Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Ibu butuh perhatian


__ADS_3

Di satu pagi. Topan bersiap-siap untuk ke pengadilan pagi ini. Kasus kali ini sedikit ribet dan sulit menurut Topan.


Bagaimana tidak, seorang suami menggugat cerai sang istri karena ketahuan berselingkuh dengan anak kandungnya sendiri.


Kasus yang langka namun sungguh ini terjadi dan membuat Topan tak habis pikir. Namun jika di teliti kembali, mungkin saja terjadi. Karena sang suami yang berusia 60 tahun menikah dengan istri keduanya yang berusia 30 tahun dengan berbagai cerita didalam pernikahan mereka.


Ya, semua berawal dari kata-kata cinta yang kemudian menjadinya kata terlarang dalam hubungan yang tak seharusnya terjadi antara ibu tiri dan anak tiri itu. Sehingga sang suami tak punya pilihan, selain menceraikan istri keduanya.


Dan kini Topan menatap pantulan dirinya di hadapan cermin, dan menilai jika penampilan cukup bagus dengan kemeja berwarna biru dan dasi berwarna biru tua. Combinasi yang pas dan mungkin saja Alia akan terpesona melihatnya. Begitulah pikiran Topan yang selalu ingin mendapat perhatian dari sang pembantu.


Setelah semua siap, ia pun berlalu pergi dengan tak lupa membawa tas ransel juga handphone yang harus selalu ada di dalam genggamnya.


***


Diluar, tepatnya di ruang makan. Terlihat Alia sedang menyuapi sang ibu majikan yang sedikit mogok makan.


"Ibu ayo makan dulu.." bujuk Alia dengan sendok yang sudah siap di hadapan mulut ibu Topan.


Namun wanita tua itu tetap tak membuka mulutnya yang terkatup rapat.


Alia khawatir.


"Apa ibu mau sereal??" Tawar Alia dengan menaruh kembali sendok yang gagal masuk kedalam mulut ibu Topan.


Wanita itu hanya diam tak menjawab.


Alia menghela nafas panjangnya. Sudah beberapa hari ibu sang majikan tak berselera makan dan itu membuat Alia khawatir.


Clek.. terdengar pintu kamar utama terbuka. Dan sosok pemilik rumah keluar dengan telah rapi.


Alia menoleh saat kehadiran Topan yang baru saja keluar dari kamarnya.


Dan sebuah senyum hangat pun terbingkai di wajah Topan untuk Alia.


"Pagi, Alia.." sapa Topan dengan langkah tertuju pada meja makan.


"Pagi juga Mas, mau kopi?? atau teh??" tawar Alia yang kian terbiasa memberi pelayanan kecil di tiap pagi.


"Kopi, mas mau kopi" sahut Topan dengan tiba di meja makan dan mendekat pada sang ibu. Sekilas ia melihat mangkuk bubur yang terhidang masih hangat dan belum berkurang.


"Ibu mau Topan suapin?" Tawar sang anak pada ibu yang menatapnya datar.


Alia gelisah.


"Mas, sudah beberapa hari ini ibu seperti kehilangan selera makan" kata Alia dengan wajah gusar.

__ADS_1


Topan terkaget.


"Benarkah??"


Alia mengangguk.


"Apa ibu sakit??" tanya Topan dengan memeriksa suhu tubuh sang ibu dan mencoba melihat kondisi fisik secara bergantian dan juga memeriksa kondisi mulut atau gigi sang ibu yang mungkin saja jadi masalah.


Namun tidak di temukan satu kejanggalan apa pun pada kondisi fisik sang ibu.


"Apa ibu masih minum obat?"


"Masih mas, cuma ada 2 kali ibu tidak mau minum obatnya.."


Topan mendengar dengan merasa bersalah, selama ini ia sudah sedikit melupakan kondisi merawat sang ibu dan larut dengan perasaan yang sedang bahagia.


"Hm, sebaiknya ibu di bawa kedokter mas??" saran Alia ragu.


"Iya, coba mas telfon praktek dokter.. tapi" ucap Topan terpotong ragu.


"Kenapa mas??" tanya Alia.


"Hari ini jadwal sidang mas padat" jawab Topan yang mengingat jadwal sidang perceraian yang ia tangani hari ini.


"Kalau begitu, biar Alia saja yang bawa ibu.. Mas telfon aja dokter untuk buat janji, jam berapa pun Alia bias antar ibu ke dokter.." kata Alia yakin.


"Kasian ibu, mungkin kalau ketemu dokter kita bisa tau apa penyebab ibu tidak ***** makan, dan mungkin dokter bisa kasih vitamin tambahan.." ujar Alia mencoba untuk meyakinkan sang majikan.


"Hm, baiklah mas akan telfon dokter.. nanti mas akan kabari kamu, ya.." sahut Topan yang akhirnya menyetujui.


Alia terlihat lega.


Perlahan Topan menurunkan sedikit badannya dan menatap wajah sang ibu.


"Bu, nanti kedokter sama Alia ya.." pesan Topan pada sang ibu.


Ibu tak menjawab, wajah datar tanpa ekspresi itu hanya menatap sang anak.


"Sekarang, Topan kerja dulu ya.." pamit Topan dengan hendak bangun.


Namun tiba-tiba tangan ibu menahan lengan sang anak.


"Jangan pergi.."


Sontak Alia dan Topan kaget.

__ADS_1


"Ibu??" seru Alia.


"Jan-gan pergi.." pinta ibu mengulang.


Topan terpaku.


Alia menatap pancaran wajah gelisah sang ibu.


"Ibu?? Mas Topan harus kerja.." jelas Alia dengan mencoba mengalihkan perhatian sang ibu.


Namun jemari ibu Topan mengenggam kuat lengan sang anak, seolah tak ingin melepaskannya.


Topan bimbang.


Alia pun tak bisa berbuat apa-apa dengan sikap ibu yang tiba-tiba menahan sang anak.


"Sepertinya ibu, butuh perhatian dari mas.."


Topan menoleh pada Alia.


"Mungkin ibu ingin bersama mas.." ujar Alia lagi.


Topan menghela nafas lalu kembali menatap sang ibu. Dan ia pun kembali menurunkan tubuhnya.


Topan meraih jemari sang ibu dan mengenggamnya dengan lembut.


"Maafkan Topan buk, mungkin selama ini Topan kurang memperhatikan ibu.. maaf yaa.." ucap Topan dengan nada rendah.


Ibu Topan hanya menatap sang anak.


"Topan janji, Topan akan luangkan waktu seharian bersama ibu, seperti dulu..mmh??" ujar Topan berjanji pada sang ibu.


"Sekarang ibu makan dulu yaa.. makan biar ibu sehat dan minum obat.." kata Topan sembari seraih mangkuk dan sendok untuk menyuapi sang ibu.


Wanita paruh baya itu mengikuti tanpa menolak.


Seketika Alia merasa lega.


Sebaik-baiknya ia merawat ibu sang majikan, tetap sang ibu merindukan perhatian dari sang anak.


Kehangatan yang tulus dari sang anak merupakan suport sistem terbesar untuk sang ibu.


Mungkin benar, jika sakit terkadang kita tak butuh obat untuk menyembuhkan, namun perhatian dan kasih sayang yang membuat sakit itu hilang.


Alia tersenyum simpul, moment terindah yang pernah ia lihat ikatan antara ibu dan anak yang tidak akan pernah hilang walau ingatan sudah hilang.

__ADS_1


"Alia ambil air hangat ya" tawar Alia. "Dan juga kopi untuk mas" ujar Alia yang kemudian meninggalkan ibu dan anak itu di meja makan.


__ADS_2