Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Dinas Malam


__ADS_3

Dan setelah puas berkeliling mall, kini Topan kembali melajukan mobilnya untuk pulang. Pulang kerumah nomor 15 yang banyak menyimpan kenangan.


Selama perjalanan pulang, Topan sesekali mencuri pandang sang istri. Sekilas ia jadi mengingat obrolan kecil bersama Kevin dan juga Yuda yang tidak sengaja bertemu di sana.


Saat itu terjadi obrolan yang sangat berkesan bagi Topan.


FlashBack.


Saat itu, terlihat Kevin gelisah menatap layar handphonenya. Berkali-kali kerutan kesal muncul di keningnya.


Topan yang sedang menyuapi sang ibu, tak sengaja melihat hal itu.


"Kenapa Vin??"


"Ck.." decak Kevin yang meletakkan handphonenya di atas meja sedikit kasar. Sehingga seorang anak perempuan yang sangat mirip dengan Kevin terkejut.


"Desi.. desi belanja lagi.." sahut Kevin kesal.


Kening Topan bertaut heran.


"Memang kenapa??"


"Kenapa?? yang jelas kenapa-napalah pan.. bayangin belum juga 2 jam udah mau 8 juta aja dia gesek itu atm gue.." rutu Kevin mengedumel.


Topan terkekeh.


"Yaa sekali-sekali?" sahut Topan.


"Ck, sekali-kali tapi lama-lama jadi berkali-kali dan makin menjadi.." sahut Kevin ketus.


Yuda yang merupakan teman baru Topan saat di penjara pun ikut mendengar kekesalan hati Kevin.


"Wanita memang selalu suka belanja, apa lagi ada mesin uang di tangan, yaa sudahlah doa apa pun tidak akan bisa menahan tangannya untuk membeli barang-barang yang sudah menumpuk dirumah.." ujar Yuda.


Kevin langsung mengangguk cepat.


"Benar itu..100% benar.. gak ngerti aku dengan cara penilaian perempuan soal barang.. imut dikit beli, bagus dikit beli, eh barang baru beli lagi!! semua beli!! padahal barang yang kemarin juga belum dia pakai" ketus Kevin tumpah unek-uneknya.


Yuda mengangguk.


"Wanita gak akan puas.. mereka selalu merasa dunianya adalah dunia dongeng, berharap seorang suami seperti kita bisa memenuhi semua kebutuhan seorang tua putri"


Topan mendengarkan tanpa menyela.


"Padahal hidupkan gak cuma harus beli dan beli, kenapa gak dia hemat atau pakai kek barang itu sampai 3 tahun terus ganti.." timpal Yuda.


"Iya tuh, bener banget.. aku juga heran kenapa tiap barang gak pernah lama, katanya udah beberapa kali pakai lah, udah gak model.." timpal Kevin curhat.


"Mungkin sedari awal cara kalian yang salah.."sela Topan.


Kevin dan Yuda reflek menoleh sinis pada Topan yang tak sepemikiran.


"Lo baru nikah aja, pan.. tar lo liat deh 2 atau 5 bulan lagi.. sifat aslinya pasti keluar.."


Topan tersenyum simpul.


"Yaa, mungkin tapi jika benar pun aku akan mendukungnya..jika alasannya itu untuk diriku" sahut Topan.


"Kau sudah di buta oleh cinta" sindir Kevin.


Topan tertawa.


"Ya, aku punya pengalaman yang tidak menyenangkan tentang pelit pada istri.. dulu ketika aku dengan mantan istri yang pertama, aku begitu perhitungan.. aku tak terbuka soal keuangan, aku memberikannya pada konteks kewajiban.. namun pada akhirnya dia malah mencari pria lain untuk memenuhi semua kebutuhannya itu.." jelas Topan dengan dasar kuat.


Kevin dan Yuda bengong.


"Kau serius?"

__ADS_1


"Ya, itu cerita pahit ku.. jadi aku belajar dari kesalahan itu.."


Kevin terdiam.


"Pikirkan lagi, jika benar kamu keberatan kenapa tidak bicarakan saja.. terbuka soal finansial itu penting.." jelas Topan.


"Wanita banyak berpikir dengan perasaan, tidak dengan logika.. jadi tugas kitalah yang harus lebih dulu maju dan jelaskan.. atur kembali soal finansial yang kamu inginkan.."


Kevin merenung begitu juga Yuda.


"Tapi.." seru Kevin ragu.


"Tanya lagi pada istrimu, apa barang itu penting?? atau masa depan untuk putri kalian?? dia marah ya silahkan, tapi bicarakan saja agar istrimu bisa berpikir.." jelas Topan tenang.


"Jadi kau dan Alia?"


Topan tersenyum santai.


"Aku sudah merancang semuanya.. aku tidak ingin kesalahan yang dulu terulang, tapi tidak juga membuat istriku berfoya-foya tanpa tau limit walau nyatanya aku mampu, jadi aku sengaja memberinya tanggung jawab.. tanggung jawab besar untuk kehidupan masa depan yang tidak tertebak.. bisa saja aku mati lebih dahulu atau aku sakit-sakitan parah dan tak bisa bekerja kembali, jika ia tak pintar dalam mengatur keuangan sedari saat ini maka bersiaplah dengan hal buruk yang terjadi.." jelas Topan yang sudah beberapa hari yang lalu membahas tentang finansialnya pada Alia.


