
Setelah perjalanan yang sedikit macet. Akhirnya mobil sedan Topan tiba di salah satu gedung mewah.
Alia turun dengan mencoba seimbang di atas sepatu hak tingginya. Sepatu cantik yang telah mengubah penampilannya malam ini.
Topan datang mendekat dan kembali mengulurkan tangannya di hadapan Alia.
Namun, kali ini Topan harus kecewa. Karena Alia menolak.
"Alia, bisa kok mas.."
Topan menarik jemarinya yang di tolak Alia. Lalu dengan wajah sedikit kecewa Topan berbalik dan berjalan terlebih dahulu menuju gedung. Alia mengikuti dari belakang langkah sang majikan.
***
Didalam ruangan yang terlihat mewah namun begitu nyaman untuk para tamu. Terlihat kedua pembelai saling menyambut tamu undangan mereka dengan suka cinta.
Namun di saat itu, Topan dan Alia berpisah. Topan berkumpul dengan teman pengacaranya. Sedangkan Alia hanya berdiri seorang diri.
Alia yang sudah lama tak bertemu dengan Dinda Gandis sedikit ragu untuk menampakkan dirinya.
Hingga tanpa di sangka, sebuah panggil dari seorang wanita membuatnya menoleh.
"Nyonya Alia??" seru Depi sang mantan pengacara yang saat itu membantunya di meja hijau.
Sontak Alia terkaget.
"Depi??" seru Alia riang.
"Nyonya?? Ya Tuhan, Depi tidak percaya akan bisa bertemu dengan Nyonya di acara ini.. " seru Depi dengan wajah berbinar senang mendekat pada Alia.
Alia pun menyambut Depi dengan suka cita bak teman lama.
"Ah, ya benar.. sudah lama kita tidak bertemu,apa kabar Depi??"
"Saya baik, Nyonya.. Nyonya sendiri bagaimana kabarnya??" tanya Depi tanpa basa basi.
Deg.. raut wajah Alia sedikit berubah terkejut, ia tak ingin jika pengacara nya ini mengetahui perubahan hidup dirinya selama ini.
"Ah, saya juga baik.."
"Waah, syukurlah Nyonya.." seru Depi lega.
"Alia..panggil saja Alia"pinta Alia pada sang pengacara.
Depi sedikit canggung.
"Ah, ya.. A-lia.. anda kemari sendiri??"
"Tidak.. tadi pergi dengan se-orang.." jawab Alia tergantung ragu lalu tanpa sengaja melihat sosok sang majikan dari kejauhan tengah asyik berbincang.
Depi menunggu.
"Dengan teman??"
"Ah..Ah, iya te-man.." jawab Alia ragu.
__ADS_1
Depi tersenyum simpul.
"A-apa sudah menikah lagi?" tanya Depi tanpa ragu.
Alia mendengar lalu sejenak berpikir.
"Tidak.." sahut Alia tenang. "Menjalin hubungan itu tidak lah mudah, jadi yaa..untuk saat ini Alia sedang menikmati waktu sendiri.."
Depi mendengar dengan wajah terharu.
"Maaf waktu itu Depi tidak membela Alia dengan kuat.."
Alia merasakan perih.
"Gak papa, semua juga karena Alia minta seperti itu.. ah, sudah lah jangan membahas soal itu lagi..ayo kita makan disana dan mengobrol" ajak Alia mengalihkan pembicaraan.
Keduanya pun terlihat perbincangan yang hangat di sudut ruangan pesta.
***
Di sisi lain Topan sedang menjadi bulan-bulana para temannya.
"Kau benar-benar berbeda hari ini.. tidak seperti biasanya" seru salah seorang dari mereka menatap penampilan Topan.
"Kalian saja yang baru tau, biasanya aku juga seperti ini.. "
"Tidak.." sela Kevin cepat. "Aku rasa itu karena kau sedang jatuh cinta.. benarkan??" ledek Kevin terang-terangan.
Topan tak menjawab ia hanya mencoba untuk tak terpancing obrolan itu. Dan mencoba menikmati suasana pesta yang benar-benar nyaman.
"Terima kasih, kalian sudah datang" ucap Joham penuh simpati.
Topan hanya menatap sosok atasan yang sedikit berbeda. Raut wajah Johan terlihat lebih tenang dan juga berseri.
"Selamat atas pernikahan mu dan semoga kau cepat di beri Johan Junior" ujar Topan.
Johan hanya tersenyum.
"Dimana pengantin wanitanya??" tanya Dodi. "Apa kau tidak ingin memperkenalkan istriku secara resmi??" singgung Dodi.
Johan terkekeh.
"Untuk apa?? kau kan sudah lama kenal.." sahut Johan.
"Bukan untuk ku, tapi untuk teman-teman yang lain.." singgung Dodi dengan melirik Topan yang berada di samping.
Topan terkekeh.
"Tidak usah, aku takut atasan kita akan cemburu.." celetuk Topan santai.
Johan tertawa kekeh dan menggelengkan kepala. Dan Topan dan Dodi ikut tertawa kecil.
Tak lama ke tiganya terlibat obrolan serius. Pembahasan mereka tak jauh-jauh dari dunia hukum dan permasalahan klien.
Namun di tengah-tengah obrolan itu, tiba-tiba handphone Dodi berdering dan mengharuskan ia untuk mencari tempat yang sedikit lebih tenang untuk menjawab telfon dari sang istri.
__ADS_1
Hingga kini hanya tinggal Topan dan Johan saja.
"Kau datang sendiri??" tanya Johan sengaja.
Topan menggeleng.
"Ternyata, wanita itu benar-benar bisa mempengaruhi mu.." kata Johan yang akhirnya dapat menilai jika sang teman tengah menyukai sosok wanita yang sangat misterius itu.
Johan tersenyum simpul.
"Ah, aku lupa memberi tau sesuatu padamu Topan.."
Topan menatap Johan dengan menanti kalimat berikutnya.
"Apa??"
"Rudy Mahendra.."
Raut wajah Topan berubah ketika mendengar nama pria yang menjadi mantan sang pembantu.
"Dia ingin menambah satu pengacara dari bidang bisnis, sepertinya dia serius ingin membuka peluang untuk bekerja sama dengan perusahaan asing.."
Topan terteguh.
"Dan aku menunjuk Dodi.. Dodi dapat di andalakan.."
"Kenapa?" sela Topan memotong dengan wajah tidak senang.
Johan mendengar dengan nada ucapan berbeda.
"Kenapa kau menyetujui permintaan Rudy Mahendra??"
Johan kian terlihat bingung dengan pertanyaan sang teman.
"Ada apa?? mengapa kau terlihat tidak senang??" tanya Johan penuh curiga.
***
Di lain sisi, Alia terpaku ketika mendengar cerita Depi.
"Beberapa waktu yang lalu, aku sempat mendengar isu jika.. rumah tangga Rudy dan Bella sedang bermasalah"
"Apa?" seru Alia tak percaya.
"Bella berhasil melahirkan bayi laki-laki untuk keluarga Mahendra, tapi.. tak lama terdengar jika Rudy ingin menceraikan Bella.."
Alia terkejut, ini sungguh di luar dugaannya.
"Dan bahkan.." ucap Depi tergantung ragu.
Delik mata Alia menatap lekat wajah Depi.
"Rudy mencari kamu.."
Deg.. raut wajah Alia terkaget.
__ADS_1