
Beberapa hari berlalu, Rudy sedang bersiap di depan cermin. Sebuah earphone portabel bertengger di daun telinganya.
Sebuah pembicaraan penting pun terjadi antar Rudy dan sekertaris.
"1 minggu, jadi alihkan semua kegiatan untuk minggu depan.."
"Tapi pak??"
"Aku butuh refresing, otakku sudah GILA Jimmy!!" hardik Rudy marah.
Sang sekertaris seketika bungkam dari sebrang telfon.
Sesaat keduanya diam.
Rudy pun merasa bersalah akan nada tingginya tadi pada orang yang salah.
"Maaf, Jim..kau sudah tau aku sudah sangat Depresi.."
"Baik pak, akan saya bereskan.."
"Terimakasih.."
Dan tak lama komunikasi itu pun putus begitu saja. Rudy menatap lama pada cermin yang memantulkan dirinya.
Sorot mata depresi itu terlihat jelas, wajah yang tak pernah lagi terlihat segar, Rudy kehilangan dirinya sendiri.
Sekilas ia mengingat ucapan seorang teman.
"Bagaimana jika kau ikut dengan kami, minggu depan kami ada kegiatan camping" ujar Delon salah satu teman minum Rudy.
Rudy tak mengubris, ia sudah lama meninggalkan hobi masa mudanya itu.
"Disana, kau bisa menenangkan pikiran ..sembari menikmati pemandangan kabut pagi yang disinari oleh matahari terbit.." ujar Delon memberi bayangan.
Rudy menggeleng sembari hendak meneguk minuman dari gelasnya lagi, kegiatan fisik itu pasti akan sangat menguras tenaga dan melelahkan. Dan Rudy tak suka, hobi yang baru saja ia tekuni adalah minum.
Namun dengan cepat, Delon menahan gelas Rudy.
"Jika kau terus meneguk minuman ini, maka selamanya kau akan tenggelam dengan pikiran bersalahmu itu.."
Rudy menantap Delon.
Delon menarik gelas Rudy dan meletakkannya dengan kasar.
"Kau bukan Rudy yang aku kenal, kau sudah terlalu banyak berubah.."
Rudy menyeringai kecil. Seolah menertawakan ucapan sang teman.
"Lusa, aku akan menjemputmu.." ujar Delon dengan mengeluarkan beberapa uang dan meletakkannya di atas meja bar.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya Rudy setengah sadar dari pengaruh alkohol.
Delon menatap Rudy.
"Aku akan bawanu ke camp move on.."
Kening Rudy tertaut bingung.
"Camp Move On?"
"Ya, aku akan membuatmu sadar, bahwa wanita tidak hanya Alia saja!! masih banyak wanita baik yang mau menerimamu yang sudah jadi pecundang!!" cecar Delon kesal.
Rudy malah tertawa lepas.
Sungguh ia tak pernah melihat Delon sekesal ini pada dirinya.
"Hahaha.. kau ini, benar-benar kurang ajar Delon.." ujar Rudy yang tertawa dengan ekspresi kosong.
Delon tak membalas, ia membiarkan sang teman menertawakan ucapannya. Namun Delon merasa kasihan pada Rudy yang sudah banyak kehilangan jati dirinya.
Rudy tak sadar jika ia bukan lagi sosok pria yang percaya diri. Setelah hasil test reproduksi keluar dengan nilai buruk, di saat itulah Rudy Mahendra jatuh. Tidak hanya itu, rumah tangganya hancur karena ke egoisan dan semua kian hancur dengan kebohongan yang ia tau dari perempuan yang merusak rumah tangganya.
Dan hari ini, mau tidak mau Rudy harus mengikuti kemauan Delon yang sebentar lagi akan menjemput dirinya.
"Camp Move on??" gumam Rudy menyeringai. "Awas kau Delon, jika aku tidak bisa move on, maka saham mu akan aku jual!!" ucap Rudy dengan nada mengancam.
Rudy pun kembali bersiap dengan menyusun beberapa peralatan yang mungkin di butuhkan saat berada di camp move on itu.
***
"Iya, tapi kenapa harus sampai 1 minggu, terlalu lama.." jelas ibu yang berat.
"Gak kok, gak lama.. siap acara camp selesai Sinta langsung pulang.." sahut Sinta.
"Tapi masa dr. Sarah dan nak Agung gak ikut.. biasanya kegiatan apa pun pasti ada dr. Sarah.." tanya ibu merasa heran.
Sinta menantap lama.
"Gak selalu lah, buk.. Sinta dan Sarah udah beda.. gak mungkin semua harus sama, Sarah punya kehidupan sendiri apa lagi dia mau nikah.."
"Nikah?" sahut ibu terkejut. "Kapan?? sama siapa??" tanya ibu benar-benar kaget.
"Sama mas Agung.."
Ibu memantung.
"Nak..nak Agung?"
Sinta sudah dapat membayangkan ekspresi ibu yang kaget. Ibu selama ini mungkin secara tidak langsung mengetahui jika sang putri menaruh hati pada pemuda baik hati itu.
__ADS_1
"Jadi ibu mengartikan? kenapa Sinta harus pergi ke camp ini.."
Ibu mendekat dan memegang pundak sang anak dengan wajah khawatir.
"Sint.."
"Udah buk, jangan dibahas.." elak Sinta yang merasa tak siap untuk membahas permasalahan ini dengan sang ibu.
"Tolong izinkan Sinta pergi, untuk bisa tenangin diri.."
Ibu menantap sendu.
"Ya.. ibu.. ibu tidak bisa menghalangi kamu, kamu lebih tau diri kamu sendiri.."
Sinta terpaku, lalu ia pun memeluk ibu dengan erat.
Ada rasa sesak di hati yang sulit ia jelaskan, mau bercerita rasanya sudah tidak bisa. Karena sedari awal cerita ini memang sukar untuk dijelaskan hingga pada akhirnya semua sudah berakhir tanpa sempat memulai.
"Titip botol jamu Sinta ya bu, beberapa udah ada yang punya.. mereka bakal ambil sore.."
Ibu mengangguk.
"Iya.. kamu hati-hati, kabarin ibu.."
"Ya..Sinta pergi dulu ya bu.."
***
Sore harinya, ibu Sinta masih kedatangan pelanggan jamu sang anak.
"Jadi mbak Sinta stop jualan dong buk??"tanya seorang pelanggan wanita yang sedikit terkejut ketika melihat instastory bakul jamu langganannya tutup untuk beberapa hari kedepan.
"Untuk beberapa hari saja.."
"Yaah, padahal mau pesen banyak, karena ada temen saya yang dari Australia baru pulang dan penasaran banget sama jamu mbak Sinta.." jelas pelanggan wanita itu sedikit kecewa.
"Kapan pulangnya ya buk??"
"Hm, saya juga gak tau kapan pastinya.. mungkin minggu depan.."
"Hah?? minggu depan? lama banget dong.."
Dan tak lama seorang pria baru datang dengan wajah kaget mendengar percakapan ibu dan wanita muda di rumah Sinta.
"Sinta gak ada dirumah buk?" tanya Agung.
Ibu Sinta kaget mendengar suara Agung. Lalu tak lama mengangguk pelan membenarkan pertanyaan Agung.
Merasa terlalu aneh Agung langsung meraih handphonenya untuk menghubungi sang teman yang tiba-tiba pergi tanpa ada berita.
__ADS_1
Dan wajah ibu hanya memandang nanar pada pria yang berhasil membuat perasaan anaknya sedih. Hingga memilih untuk menjauh dan pergi menenangkan diri.