
Di Malam harinya, terlihat dikamar tamu apartemen Johan dan Dinda. Alia sedang merapikan beberapa barang-barang milik ibu Topan.
Sudah beberapa hari mereka tinggal di sana, dan sepertinya merek harus pulang. Alia berpikir pasti situasi sudah aman.
Setelah melipat beberapa baju ibu Topan dan memasukkannya kedalam koper, sekilas Alia menantap wajah ibu Topan yang sedang berdiri menatap luar jendela kamar.
Alia pun mendekat, sembari ikut melihat pemandangan malam ibu kota yang begitu indah dengan banyaknya lampu.
"Cantik ya bu.."
Ibu Topan menoleh. Dan Alia terpanah. Ternyata wanita tua itu sedang menangis.
"Ibu? ibu kenapa?" tanya Alia dengan wajah terkejut dan langsung mengusap air mata wanita paruh baya itu.
Ibu Topan tak menjawab, namun ia terus menangis.
Hati Alia pun jadi cemas mendengar wanita tua itu tiba-tiba menangis tanpa sebab.
"Ibu?? ibu kenapa?? kenapa ibu menangis? hm??" tanya Alia lagi dengan mengusap pundak wanita tua itu.
"E-pan.."
Deg.. Alia terpaku. Ternyata naluri seorang ibu tetaplah ibu, selupa apa pun ia terhadap dunianya, namun tali kasih antara ibu dan anak tak akan putus.
Alia seketika memeluk ibu Topan.
"Ibu rindu mas Topan yaa??"
Ibu Topan hanya menangis.
"Besok..besok kita akan ketemu mas Topan, hm.. Alia janji akan bawa ibu ketempat mas Topan.."
Dan akhirnya ibu Topan menangis di pelukan Alia. Rasa rindu pada sang putra yang sudah lama tak ia lihat membuatnya gundah.
Hingga tak beberapa lama setelah lelah menangis, ibu Topan tertidur pulas.
Alia menantap wajah ibu Topan sangat lama, ada rasa penasaran di diri Alia. Bagaimana sikap ibu Topan dulu sebelum ia jatuh sakit?? . Apakah cerewet?? atau penuh lembut??.
Sekilas ia melihat kemiripan wajah mas Topan di dalam wajah ibu.
Namun tak lama terdengar suara ketukan pintu di depan kamar Alia yang membuyarkan lamunnya.
Tok..Tok..Tok..
Alia menoleh, lalu beranjak bangun dari duduk disamping ibu menuju pintu kamar.
Pintu terbuka dan Alia mendapatkan wajah sang pemilik apartemen.
"Mbak Dinda??"
"Johan sudah pulang.." ujar Dinda dengan wajah senang.
***
Kini Alia, Dinda dan Johan berada di ruang sofa apartemen mereka.
"Topan di nyatakan tidak bersalah.." kata Johan yang akhirnya memberi berita yang sangat di tunggu-tunggu.
Alia langsung berucap syukur dengan wajah lega.
__ADS_1
"Syukurlah.." sahut Dinda yang juga ikut senang mendengar berita baik itu.
"Dan Rudy mendapatkan ganjarannya.."
Alia terpaku begitu juga dengan Dinda.
"Dia sudah mendapatkan apa yang ia tuai, Hakim menjatuhkan hukuman lembaga karena jelas berbohong dan mempermainkan persidangan.. dan tidak hanya itu saja, Rudy juga sudah aku tuntut dengan pasal penculikan terrencana.."
Alia terkaget.
"Penculikan terencana?? maksudnya??"
"Ketika malam itu, kamu dan ibu sudah disini.. Aku dan Kevin curiga jika Rudy punya rencana yang terselubung.. dan benar saja, malam itu sebuah komplotan suruhan Rudy datang dan masuk kerumah.."
Alia benar-benar tak percaya mendengar cerita sang pengacara Johan.
"Jadi??"
"Rudy berencana untuk menculik kamu dan ibu Topan agar Topan tidak bisa berkutik.."
Alia benar-benar syok mendengar penjelasan yang tak pernah ia pikiran sama sekali jika sang mantan suami tega melakukan hal seburuk itu.
"Mas Rudy..benar-benar sudah berubah.. dulu dia bukanlah orang yang seperti itu.."
"Tapi itulah kenyataannya.. semua manusia bisa berubah ketika hal yang paling berharga hilang.."sahut Johan.
