Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Extrapart Full House


__ADS_3

Saat ini kehidupan rumah tangga Alia dan Topan begitu berwarna dengan kehadiran baby Rayden.


Dan tak terasa usia bayi Rayden sudah 5 bulan.



Alia begitu semangat mengasuh buah hatinya setiap hari. Banyak pelajaran baru yang ia dapatkan setelah menjadi seorang ibu.


Ia benar-benar memusatkan segala perhatiannya pada Rayden.


Hingga di satu malam, Topan melihat sang istri yang tertidur di sofa dengan memeluk tubuh Rayden yang tengah rewel karena sakit demam dua hari dan hanya ingin di timang oleh sang Bunda.


Topan menantap moment itu cukup lama.


Wajah Alia kini jauh berubah lebih ke ibuan. Tak ada pernah lagi mengerai rambut indahnya. Ia bahkan tak pernah tidur dengan lelap semenjak Rayden lahir.


Sesaat jantung Topan berdebar.


Sungguh memandang dua malaikat dalam hidupnya begitu membuatnya tenang.


Perlahan Topan sedikit turun dan sedikit membenarkan bantal penyangga lengan sang istri. Ia tau pasti tidaklah nyaman posisi tidur Alia. Ingin ia memindahkan, namun ia takut jika itu akan membangunkan Rayden yang terlihat lelap tidur di dada sang Bunda.


Topan menhela nafas lalu duduk di samping sang istri dan menarik kepala Alia agar nyaman tertidur di pundaknya.


Untuk beberapa saat suasana begitu hening. Malam kian larut, namun Topan moment keheningan itu. Sesaat ia mengingat satu percakapan yang tak biasa bersama Johan yang tiba-tiba berkunjung ke Batam.


"Istri ku hamil.." ujar Johan dengan nada berat.


Topan terheran.


"Mengapa kau terdengar tidak senang?" tanya Topan dengan menatap Johan.


Johan sedikit tertunduk.


"Karena Aku bisa saja kehilangan istriku, atau.. kedua-duanya.."


Topan terdiam dan sesaat ia kembali terbayang wajah kesakitan Alia saat melahirkan Rayden.


"Mengapa wanita begitu menginginkan anak? bukankah dia sudah mendapatkan cinta yang dia inginkan dari kita?? apa itu tidak cukup??" tanya Johan merasa pusing.


Topan tetap diam. Ia kembali merenung.


"Apa tidak bisa tanpa anak?? toh ketika mereka besar anak-anak itu akan pergi dengan jalan hidup mereka sendiri, mereka bahkan akan melupakan kita orangtuanya??" timpal Johan yang mengeluarkan unek-uneknya.


"Aku rasa, bukan begitu.." sela Topan memotong.


Kening Johan tertaut.


"Wanita selalu berpikir dengan perasaannya, baginya.. pencapaian tertinggi adalah memiliki seorang anak, sebagai butik jika ia sempurna di mata pasangannya.."


Johan mencerna.


"Tapi tidak dengan pria, pola pikir seperti itu tidak ada pada jalan pikir logika kaum adam.. bagi pria kesuksesan, karir dan pasangan adalah yang utama sedangkan memiliki anak itu hanya kebutuhan yang menjadi bonus dalam perjalanan pernikahan atau mungkin karena tuntutan.."


Topan menatap Johan.


"Itu yang menjadi momok besar yang sering terjadi didalam pernikahan..selain masalah keuangan"


Johan menghela nafas.


"Aku melihat dengan jelas semua itu selama menjadi pengacara perceraian.. tidak ada di dunia ini wanita yang tidak ingin melahirkan anak dari rahimnya sendiri.. tapi pria tidak berpikir demikian"


"Jadi aku harus senang??"


Topan mengangguk.


"Jelas.."


"Aku takut aku akan kehilangan dia.." ucap Johan jujur.


Topan mengerti kegelisahan Johan yang memiliki istri dengan riwayat sakit berat.


Topan menhela nafas.


"Berdoa saja, Tuhan jauh lebih tau.."

__ADS_1


Dan kini Topan kembali menoleh pada sang istri yang tertidur lelap.


