
Pagi itu Di kantor Pengacara Bastian. Semua rekan kerja menyambut kehadiran Topan.
Mereka berceloteh panjang lebar menanggapi kasus yang menimpa Topan.
Sehingga mau tidak mau Topan harus bergabung dengan teman-teman yang menyambut kedatangan dirinya.
Setelah hampir 2 jam menyapa, akhirnya Topan kembali ke dalam ruang kerjanya yang sudah beberapa bulan kosong tanpa ke hadiran dirinya.
Namun, Topan melihat ada hal aneh yang ia sadari dari kursi yang berbeda dengan kursi yang biasa ia duduk selama ini.
Topan berjalan menuju kursi yang terlihat baru.
"Apa yang sedang Johan rencanakan??" pikir Topan ragu untuk duduk di kursi itu.
Namun tak lama, terdengar suara langkah kaki yang masuk kedalam ruangan itu.
Topan menoleh.
"Kevin??" sambut Topan senang.
Begitu juga dengan Kevin yang langsung memeluk Topan.
"Akhirnya kau masuk juga.." seru Kevin.
Topan menepuk pundak Kevin kuat.
"Yaa, aku sudah harus giat cari uang.." jawab Topan.
Kevin memecingkan mata menantap curiga.
"Maksud mu? harus giat?? memang selama ini kau kurang giat apa mencari uang??" tanya Kevin mencibir.
Topan hanya menyeringai kecil.
Dan tak lama seorang lagi masuk dengan langkah santai.
Kevin dan Topan menoleh pada asal suara langkah itu.
Dan ternyata Dodi berdiri didepan pintu.
"Topan?? Johan menunggu mu.."
Topan menghela nafas panjang.
"Sepertinya, Johan masih belum tuntas marah-marahnya kemarin.."
Kening Kevib tertaut heran.
"Ya sudah sana.. karena disini hanya kau yang berani membuatnya naik darah.."
Topan menyeringai kecil.
"Dasar!! ya sudah..taruh dokumen sidang yang harus aku urus minggu ini.."
"Baik.." sahut Kevin. Dan Topan pun berlalu pergi menuju lantai tempat sang atasan sekaligus temannya.
***
Di antara banyak ruangan yang ada di kantor pengacara Bastian. Hanya ruangan Johan yang paling tidak ia sukai.
Aura sang pemilik seolah memenuhi ruangan itu hingga beberapa staffnya pun memiliki sifat seperti Johan.
Dingin, kaku dan membunuh tiga hal yang bergitu jelas terasa pada sosok Johan B. Bastian. Mungkin semua karena latar belakang keluarganya yang seorang putra Jenderal.
Lift yang Topan tumpangi akhirnya tiba di lantai yang di tuju. Pintu lift terbuka dan atmosfer yang sangat kuat pun terasa.
Topan melangkah seiring hela nafasnya. Ia sudah bersiap untuk berhadapan dengan Johan jika ia memang ingin marah-marahnya lagi.
Topan melewati Dodi yang merupakan tangan kanan kepercayaan Johan sedari dulu.
Topan masuk dengan di sambut wajah tenang sang atasan.
"Akhirnya kau masuk juga.."
Topan berjalan santai mengambil tempat duduk di sofa ruangan itu. Lalu duduk dengan hela nafas siap.
"Jika kau ingin memulai, maka aku sudah siap.." tukas Topan tak menantap Johan.
Johan terheran.
"Maksud mu?? aku memulai apa?"
"Kau kan mau marah-marah lagi.. jadi aku sudah siap, cepat.. bilang saja unek-unek mu itu.. "
Johan menyeringai kecil.
__ADS_1
"Siapa yang ingin marah-marah?? kau ini!!" sahut Johan sembari mengeluarkan sebuah amplop dari balik lacinya. Lalu bangun untuk berjalan menuju tempat Topan duduk. Dan dengan santai meletakkan amplop berukuran besar itu di hadapan Topan.
