
Selepas menitipkan ibu di rumah jompo. Kini arah mobil sedan itu berputar arah menuju jalur pusat kota.
Di sepanjang jalan, Alia hanya diam dengan memandang jalan dari balik jendela.
Topan hanya melihatnya sekilas, namun terlihat jelas jika wajah Alia khawatir.
"Kamu masih cemas sama ibu??"
Alia terkaget, lali menoleh dengan canggung. Namun ia tak hanya menjawab, tapi dari ekspresi wajahnya terlihat jelas.
"Ibu gak papa kok, mas dulu juga cemas.. tapi ibu Sri cukup mengerti tentang ibu.." jelas Topan tenang.
Alia tak menjawab, ia hanya mendengar dengan tatapan lurus pada jalan yang terbentang.
"Mas, juga udah pesan kamar buat ibu istirahat..jadi ibu tidak akan gabung dengan langit lainnya, bahkan ada satu pengasuh khusus untuk ibu.."
Alia menoleh. Topan pun dengan sadar membalas tatapan Alia dan tanpa di duga sebuah senyum terbingkai untuk Alia.
"Mas pasti memikirkan yang terbaik buat ibu.." ucap Topan lalu tak lama kembali fokus pada jalan raya.
Alia hanya bisa diam, namun ada rasa lega yang tak bisa ia ucapankan.
"Jadi sekarang kita harus bersiap.." seru Topan.
"Bersiap?? sekarang?? apa gak terlalu cepat Mas??" sahut Alia. "Kan acaranya agak sore ya.." sambung Alia mencoba untuk mengingat jadwal yang tertera di undangan mewah itu.
Topan tersentuh kecil.
"Iya.. memang sih, acara pestanya di adakan malam, tapi.."
Alia menyimak dengan bingung.
"Tapi apa??"tanya Alia penasaran.
Topan kembali menoleh dan menatap Alia.
"Kita harus make over.."
"Hah??" sahut Alia terkejut.
***
Dan akhirnya, tanpa mendengar protes dari Alia. Mobil sedan mewah milik Topan akhirnya tiba di salah satu butik yang ternama di ibu kota.
"Mas, Alia.. alia rasa ini terlalu berlebihan" ucap Alia ketika mobil telah terparkir pas di tempatnya dan mesin mobil itu pun mati.
"Gak kok, ini hal yang wajar.. jadi ayo turun.."
"Tapi..Mas!!" seru Alia yang akhirnya hanya bisa melihat sang majikan turun tanpa peduli pada ucapannya sedikit pun.
"Mas Topan.." bisik Alia yang gusar melihat toko butik yang ia rasa cukup ternama.
Sosok sang majikan terlihat telah hilang masuk kedalam toko. Namun Alia masih berada di dalam mobil.
"Ah, biar lah.. Mas Topan saja yang masuk" seru Alia dengan bersikekeh untuk tak meninggalkan kursi mobil mewah itu.
Namun, salah besar jika Alia mengira Topan akan melupakan dirinya yang masih belum beranjak meninggalkan mobil.
Tiba-tiba, seorang wanita muda datang menghampiri mobil Topan. Lalu ia mengetuk kaca pintu mobil itu. Alia mau tidak mau akhirnya membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Mbak, di tunggu sama masnya di dalam" seru wanita muda itu.
"Hah?? hm.. tapi, saya.." jawab Alia ragu.
"Bajunya udah siap kok mbak..udah di pilihin juga sama masnya.."
"Hah? apa??" sahut Alia terkaget tak percaya.
Wanita muda itu tersenyum penuh arti pada Alia.
"Ayo mbak, kasian masnya nunggu lama banget.."
"Ah.. hm..gimana ya?? saya.."
"Bajunya simpel kok mbak, dan bener baju itu cocok buat mbak.. saya yakin mbak juga bakal suka sama pilihan masnya.. kelihatannya masnua juga paham selera mbak.."
Alia mendengar dengan heran.
"Ayo mbak.."ajak wanita muda itu lagi.
Alia jadi serba salah. Hatinya enggan tapi tatapan wanita muda itu membuatnya kian merasa bersalah.
"Yuk mbak.." ajak wanita itu dengan menarik pintu mobil agar lebih terbuka.