Kevin benar-benar tak percaya, ternyata Topan begitu berbeda.


Benar, guru terhebat adalah pengalaman.


FlashBack OFF


Dan kini roda mobil Topan pun tiba di halaman rumah nomor 15.


Setelah mematikan mesin mobil, Topan menoleh kebelakang.


"Kamu masuk aja sama ibu, biar mas yang turunkan barang belanjaan.."


Alia mengangguk pelan.


"Makasih ya mas.. yuk buk kita turun.." ajak Alia pada sang ibu mertua.


***


Malam harinya, Alia menyimpan dua potong pakaian buat ibu yang ia beli tadi di mall.


"Ibu.. ini baju baru.. besok kita pakai bareng yaa.. biar mas Topan kaget.." kata Alia pada ibu yang terlihat kelelahan diatas tempatnya.


Alia menutup pintu lemari ibu, lalu mendekat pada wanita tua yang hendak tidur malam.


"Ibu capek yaa?? maaf ya bu.. Alia tadi kelamaan belanja, maaf ya jadi buat ibu kelamaan duduk.." ujar Alia sembari memijit punggung ibu yang sedang berbaring menyamping.


Namun belum beberapa lama Alia memijit tiba-tiba tangan ibu menahan jemari Alia dari samping.


Alia terkaget.


Ibu pun membalikkan badannya. Sehingga dapat melihat wajah Alia.


Sesaat keduanya saling menatap.


"Terimakasih.." ucap Ibu tiba-tiba dan terdengar jelas di pendengaran Alia.


Deg.. Alia terkaget.


"Ibu??"


"Terimakasih.." ucap Ibu mengulang dengan wajah teduh.


Alia tak bisa berkata-kata. Hatinya senang.


"Ibu terima kasih untuk apa?? Alia kan gak buat apa-apa buat ibu?? malah tadi ibu seharian sama mas Topan.. ya kan??" ujar Alia dengan kembali mengenggam tangan sang ibu mertua.


Namun dalam diamnya, ibu Topan hanya tersenyum simpul dengan hanya menantap lekat wajah sang menantu.

__ADS_1


***


Setelah menidurkan ibu Topan. Akhirnya Alia masuk kedalam kamar utama.


Terlihat sang suami sedang mengetik sesuatu di atas tempat tidur dan fokus pada laptopnya.


"Ibu sudah tidur??" tanya Topan.


"Sudah mas.." jawab Alia sembari berjalan menuju tempat tidur. " Ada tugas ya??"


"Hm?? iya dikit.. kamu tidur aja, biar mas keluar kerjain di meja makan.."


"Ah, gak usah..gak papa mas lanjut aja, Alia mau mandi dulu.."


Topan pun mengangguk dan kembali fokus pada layar laptopnya.


Alia pun berlalu pergi masuk kedalam ruangan ganti yang terhubung dengan kamar mandi.


***


Dan akhirnya tugas penting itu selesai Topan kerjakan. Ia lega dan segera membereskan beberapa kerja yang berada di atas tempat tidur. Lalu merapikan kembali kasusnya untuk segera tidur.


Namun tiba-tiba Topan tersadar.


"Loh?? Alia apa belum siap mandi ya??" seru Topan bertanya heran.


"Alia??" panggil Topan.


Namun tak ada jawaban.


Kening Topan tertaut heran.


"Apa tadi Alia keluar kamar??? tapi? masa aku sampai tidak sadar" gumam batinnya lagi.


"Alia??" panggil Topan untuk kedua kalinya.


"Ya, mas.." sahut Alia. Dan seketika Alia pun keluar dari ruang ganti itu.


Seketika itu pula Topan mematung.


"Ka-kamu??" Topan tergagap.


Alia tersenyum malu-malu. Lalu ia berjalan dengan memperjelas tampilan dirinya di hadapan sang suami.


Sontak mata Topan membulat sempurna menatap sang bidadari yang ia pastikan ada dikamarnya.


"Gimana, mas suka??" tanya Alia yang dengan bangga menunjukkan dirinya yang telah berpakaian sangat seksi plus make up natural dengan lipstik berwarna merah terang.


Topan hampir kehilangan jantungnya melihat sang istri begitu berbeda.


Rambut tergerai indah, warna lipstik mengoda dan baju seksi hitam yang kontras dengan warna kulitnya yang putih dan jelas-jelas hanya menutupi bagian penting saja, benar-benar membuat Topan kehilangan kata-kata untuk menjelaskan betapa luar biasanya penampilan nakal Alia.


Alia menyadari hal itu, lalu langkah terlihat tegas menuju sang suaminya berdiri mematung.


Seolah seorang ahli, jemari Alia yang telah terwarna kutek yang sama dengan warna bibir pun menyentuh wajah sang suami.


"Mau bermain panas??" tawar Alia berbisik di hadapan bibir sang suami.


Mendapat tantangan itu, Topan tak tinggal diam. Yaa bagaimana pun, Alia susah membangunkan sang macan yang sudah ganas.


"Jelas sayang.. aku ingin terbakar bersama mu!!" balas Topan dengan mengendong tubuh sang istri dan menawanya ke peraduan mereka yang sudah siap menanti.


Alia memeluk leher Topan.


"Ini yang Alia butuh, tampil cantik di depan mas!!" bisik batin Alia.


Dan malam panjang pun kembali terjadi di kamar utama itu.

__ADS_1


__ADS_2