Topan melihat pada amplop di hadapannya.
"Tugas baru.." ujar Johan sembari duduk di sofa.
Topan menatap dengan kening tertaut.
"Tugas??"
"Pindahlah.. dan buka Bastian di daerah yang aku tunjuk.." titah Johan tenang.
Topan menatap Johan tajam.
"Maksud mu??"
"Kau tidak bisa lagi disini.. kasus kemarin sedikit membuat nama baik mu jadi bahan pertimbangan para klien.."
Topan diam menimbang pada amplop.
"Berikan tugas perceraian pada Kevin.. dan kau mengambil tugas yang lebih besar lagi di tempat yang baru.."
"Kau membuang ku??"
Johan terdekat diam menantap tatapan Topan yang tajam.
"Bisnis adalah bisnis, aku tidak menampik hal itu" sahut Johan jujur.
"Tapi aku tidak pernah berkhianat padamu Topan.. kau pasti tau sifat ku.. aku tidak akan membuang saudara ku sendiri, jadi.." ucap Johan sedikit terjeda. " Ini jalan yang baik untuk mu, kau masih bisa berkarir di tempat baru dan memulai hidup baru bersama Alia tanpa ada cerita masalalu.."
Topan nimbang.
"Batam.." timpal Johan.
Topan menghela nafas panjang.
"Beri aku waktu.. " pinta Topan yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Johan begitu saja tanpa mengambil amplop tugas pindah yang di berikan sang teman pada dirinya.
Dodi melihat punggung pengacara Topan yang meninggalkan ruang alasannya.
Tepat seperti dugaan Johan, Topan akan sulit menerima. Karena Topan pernah di khianati oleh rekan kerja yang sudah membesarkan namanya.
Namun Johan memilih Topan untuk menjadi perwakilan Bastian di Batam juga bukan tanpa alasan yang kuat. Skill pengacara Topan memang lebih tepat untuk mengatasi kasus mafia bisnis di Batam.
***
Ketika langkah Topan berhenti di depan pintu rumahnya. Ia sedikit ragu untuk mengetuk.
Namun tanpa di duga daun pintu itu terbuka. Dan sosok wanita yang lagi-lagi mampu menghilangkan gundahnya muncul.
"Mas sudah pulang??" sambut Alia dengan senyum terkembang.
Untuk sesaat Topan terpanah.
"Ayo mas, masuk.. Alia ada buat sesuatu.." ajak Alia yang tanpa sungkan meraih lengan Topan untuk mengikuti dirinya.
Topan hanya mengikuti tanpa menolak.
Terlihat ibu duduk di tengah taman rumah.
"Tadaaaa..." seru Alia seolah kejutan. " Ini rumah ala Cafe.. " jelas Alia pada Topan yang terlihat terkejut dengan gelar alas seadanya di atas rumput dan meja yang Topan ingat itu adalah meja sudut untuk pelengkap Sofa yang dulu.
"Ayo mas duduk sini deket ibu.."
"O-oh.." sahut Topan yang masih mencoba loding.
"Mas mau kopi atau teh??" tanya Alia bak pelayan.
"Emmh, ko-pi.." sahut Topan dengan melepaskan tas ranselnya.
"Oke.." sahut Alia yang kemudian berlalu pergi menuju dapur belakang. Hingga meninggalkan Topan dan sang ibu di sana.
Topan menantap ibunya lama.
"Alia buat apa dari tadi??" tanya Topan pada sang ibu.
Namun, itu hanyalah sia-sia karena ibu tak akan menjawab pertanyaan yang mungkin saja ia tak paham.
Tapi Topan melihat di atas meja itu sudah ada susu ibu dan juga cemilan kentang goreng.
Sekilas Topan tersenyum kecil. Alia benar-benar begitu baik menjaga ibunya, yang mungkin saja ia tak bisa sebaik itu menjaga sang ibu.
