
Tak terasa, pernikahan Alia dan Topan sudah melewati 2 minggu. Dan di libur kali ini, Topan sengaja meluangkan waktu untuk bisa mengajarkan Alia menyetir mobil yang baru ia beli.
Topan sedang berpakaian dan tak lama Alia pun berpakaian dengan merapikan sedikit bajunya.
Sekilas tatapan Topan tertuju pada kemeja sederhana sang istri yang di padu dengan celana berwarna gelap. Topan memperhatikan dengan detail pakaian yang di kenakan istri.
Alia masih dengan aktivitas tanpa menyadari tatapan sang suami. Terlihat Alia menyisir rambutnya yang panjang sepunggung.
Tanpa sengaja Alia memergoki tatapan sang suami yang terpaku.
"Mas??" panggil Alia.
Topan tersadar.
"Ya??" sahut Topan cepat dengan mendapatkan wajah sang istri pada pantulan kaca.
"Liat apa sih??" tanya Alia.
"Ah, gak cuma masih suka gak percaya aja.."
"mh?? gak percaya??" seru Alia bingung.
Topan tersenyum lalu memeluk Alia dari belakang.
"Masih gak percaya, kalau sekarang sudah menjadi suami kamu.."
Alia tersenyum.
"Ikh, udah 2 minggu juga masa mas masih gak percaya??" sela Alia geli ketika Topan mulai mengecup sisi lehernya.
Topan tak menjawab, ia masih betah memeluknya manja.
Alia menantap pantulan dirinya di hadapan cermin. Terlihat jelas jika pria yang sedang memeluknya ini begitu manja.
Tanpa sadar tangan Alia menyentuh wajah sang suami. Dan sesekali mencubit usil pada pipi sang suami.
"Auw.." desis Topan yang reflek terkejut dengan cubitan sang istri.
Alia terkekeh.
"Gimana?? udah percaya belum?" tanya Alia mengoda.
Topan mererai pelukannya dan meraih pundak Alia lalu membawa wajah sang istri ke hadapannya.
Tatapan keduanya bertemu. Topan dapat menatap wajah teduh Alia yang terus berseri. Wajah natural dengan rambut yang kini mulai sering tergerai.
"Kenapa???" tanya Topan.
Kening Alia tertaut bingung.
"Kenapa mas gak dari dulu cari kamu yaa??"
"Hm??" gumam Alia bingung dengan pernyataan sang suami.
Melihat wajah sang istri bingung, Topan langsung membawa Alia kedalam pelukannya.
Topan memeluk Alia dengan erat seolah tak ingin melepaskan wanitanya ini.
Alia yang hanya bisa membalas pelukan itu dengan perasaan senang.
"Walau banyaknya jalan pahit yang terlewatin, tapi jika pada akhirnya aku bisa memiliki kamu di waktu ini.. maka aku gak akan sia-siain setiap waktu untuk bisa melihat kamu tersenyum.." gumam batin Topan. "Tugas ku masih banyak untuk membuat kamu bahagia, masih banyak PR yang belum aku lakukan untuk kamu, doakan aku masih punya banyak waktu dan tenaga untuk membahagiakan kamu sayang, istri ku, Alia" doa tulus Topan di dalam hatinya.
Alia yang tidak mengetahui hal itu, hanya membalas pelukan suami.
Lalu tak lama, Alia mererai pelukannya itu. Dan tak lama Alia sedikit menjinjit untuk dapat mwngecup bibir sang suami.
Cup..
Topan membalas dengan senyum.
"Alia beresin ibu dulu yaa.."
__ADS_1
Topan mengangguk.
"Ya.."
Alia pun berlalu meninggalkan Topan sendiri dikamar Utama.
Topan menghela nafas panjangnya. Dan ia kembali hendak bersiap di depan kaca. Namun tatapannya tertuju pada satu lipgloss milik Alia.
Topan mengambil lipsgloss itu dan membukanya. Dan seketika tatapannya berubah dengan pikirannya yang terus berkecambuk.
***
Dan ternyata arah mobil Topan pun berubah haluan cukup jauh dari tujuan awal. Yang tadinya ingin mengajarkan Alia mobil kini, Topan membawa sang istri ke sebuah malu mewah.
Ketika mobil Topan memasuki halaman parkir mall. Alia pun bengong dengan wajah heran.
"Mas?? kok kita jadi kesini?? bukannya.."
Topan hanya mendengar tanpa menjawab lalu mematikan mesin mobil.
"Mas??"
"Yuk kita turun.." ajak Topan dengan berlalu turun dari mobil.
Alia pun hanya bisa mengikuti perintah suami dan membawa ibu mertuannya ikut turun.
Lalu ketika berada di dalam mall termewah di ibu kota, tiba-tiba Topan berhenti dan meraih lengan ibu dari tangan sang istri.
"Sini, ibu sama mas aja.." ujar Topan.
Alia terkaget.
"Loh mas??"
"Dan ini buat kamu.." seru Topan sembari mengeluarkan salah satu kartu platinumnya dan memberikannya pada sang istri.
Alia bingung.
"Ini?? untuk apa??" tanya Alia yang heran.
"Mas??"
"Kamu pasti perlu sesuatu untuk diri kamu.. sana pergi beli apa yang kamu ingin.." kata Topan dengan membalikkan pundak sang istri yang masih tak percaya.