Alia hanya bisa menghela nafas, ia masih tak bisa percaya padahal ia sudah berkorban cukup besar untuk mas Rudy agar bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi, mengapa semua berubah..bukankah impian mendapatkan seorang anak sudah ia dapatkan dari Bella. Namun mengapa semua bisa berubah jadi begini. Pikiran Alia terus berputar tentang Rudy yang kini berubah.
"Tapi.." ucap Johan tergantung ragu.
Alia kembali cemas, begitu juga dengan Dinda.
"Topan masih harus di tahan selama 1 bulan.."
"Bukannya mas Topan sudah di nyatakan tidak bersalah, lalu untuk apa lagi di tahan?"
Johan menarik nafas pelan.
"Tapi, tindakan Topan memukul Rudy itu tetap salah di mata hukum, karena itu Hakim memberikan sangsi terringan pada Topan hanya 1 bulan di tahanan.." jelas Johan yang memaklumi ketidak pahaman orang awam seperti Alia dan juga istrinya.
Alia menghela nafas gusar.
"Hanya 1 bulan Alia, setelah itu Topan akan bebas.." jelas Dinda memberi semangat.
Alia menoleh pada teman di sampingnya.
"Hm, iya mbak Dinda terimakasih, terimakasih juga pak Johan sudah membantu mas Topan selama ini.. " sahut Alia datar. "Tapi.."
"Tapi apa??"
"Ibu mas Topan sepertinya sudah sangat merindukan putranya.."
Dinda terkaget.
"Benarkah?"
Alia mengangguk pelan.
"Tadi ibu sempat menangis karena susah lama tak melihat mas Topan.. dan Alia pikir besok ibu dan mas Topan bisa bertemu.."
__ADS_1
Johan menghela nafas begitu juga dengan sang istri.
"Tidak di sangka, ibu Topan masih bisa mengingat anaknya" tukas Johan pelan.
Dinda mengangguk.
"Mungkin itu namanya ikatan ibu dan anak, selupa apapun naluri ibu tetap akan ada untuk sang anak yang menjadi belahan jiwanya.."
Johan tertegun mendengar ucapan sang istri. Seolah tersirat makna mendalam pada ucapan istrinya itu.
***
Di sepertiga malam, Alia yang tertidur lelap tidak menyadari jika ibu Topan tiba-tiba bangun.
Ia melihat sekeliling kamar dengan wajah sedih.
"Pan.. epan.." panggil dengan suara parau. Perlahan ia bangun dan keluar dari kamar untuk mencari putranya.
"Epan..epan?" panggil dengan wajah bingung melihat ruangan yang tampak asing di matanya.
Ibu Topan berjalan mencari sosok sang anak.
"Epan?? epan?" panggilnya lagi.
Namun diluar dugaan Johan baru saja keluar dari kamar kerjanya.
Dan melihat jika wanita paruh baya itu bingung sembari memanggil nama yang asing.
Perlahan ia mendekat pada wanita paruh baya itu.
"Ibu??" panggil Johan dari belakang punggung ibu Topan. Seketika ibu Topan berbalik dan wajahnya berubah senang.
"Epan!!" serunya riang.
Wajah Johan kaget.
Namun tiba-tiba wanita itu berubah marah dan memukul tubuh Johan.
"Kemana?? kemana??" seru ibu Topan dengan memukul Johan. Johan yang kaget reflek menahan tangan ibu Topan.
"Ibu?? ibu ini.." ucap Johan hendak menjelaskan dirinya. Namun di luar dugaan wanita tua itu memeluk tubuh Johan.
"Epaaaaann.." tangisnya pecah.
Johan tertegun.
Ia bingung namun juga kasian pada ibu temannya ini.
"Epan, kemana??" tangis ibu Topan.
Johan hanya bisa menghela nafas lalu membiarkan ibu sang teman menangis.
Hingga entah bagaimana setelah wanita tua itu puas menangis, akhirnya ia tertidur di sofa dengan memegang tangan Johan.
Dan Johan hanya bisa diam tanpa bisa mengelak. Wanita tua itu memegang jemarinya dengan kuat seolah takut anaknya akan pergi.
Menjelang subuh, tiba-tiba pintu kamar utama terbuka.
Dan ketika sang istri keluar dari kamarnya pun, terlihat ia cukup terkaget.
__ADS_1
"Johan?" seru Dinda yang melihat sang suami duduk di lantai dengan memeluk tubuhnya yang kedinginan dan tangan masih tak lepas dari genggam ibu Topan.
"Tolong bantu aku, cepat panggil Alia.." ucap Johan yang matanya sudah sangat mengantuk.