


"Mbak Alia.." panggil Kevin dengan nada berbeda.


"Ya??" sahut Alia yang sedikit terkaget ketika hendak menutup pintu.


"Boleh saya berbicara sedikit, tentang atasan saya?"


Alia sedikit menimbang.

__ADS_1


***


Dan malam harinya, Alia duduk termenung di taman belakang yang kian terlihat asri.


Pikirannya terbang dengan mengingat ucapan staff sang majikan. Ia di buat bingung dengan pernyataan pria yang datang tadi siang.


Alia menghela nafas panjangnya, pikiran begitu rumit tak menentu. Padahal harusnya ia tenang-tenang saja dengan kondisi ini, namun nyatanya ia merasa ada yang kurang dan membuatnya kosong.


Tak lama, terdengar suara kunci pintu depan terbuka.


Klek..klek.. dan perlahan pintu terbuka.


Alia menoleh dan sosok yang sudah hampir 2 minggu tak ia lihat akhirnya muncul dari balik pintu itu.


Topan masuk dengan tubuh yang tak fit.


Alia berjalan dan akhirnya mengagetkan Topan yang dapat melihat kembali sang pembantu di hadapan dirinya.


"Alia??"


"Mengapa mas Topan seperti ini??"


Topan mendengar tak mengerti.


"Maksud kamu?"


Alia menantap sang majikan dengan lekat.


"Mengapa mas Topan menghilang?? ini rumah mas Topan, harusnya mas bebas berada dirumah mas sendiri.. dan ini" ucap Alia dengan menunjukkan amplop putih di atasan Alia.


Topan hanya diam menatap sang pembantu.


"Apa sampai harus seperti ini? sampai mas menyuruh staff mas untuk memberikan gaji Alia.." cecar Alia dengan sedih.


Topan terpaku, terlihat jelas Alia meluapkan kemarahannya.


"Alia ini hanya seorang pembantu mas, jadi jangan perlakukan Alia terlalu berlebihan seperti ini..Alia.." ucap Alia tergantung gusar.


"Aku menyukaimu.." ucap Topan yang akhirnya membuka suara dan seketika rasa pusing di kepala Topan kian kentara.


Alia terkejut dan sedetik kemudian Alia reflek mendekat pada sang majikan yang terlihat kesakitan.


Tubuh Topan terhuyung.


"Mas Topan!!" pekik Alia dengan berlari dan sedetik kemudian Topan roboh di pelukan sang pembantu.

__ADS_1


__ADS_2