"Tapi mas?? ibu.."
"Udah sana.. jangan mikirin ibu.. gantian mas yang mau berduaan sama ibu.."
Alia terlihat sulit.
"Udah.. sana jalan.." perintah Topan lagi pada sang istri yang masih menantap kebelakang.
Topan memberi senyuman kecil lalu mengandeng tangan sang ibu berjalan, berlalu pergi kearah berbeda dan meninggalkan Alia begitu saja.
Tinggallah Alia yang hanya bisa bengong dengan tingkat sang suami.
***
Dan akhirnya Alia pun pergi dan berkeliling mall mewah itu.
Ia berputar sendiri di dalam mall yang cukup luas. Mall mewah itu tidak asing bagi Alia, dulu ia kesana bisa sebulan 2 atau 3 kali. Dan ia pun akan masuk kedalam beberapa counter brand ternama.
Tak lama, langkahnya pun berhenti di salah satu counter yang biasa ia kunjungi.
Alia berdiri lama di luar dengan menatap kaca estalase yang terpajang beberapa patung dengan memperlihatkan beberapa model baju terbaru.
Alia berpikir cukup lama.
Karena, setelah ia bercerai dan menjalani hidup miskin, Alia jadi paham betul arti uang yang sebenarnya. Dulu jika membeli baju dengan nominal 1 juta atau 2 juta maka sekarang mungkin Alia akan memilih harga di bawah itu dengan bahan yang sama.
Alia menghela nafas panjang. Ia jadi sungkan dan tak ingin masuk kedalam sana.
__ADS_1
Namun, tanpa di sangka seorang wanita datang menghampiri Alia.
"Alia?" seru seorang wanita dengan suara lembut.
Alia menoleh dan seketika terkejut.
"Eh, mbak Desi??"
"Iya, aku baru aja sampai sama Kevin.. kamu sama Pak Topan??"
Alia mengangguk.
"Iya, tapi mas Topan sama ibu udah ketempat lain.."
"Oooh.." seru Desi mengangguk. "Eh, kamu kesini juga? masuk yuk?? mereka punya model terbaru.." ajak Desi dengan mengandeng tangan Alia.
Alia hanya bisa ikut tanpa menolak.
Dan akhirnya Alia pun menginjakan kembali kakinya di counter mewah itu.
Dan ternyata Desi, istri Kevin cukup fashionabel. Gaya fashionnya sama dengan Alia dulu.
Hingga tanpa di duga, Alia jadi ikutan membeli dua potong dress selutut dengan warnanya kalem.
Akhirnya Desi pun menjadi teman belanja Alia.
Beberapa counter pun mereka masukin, namun gaya belanja Alia sudah berbeda jauh dengan Desi yang terbilang masih lapar mata.
Ia akan membeli sesuatu yang ia anggap imut dan lucu. Namun Alia akan lebih menimbang dari segi butuh dan cocok.
Namun, setelah berbelanja bersama di beberapa counter, pada akhirnya Desi harus berpisah dari Alia. Karena Kevin menelfon karena anak mereka sedang mengamuk.
"Duh.. ck.. bikin kesel aja.." rutu Desi.
"Kenapa mbak??"
"Ini, mas Kevin telfon kalau anakku Zera nangis.. padahal gak kedengaran juga tuh suara tangis si Zera.." rutu Desi kesal dengan mematikan handphonenya.
"Jadi kasian deh kamu, jadi belanja sendiri.." seru Desi dengan mulut manyun.
Alia tersenyum.
"Gak papa kok mbak, ini Alia cuma liat di coubter wacola sebentar, setelah itu langsung balik juga kok.."
"Ikh, rugi deh.. maunya kamu muter aja lagi, tuh ada Zz yang lagi masuk tas baru, dan itu tau kan Xx yang juga lagi masuk sepatu baru.. bagus-bagus loh.. beli aja.." hasut Desi pada Alia yang terlihat hanya baru membeli beberapa belanjaan.
Alia mengangguk.
"Iya mbak, iya.. tar Alia coba kesana deh.."
"Iya harus tuh, mumpung card suami di tangan, hajar aja.. kapan lagi loh, mereka udah kerja kan uangnya buat kita habis kan.." seloroh Desi dengan tawa lepas.
Alia ikut tertawa sebagai basa basi.
"Ya udah, aku duluan yaa.. tar kapan-kapan kalau belanja lagi kabarin aja aku.. kapan aja aku bisa kok temenin kamu belanja.."
Alia mengangguk.
"Iya mbak..".
"Ya udah, aku duluan yaa.."
"Oke.."
"Bye.."
"Bye.." balas Alia yang akhirnya di tinggal oleh Desi.
Alia menghela nafas panjangnya.
Sungguh dunianya sudah banyak berubah. Mungkin motto hidup Alia yang dulu sama seperti Desi saat ini, tapi semua sudah berubah. Jika butuh beli, tapi tidak dalam kondisi lapar mata yang akan membeli barang-barang un faedah dan akan menumpuk dilemari.
__ADS_1
Dan akhirnya Alia kembali melanjutkan belanjanya sebelum ia kembali pada sang suami yang sudah terlalu lama ia tinggalkan.
"Duh, jadi inget ibu.. apa cari bra ibu aja yaa.. kasian punya ibu beberapa udah gak bagus lagi.." gumam batin Alia yang melangkah pada toko underwear wanita.