"Aku rasa, aku cukup sekali melihatmu kesakitan ketika melahirkan.." ucap batin Topan lalu ia menantap wajah Rayden yang kian jelas mirip dengan diri.


Ada rasa yang mengelitik ketika melihat sosok kecil yang sangat mirip dengan wajahnya.


"Hey, nak.. semoga kau menjadi anak yang berbakti..dan semoga Ayah masih diberi umur panjang untuk melihatmu dewasa.." bisik batin Topan tulus berdoa untuk bayi kecil yang tertidur lelap.


Wajah tanpa dosa itu mengingatkan ia pada sosok almarhum sang ibu.


"Ibu.. cucu ibu cukup berkuasa dia bahkan benar-benar membuat Bundanya repot.. doakan cucu ibu cepat sembuh dan sehat kembali.." ucap batin Topan seolah berharap sosok wanita yang melahirkan dirinya masih ada di sini.


Tanpa terduga, Rayden mengeliat. Topan bereaksi cepat dan perlahan mengusap punggung bayi kecil itu untuk tertidur lagi.


Topan berharap malam ini Rayden cepat turun panasnya. Ia kasihan dengan Alia yang pasti akan begadang lagi demi sang buah hati jika Rayden rewel.


"Tidurlah sayang, ayah akan disini.." bisik Topan dengan terus mengusap punggung baby Rayden agar kembali lelap.


Dan malam itu, Rayden tidur dengan anteng di pelukan sang Bunda yang kini benar-benar tertidur pulas di pundak Ayah Topan.


"Ayah mencintai kalian berdua.. kalian yang paling berharga di hidup Ayah" bisik batin Topan dan ia membelai penuh sayang pada Bunda Alia dan baby Rayden.



***


Usia Rayden kian besar, perkembangannya melesat cepat seiring bulan. Semua berkat kegigihan Alia yang memberikan asi eksklusif pada baby Rayden.


Topan pun kian sering pulang lebih awal untuk bisa membantu Alia merawat Rayden.


Hingga di satu minggu pagi. Ketika Alia berhasil menidurkan Rayden setelah mandi pagi dan minum asi hingga kenyang.


Alia meninggalkan Rayden di kamar bayi dengan terpasang alat pendeteksin tangis bayi.


Dan seketika Alia tersenyum bebas. Untuk sesaat ia bisa merasa tenang dengan lelapnya tidur Rayden, setidaknya Rayden akan tidur 2 jam kedepan.


Alia berjalan menuju pintu kulkas dan membuka lemari pendingin itu lalu mengeluarkan satu minuman yang baru-baru ini rutin ia minum.


Tak beberapa lama Bibik datang dengan pelan.


"Nyonya.."


"Ya bik.."


"Bibik, jalan kepasar terus ya, mumpung dedek Rayden tidur.."


Alia dengan cepat mengangguk.


"Iya, bik titip daun katuk lagi yaa sama buah bit juga pokat.. udah pada habis" kata Alia.


"Oh, iya beres nyah, udah Bibik catat juga sedikit.."


Alia tersenyum.


"Ya udah, hati-hati ya bik.."


Dan wanita paruh baya itu pun berlalu pergi. Tinggal Alia yang menikmati luang waktu selama baby Rayden tidur.


Namun tak lama, pintu kamar utama terbuka.


Alia kembali menoleh dan ternyata sang suami tercinta keluar dari kamar milik mereka.


"Rayden??"


Alia langsung mengisaratkan dengan kepala miring dan memejamkan.


"Ooh..." sahut Topan mengerti jika sang pangeran kecil sudah tidur. Langkahnya kian mendekat pada Alia.


"Mas mau apa?? kopi??" tanya Alia.


Topan menggeleng.


"Gak deh, belakangan Mas jadi susah tidur.." tolak Topan.


"Masa?? bukannya mas tidurnya anteng banget?"

__ADS_1


"Enggak kok.." sahut Topan.


"Masa sih?? soalnya tiap kali Alia nyusui Ray mas malah tidur.."