Alia akhirnya tak punya pilihan lain selain turun dengan suka rela. Wanita muda itu berjalan lebih dahulu di hadapan Alia, alia akhirnya mengikutinya dari belakang.
Pintu butik terbuka, kaki Alia akhirnya masuk kedalam toko butik tersebut. Dan tanpa di sangka beberapa karyawan di sana menyambut Alia dengan senyum.
Di sisi berbeda Topan keluar dengan sebuah senyum terlebare menatap Alia yang masih terpaku.
"Gimana?? bagus gak?" tanya Topan pada Alia.
"Ah.." Bibir Alia seketika kaku untuk menjawab.
Topan mengkancing lengan bajunya lali sesekali menatap Alia yang ia tebak pasti sangat terkejut dengan penampilannya yang berbeda dari biasanya.
"Bagus gak?" tanya Topan mengulang.
Alia tersadar namun wajahnya berubah ragu.
"Hm, maaf mas.." sahut Alia pelan.
Topan terpaku.
"Kenapa??"
"Itu.. itu warnanya terlalu.."
Topan mencoba mencerna dengan melihat ekspresi wajah Alia yang terlihat kaku.
"Kenapa dengan warnanya??"
Alia melihat pada beberapa karyawan disana yang seolah menanti jawaban Alia. Namun karena merasa tidak enak Alia melangkah sedikit mendekat pada Topan.
Alia meminta untuk sang majikan sedikit menurunkan tinggi badannya. Lalu dengan gerakan kaku, Alia menaruh telapak tangannya di dekat bibir.
"Anu Mas, itu warna kemeja batiknya terlalu nyentirk banget..gak cocok"
Deg.. Topan terkaget lalu dengan melihat pada kemeja yang berada di tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Masa sih??" seru Topan spontan.
Alia mengigit bibir risau.
"Padahal coraknya bagus loh.." tukas Topan.
Para karyawan butik itu saling melirik satu sama lain. Dengan wajah canggung Alia reflek mengikuti lengan Topan untuk tidak memperbesar suaranya.
Topan pun sadar. Lalu melihat sekitar dan berubah diam.
"Jadi.. bagusnya warna apa??"tanya Topan bernada rendah.
Alia hanya menoleh dan melihat sekilas. Lalu ia berjalan pada jejeran baju kemeja batik di sudut ruangan.
Setelah memilih beberapa kemeja di tangannya, Alia kembali dan membawa kemeja itu untuk sang majikan.
"Ini.. ini warna kalem dan cocok buat mas"
Topan melihat sekilas, pada kemeja dengan warna -warna yang terlihat jarang ia suka. Namun setelah menimbang karena ini pilihan sang pembantu, akhirnya ia pun menerima gantungan kemeja itu.
"Ya udah.. Mas coba test dulu yaa.."
Alia tersenyum simpul. Dan Topan pun berlalu pergi menuju ruang fitring room.
***
Selang beberapa menit akhir Topan kembali dengan wajah ceria.
"Alia.." seru Topan memanggil. Dan Alia berbalik pada asal suara.
Seketika Alia terpanah. Sang majikan terlihat berbeda, warna yang ia pilihan sang cocok untuk Topan.
"Ternyata warnanya ini bagus juga yaa.. Mas gak pernah kepikiran sama ini warna.. soalnya kayak warna untuk orang tua atau untuk ibu-ibu gitu.. "
Alia tanpa sadar tersenyum.
"Ini cocok dan pas dengan aura Mas.. bijaksana dan wibawa, mas keren" ujar Alia tenang.
Deg.. Topan terpaku ketika mendengar pujian sang pembantu. Dan tanpa sadar membuat Topan salah tingkah dan malu bak anak SMA yang baru saja di puji oleh sang kekasih hati.
"Ya udah deh, mas mau pakai ini aja.." seru Topan yang seketika merasa percaya diri.
Alia hanya tersenyum simpul.
Topan menatap Alia.
"Nah, sekarang giliran kamu.."
Wajah Alia langsung berubah.
"Mas.."
"Kamu udah make over mas.. sekarang giliran kamu Alia.." ujar Topan. Lalu ia memanggil seorang karyawan butik. "Tolong ubah wanita ini.."
Alia terkaget.
"Mas, Alia.."
Namun Topan tak peduli ia malah menjauh dan membiarkan dua orang karyawan wanita menahan Alia dan membawanya hilang di balik tirai.
__ADS_1