Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Baby boy


__ADS_3

Dan sang calon Paman tiba-tiba naik pitam ketika mendengar telfon dari Topan.


"APA? KAU TIDAK JADI TERBANG!!" Johan mematung.


"Hm, ya.. untuk beberapa bulan ke depan aku masih berkantor di Bastian Jakarta.."


"Tidak bisa!!" tolak Johan tegas. "Sudah ada beberapa klien yang menunggu kau Topan.."


"Ya, tapi aku tidak mungkin meninggalkan istri ku.."


"Kau ini sudah di butakan oleh istri mu!!" ketus Johan kesal.


"Dia sedang hamil" sela Topan dari balik telfon.


Johan terdiam.


"Hamil?"


"Ya, sekitar 6 minggu, dan kata dokter Alia di larang terbang di usia kandungan masih terlalu muda.." jelas Topan tenang.


Johan mengepalkan tangannya memukul meja kerjanya. Lalu tak lama, ia menghela nafas.


"Ya sudah.. aku akan utus Zidan sementara ke Batam.. tapi kau harus bereskan semua tugas Zidan disini bersama Dodi" tukas Johan.


Terdengar tawa renyah Topan.


"Terimakasih, kau memang musuh mengerti aku.."


Johan menyeringai kecil. Ia benar-benar benci keadaan yang menyangkut urusan dengan wanita dan itu membuatnya lemah.


Komunikasi itu pun terputus. Dan Johan hanya bisa mengalah.


Namun ia kembali mengingat ucapan Topan jika istrinya Alia yang baru dua bulan di nikah, kini sedang mengandung buah cinta mereka.


Johan menyeringai kecil, seolah ada rasa yang mengelit juga tak bisa ia jelaskan didalam hatinya.


Sesaat Johan mengingat akan istrinya Dinda. Tadi pagi tanpa sengaja Johan melihat beberapa alat testpeck di dalam laci rias sang istri.


"Maafkan aku Dinda.. aku tidak bisa mengizinkan kau hamil..aku tidak ingin kehilangan kau walau aku pilihannya aku tak bisa memiliki seorang anak.." bisik batin Johan yang sedikit iri pada kebahagian dalam pernikahan Topan. (Baca kisah Pengacara Johan B. Bastian dan Dinda Gandis di "I Choose To Love You") 😘😘


***


Dan bulan-bulan penantian pun di mulai. Topan benar-benar hadir sebagai calon ayah yang siaga.


Terbukti karena Topan tiba-tiba menyewa salah satu apartemen yang dekat dengan kantornya. Ia sengaja pindah, karena tak ingin Alia tinggal sendiri selama ia bekerja.


Jadi Topan memilih untuk menyewa salah satu apartemen yang sama dengan Johan. Hanya saja berbeda Block.


Dinda merasa senang dengan kabar Alia yang pindah dekat dengan apartemennya.


Ia merasa ada teman jika pulang cepat dari butiknya.


"Jadi, Alia kamu apa sering mual??"


Alia menggeleng.


"Syukurnya enggak, mbak.. Alia juga rasa heran.. Gak mual tapi yaa ada sesekali pusing tapi itu jika kalau telat makan aja" jawab Alia dengan memilih salah satu kue dari toko cake dr. Dessert.


Dinda menantap punggung Alia. Ada tatapan iri disana, ketika mendengar perasaan Alia selama ia hamil.


"Kok mbak suka banget sih ke toko cake ini??" tanya Alia.


Dinda tersadar, lalu kembali memilih beberapa roti untuk ia bawa pulang.

__ADS_1


"Hm, karena pemiliknya ini teman mbak, namanya Marwah.."


Alia berbalik.


"Marwah??"


"Ya, kembar sih kakaknya Safa dan nama adiknya Marwah.."


"Oh.." sahut Alia mengangguk. "Alia juga suka sih beli di sini tapi gak pernah dengar namanya pemiliknya Marwah.."


Dinda tersenyum lalu menyudahi memilih roti yang ia rasa sudah cukup.


"Dia memang gak disini..karena sedang patah hati.." jawab Dinda sembari berlalu menuju kasir meninggalkan Alia yang terbengong.


"Hah?? patah hati?" seru Alia dengan mengikuti langkah Dinda menuju kasir.


Dinda langsung mengeluarkan dompet untuk membayar, namun ketika Alia mendekat, tanpa pikir panjang Dinda langsung hendak meraih nampan Alia.


"Udah sini punya kamu"


"Eh, jangan mbak.."


"Udah gak papa.."


Alia gusar ketika Dinda malah meraih nampan miliknya yang terlihat banyak roti.


"Udah gak papa, ini kan buat si bayi makan kan.."


"Tapi mbak.."


"Santai aja, tolong di hitung mbak semua.." ujar Dinda tanpa menghiraukan rasa tak enak Alia.


"Kamu perlu makan banyak, usia kandungan segini memang harus di suport sama makanan sehat.." ujar Dinda sembari menantap perut Alia yang sudah hampir kelihatan menonjol.