"Ah, itu cuma pura-pura tidur.." sahut Topan santai sembari melihat minuman di tangan sang istri yang terlihat dingin lalu meraih botol minuman itu dengan santai.


Alia terkaget.


Dan Topan langsung hendak meneguk minuman dingin itu.


"Stop Mas!!" hardik Alia yang tiba-tiba.


Topan terkaget dengan reaksi sang istri.


"Ke-kenapa??" tanya Topan dengan menantap Alia yang berwajah gusar.


Alia langsung merebut kembali minuman itu dari sang suami. Dan langsung meneguknya sampai habis.


"Aaah.." decak Alia dengan telah meneguk air minuman jamu itu sampai habis.


Kening Topan tertaut.


"Kamu curang" celetuk Topan cemberut.


Alia menoleh dengan senyum usil.


"Enggak kok.." sahut Alia menutup botol minum kosong itu dan meletakkannya di atas pantri dapur. Lalu ia segera bergantung lengannya manja di pundak suami.


"Ini tuh gak cocok kalau mas minum.."


Kening Topan tetap setia tertaut heran.


Lalu dengan wajah bersemu malu, Alia mendekat dan sedikit berhenti di sisi telinga sang suami. Lalu bibir Alia sedikit berbisik nakal di sana, dan hal itu membuat Topan mengeliat geli.


Namun seketika wajah Topan berubah kaget. Dan Alia menjauh dan menatap wajah terkejut sang suami.


"Pe-perawan??" ulang Topan tak percaya mendengar kata-kata yang mengundang hasratnya.


Dengan delikan nakal.


"Gimana?? mau??" tawar Alia menantang sang suami di pagi minggu.


Ajakan Alia seolah mengundang sang suami untuk sedikit menikmati suasana intim bersama.


Topan pun menyambut dengan langsung mengendong tubuh sang istri.


"Pasti!! mas mau" sahut Topan bersemangat.


Alia tersenyum bangga. Bagaimana tidak, ia akhirnya menemukan solusi untuk masalah kewanitaannya. Entah mengapa semenjak melahirkan Rayden, ia sedikit merasa risih ketika berhubungan badan dengan sang suami, entah mengapa ia terlalu mudah basah dan kurang mengigit.


Sehingga setelah curhat panjang dengan istri Kevin, Desi. Akhirnya ia mendapatkan jamu idaman wanita, yaitu rapat wangi.


Dan setelah 7 hari mengkonsumsi jamu spesial "Mbak Sinta" Alia merasakan jika kewanitaannya lebih sehat, bahkan ia merasa tidak terlalu longgar lagi.


Ia pun merasa bangga kembali mengajak sang suami untuk memadu keintiman yang belakangan sedikit berkurang semenjak Rayden hadir.


Topan membawa tubuh sang istri kembali kekamar mereka.


Alia merasa di manja. Dan ia pun seketika berbisik kembali.


"Mas, nanti yang dalam ya.." bisik Alia mengoda.


Dan bisikan nakal itu kian mengoda hasrat Topan yang belakangan ia tahan karena merasa kasihan dengan Alia yang sering kelelahan mengurus buah hati mereka.


"Nakal kamunya??" balas Topan.


Alia tersenyum penuh arti.


"Ya, karena Alia berharap semoga bisa cepat hamil lagi..hamili Alia lagi..lagi.." sahut batin Alia yang ketagihan masa-masa kehamilan.


Dan pagi itu kembali panas dengan cinta Alia dan Topan.


***note pernikahan Alia & Topan***


"Wanita tidak akan melepaskan laki-laki yang ia cintai dengan alasan apapun.. kecuali laki-laki itu mencintai wanita lain.."

__ADS_1


"Allah mempersatukan kita bukan tanpa alasan, aku hadir didalam kehidupan mu, mudah-mudahan menjadi hasbab hidayah.. Aku bersabar dengan mu bisa jadi Allah memberikan tiket surga aku dari sabar ku menjalani ibadah pernikahan bersama mu.. semoga kita bisa berjuang menjadikan rumah tangga Sakinah, Mawwadah, Warohmah hingga Jannah bersama.." Amin


🥰🥰🥰🙏🙏🥰🥰🥰


__ADS_2