Sesaat Topan menikmati suasana sore di taman rumahnya. Ia tidak pernah terpikir akan ide sesedehana ini.
"Buk.. sekali saja jawab pertanyaan Topan.. apa ibu masih ingat sama Topan??" tanya Topan pada ibu yang sedang memilih kentang goreng di hadapannya.
__ADS_1
Jemari ibu Topan terhenti dan perlahan mata kosongnya menantap sang putra.
"Ibu ingat Topan??"
Ibu menantap lama, namun ia kembali menantap kentang goreng dan mengambilnya satu untuk ia makan.
Topan menghela nafas panjang.
"Buk, tau gak kenapa Topan beli rumah ini??" tanya Topan sembari bernelangsa jauh. "Topan ingin ibu jadi ibu-ibu orang kaya.. seperti ibu teman-teman Topan yang dulu.." cerita Topan mengenang.
"Jalan-jalan ketempat yang tak pernah ibu bayangkan bersama Topan.."
"Dan Topan berharap dengan semua uang yang Topan punya, ibu bisa membeli apapun yang dulu ingin ibu miliki..tapi.." ucap Topan tergantung berat. "Tapi nyatanya ibu hanya memilih obat.. dan tinggal di kamar"
Topan menghela nafas panjang seolah ia merasa sedih tak bisa membahagiakan sang ibu yang kini telah melupakan segala ingatannya.
Dan tak lama, terdengar suara langkah Alia uang kembali dengan membawa nampan sedikit besar.
Topan berbalik dan reflek ikut membantu Alia membawakan nampan yang sedikit berat.
"Makasih mas.." seru Alia.
Topan meletakkan nampan itu di atas meja dan terkaget. Ada 3 piring nasi goreng di atas nampan itu.
"Ini??"
"Alia yang masak.." sahut Alia cepat.
Topan terkaget.
"Kamu??" tanya Topan tak yakin.
Alia mengangguk.
Topan masih heran dan lebih tepatnya tidak yakin.
Lalu tiba-tiba Alia mengeluarkan sebuah buku berwarna hitam.
"Ini.." kata Alia dengan menunjukkan buku pada Topan.
Topan bingung.
"Ini buku gak sengaja Alia nemu di kamar gudang, tadinya cuma mau ambil meja.. tapi ternyata ada buku resep yang sepertinya punya ibu tulis dulu.."
Topan mengambil buku tersebut dan melihat lembaran-lembaran buku yang telah tertulis dengan tulisan tangan khas ibu.
Topan terpaku. Lalu tak lama mengingat jika dulu ibu suka sekali menonton acara masak-masak yang di bawakan chef Rudy Choirudin dan ibu Sisca Soewitomo.
Topan tersenyum kecil.
" Benar ini tulisan ibu.. ibu dulu tidak bisa masak, tapi ketika sudah ada TV, ibu sangat rajin menonton acara masak dan mencatat setiap resep yang sedang di tayangkan.."
"Ooh.." seru Alia kagum dengan melihat ibu Topan.
Topan menutup buku itu dan memberikannya pada Alia.
"Ini untuk kamu saja.."
Alia terpaku.
"Tugas baru kamu, belajar masak untuk ku" tukasTopan.
Alia tertawamalu-malu sembari mengambil buku resep itu.
"Siap.." sahut Alia. "Ayo mas, di coba dulu nasi goreng dari resep ibu.." ujar Alia sembari mengambil 1 piring untuk ibu.
"Alia.."
"Ya??" sahut Alia menoleh.
Topan terdiam jeda.
"Bagaimana jika kita menikah minggu ini.."
Deg.. Alia terpaku.
Topan menelan salivanya.
"Ini janji ku, setelah bebas adalah ingin segera menikah denganmu..dan.."
Bibir Alia terkatup.
"Dan kita akan memulai hidup baru di tempat yang berbeda.."
Kening Alia tertaut. Topan menantap lekat Alia.
__ADS_1
"Bagaimana menurut mu?? apa kamu mau??"