Dinda hanya tersenyum simpul, tapi jauh di hatinya sebenarnya ia hanya ingin memenuhi hasratnya yang juga ingin merasakan moment hamil seperti Alia. Namun sampai usia pernikahan menginjak satu tahun Dinda tak kunjung hamil.


Dan hari-hari Alia terlewatkan dengan sangat bahagia. Dikelilingi oleh orang-orang yang begitu baik juga peduli seperti Dinda dan suaminya Johan.


***


Waktu pun berlalu, perut Alia kian menonjol. Pagi ini, Alia dan juga Topan kembali memeriksa kandungannya yang sudah memasuki bulan ke 4 setengah.


Di pemeriksaan kali ini dokter memberi ucapan selamat pada Alia dan Topan. Karena jenis kelamin calon bayi mereka adalah seorang anak laki-laki.


Topan sangat bersemangat menyambut calon anak laki-lakinya itu yang kini terlihat tumbuh sempurna didalam perut sang istri.


Jari-jari kecilnya tumbuh sempurna, garis wajah juga terlihat dari hasil USG yang lebih mirip dengan wajah Topan.


"Waah, ini dedeknya malah mirip ayahnya??" ujar sang dokter dengan menantap layar TV yang memperlihatkan kondisi bayi Alia dan Topan dari alat USG.


Alia tersenyum penuh arti. Tatapannya begitu lekat menantap layar monitor. Wajah sang bayi begitu mengemaskan. Mau mirip siapapun, Alia berharap bayinya tumbuh dengan sempurna didalam rahimnya.


"Cepat besar sayang, Bunda gak sabar nunggu kamu lahir" bisik batin Alia menatap haru pada calon bayinya.


Setelah hasil USG selesai, dokter memberikan beberapa obat vitamin tambahan. Karena Alia sering lemas.


"Coba makan bubur kacang hijau dan makan daging.. itu bagus untuk menambah tenang bagi ibu hamil.." saran Dokter dengan tangannya menulis cepat di atas buku resep.


Alia mengangguk pelan.


"Iya dokter.. Alia akan ingat itu.."


"Bagaimana dengan kondisi Alia jika terbang?? apa sudah bisa dokter??" tanya Topan.

__ADS_1


Dokter berhenti sejenak.


"Ya, secara keseluruhan kondisi bayi dan ibu sehat.. jadi mbak Alia sudah bisa terbang, namun.. tetap tolong jaga kesehatan ya ibu Alia.. pakai masker untuk jaga-jaga dari virus" jelas dokter.


Topan dan Alia serempak mengangguk paham.


"Baik dokter.."


"Jadi kapan mau terbang??"


"Hmm, mungkin minggu depan.."


"Oh, kalau begitu akan saya buat surat pengantar yaa.."


"Terimakasih, dokter" sahut Topan dengan wajah lega.


Akhirnya ia bisa membawa sang istri bersama untuk tugas di tempat baru. Karena kalau tidak, Johan akan mulai menugaskan dirinya di sidang-sidang berat yang membosankan lagi.


Alia menantap Topan. Topan pun membalas. Lalu perlahan tangan Topan mengusap sayang pada perut sang istri.


***


Setelah selesai berpamitan dengan sang dokter. Keduanya bersama keluar menuju ruang bawah.


"Mas, bisa beliin manisan mangga di depan situ gak??"


"Dimana??"


"Ada disitu.. kayak ya enak deh, Alia mau.." pinta Alia manja.


"Tapi, mas mau ambil obat kamu dulu.."


Alia menarik kertas resep itu dari tangan sang suami.


"Biar Alia aja yaa, sekalian Alia mau beli crem Mustela untuk Perut.."


Topan merasa berat.


"Tolong ya mas, beliin manisan mangga itu.." pinta Alia lagi.


Namun melihat Alia begitu ingin, Topan tak tega walau sebenarnya ia berat karena jika dilihat tempat manisan mangga itu tidaklah bersih.


"Hm?"


"Ya udah..Mas beli"


Seketika Alia tersenyum.


"Makasih ya mas" ucap Alia dengan berlalu pergi meninggalkan sang suami begitu saja.


"Nanti mas tunggu di mobil saja" seru Alia dari jauh.


Topan hanya bisa menghela nafas melihat sang istri yang begitu mandiri.


Dan akhirnya Topan pun harus membeli manisan mangga itu demi sang istri.


***


Alia berjalan sembari membaca resep obat dan handphone di tangannya. Hingga saat ia berjalan tanpa sengaja ia menyenggol seseorang.


Plak.. handphone Alia terjatuh kelantai.


"Ah, maaf.. maaf mbak" seru wanita itu yang cepat-cepat meminta maaf dengan mengambil handphone Alia yang terjatuh.

__ADS_1


"Ya..ya, gak pa-pa.." sahut Alia yang seketika terpaku melihat pada sosok tak terduga.


__ADS_2