Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Harap-harap cemas


__ADS_3

"Ini benar-benar diluar dugaan, bagaimana bisa Rudy mengatakan jika kau dan Alia selingkuh??" ujar Kevin di salah satu ruang yang diberi untuk berdiskusi.


Johan menimbang.


"Sepertinya kita tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi Topan, Rudy sudah kehilangan akal sehatnya" ujar Johan.


"Johan benar, kau tak bisa menunda lebih lama, jika terlalu lama aku takut Rudy makin mengila dan itu akan merugikan kamu Topan"


Topan mengangguk.


"Aku benar-benar tidak menyangka, jika pikiran Rudy bisa sependek itu.."


"Di waktu terdesak, siapapun pasti akan melakukan hal licik tanpa pikir panjang.." sela Johan. "Dan kita sudah sering melihat hal itu di meja sidang.." timpal Johan.


"Tapi aku benar-benar tidak menyangka ini terjadi pada ku.."


Johan tersenyum simpul.


"Sesekali kali menjadi tersakit ada bagusnya juga.." guyon Johan garing


Topan menyeringai mendengar ucapan Johan yang tak enak di dengar.


Namun guyonan garing itu tak berlaku di saat situasi sedang tak menentu saat itu.


Kevin dengan cepat mempersiapkan kembali hal-hal yang akan di buka di saat sidang nanti. Ia sudah mempersiapkan beberapa pasal yang akan ia lempar di saat sidang dengan tuduhan Rudy pada Topan.


Tak lama terdengar nada dering dari handphone Johan yang berbunyi nyaring.


Johan meraih handphone itu lalu dengan cepat mengangkat telfon masuk itu.


"Hallo??" sahut Johan dengan nada tenang. "Hm, jadi sudah di sini.. baiklah..tetap disana dan tunggu kabari dari ku.." ujar Johan tenang lalu tak lama komunikasi itu pun terputus begitu saja.


Topan menantap Johan seolah menunggu penjelasan dari telpon yang terlihat penting.


"Alia sudah tiba..."


Topan mengangguk.


Kevin seketika bersemangat.


"Harusnya sedari awal Alia kita masukkan.. sehingga tidak akan terjadi hal seperti ini.." rutu Kevin.

__ADS_1


Topan tak menjawab. Namun Johan terlihat tengah mengetik dengan cepat pesan untuk sang istri, Dinda.


***


Di sisi lain, di salah satu mobil mewah yang terparkir di halaman kantor pengadilan. Terlihat kedua mata Dinda membaca cepat pesan yang di kirimkan oleh sang suami.


Wajahnya terlihat serius sehingga kerutan di keningnya silih berganti.


"Wah, ini benar-benar serius Alia.." ujar Dinda.


"Ada apa mbak?? kenapa?" tanya Alia gusar di jok samping mobil Dinda.


"Sidang benar-benar memanas.."


"Hah?? maksudnya??"


"Sepertinya mantan suami kamu, Rudy sudah tidak waras lagi.."


Wajah Alia bingung mendengar ucapan sang teman.


"Kamu baca aja deh, aku gak sanggup baca hal begitu.." ujar Dinda dengan memberikan handphone miliknya pada Alia.


"Ya Tuhan.. Mas Rudy sudah benar-benar keterlaluan!! teganya dia.." ucap Alia yang tak sanggup berkata-kata.


"Ini benar-benar diluar dugaan, Topan bisa dalam bahaya jika Hakim mendengar ucapan Rudy.." tukas Dinda.


Alia kian gusar.


"Alia harus gimana mbak??" tanya Alia pada Dinda.


"Tunggu, Johan akan kemari dan jelasin bagaimana posisi kamu saat sidang nanti..." sahut Dinda.


Alia gelisah, ia takut jika karena perbuatan mas Rudy maka reputasi juga karir Topan akan hancur karena skandal ini.


Ia tak ingin Topan kehilangan semuanya karena dirinya.


"Tuhan, tolong.. tolong beri petunjukmu.." bisik batin Alia berdoa tulus dari lubuk hati paling dalam.


***


Tanpa di sangka waktu pun terlewat begitu saja. Dan Topan beserta Kevin kembali keruang sidang tanpa Johan.

__ADS_1


Terlihat pihak Rudy juga kembali dengan wajah lebih tenang. Dan itu membuat kubu Topan cemas, entah skandal kebohongan apa lagi uang akan di lantaran oleh Rudy cs.


Tak lama terlihat para petinggi jaksa Agung pun masuk dan duduk di tempat yang di sediakan.


Namun dari sekian yang hadir, tamu anggota sidang kini jumlahnya terlihat bertambah dari sidang awal. Entah apa yang menjadi gosip diluar sana selama masa tenggang itu terjadi.


Mungkin ini akan menjadi sidang tersengit yang paling di seru dan mengemaskan para penilaian hukum.


Tok..tok..tok..


"Harap tenang, sidang perkara saudara Rudy Mahendra dan saudara Topan Syahputra di buka kembali.."


Seketika semua seolah bersiap memulai perseteruan yang sempat tertunda hingga 3 jam lamanya.


Hakim ketua terlihat siap dengan beberapa lampiran di atas mejannya.


"Setelah mengkaji laporan bukti yang di berikan oleh pihak saudara Topan.. maka kami menilai jika bukti tidak bisa menahan tuntutan dari saudara Rudy Mahendra.." ucap sang Hakim Agung membaca laporan yang telah ia susun.


Seketika kubu Rudy menyeringai senyum menang.


Namun kubu Topan meradang.


"Karena, jelas terdapat perkelahian di antara keduanya yang di awali oleh pihak saudara Topan.. oleh karena itu setelah menimbang dan meninjau hukuman atas perbuatan main hakim sendiri oleh pihak Topan maka.. akan di kenakan sangsi yang seharusnya yaitu pasal penganiayaan berupa penjara 1 tahun dan membayar uang denda pada tersakit saudara Rudy Mahendra yang mendapat luka fisik yang cukup parah.." papar hakim Agung yang seketika menimbulkan kekecewaan pada anggota sidang yang menyaksikan jalan sidang tersebut.


"Aku harus banding" bisik Topan di sela-sela pembacaan laporan sang Hakim Agung yang terlihat tidak fair.


Kevin mengangguk.


"Namun.." ucap Hakim Agung tergantung. "Setelah menelaah lebih dalam lagi, para hakim akhirnya memberikan satu kesempatan kepada saudara Topan untuk membuktikan jika dirinya tidak bersalah dengan menunjukkan butik konkret dipersidangan saat ini.." tukas sang Hakim Agung bak angin segar bagi kubu Topan.


"Ada Yang Mulia.." sahut Topan dengan wajah lega.


Rudy mendelik cepat.


"Saya punya bukti kuat yang dapat membersihkan nama baik saya.." timpal Topan dengan yakin.


"Baiklah, dipersilahkan.."


Topan mengangguk pada Kevin seolah memberi kode yang sangat di tunggu.


"Saatnya.."

__ADS_1


__ADS_2