Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Hari H


__ADS_3

Ke esokan paginya. Topan yang berada di ruang berbeda sedang bersiap dengan pakaian kemeja putih dan celana hitam. Ia mengancing lengan kemejanya secara bergantian.


Hari ini adalah hari yang sangat penting. Bagaimana tidak, sudah hampir 3 bulan ia berada di dalam penjara sementara karena kasus yang dibuat oleh Rudy Mahendra.


"Hari ini.. aku akan membuka matamu lebar-lebar Rudy, dan hari ini aku akan membuat kau paham jika berlian yang sudah kau buang tak akan bisa kau miliki lagi walau kau harus membayar dengan harga mahal sekali pun" bisik batin Topan dengan merapikan penampilannya.


Dan tak lama, terdengar suara ketukan pintu.


Tok..tok.. seorang polisi masuk dengan wajah tegas.


"Sudah siap??"


Topan berbalik dengan menatap sang polisi.


"Ya, siap.."


Sang polisi pun mempersiapkan sang terdakwa untuk keluar dari ruangannya guna menuju ruang persidangan yang akan di gelar dua jam lagi.


***


Di sisi lain, ada Kevin dan Johan yang tengah berdiskusi kecil di sela-sela waktu senggang mereka menunggu jadwal sidang.


"Aku yakin Rudy tidak akan hadir.." tebak Kevin.


"Hm, belum tentu.." sahut Johan.


Kevin menatap.


"Aku yakin sekarang amarahnya tak bisa ia tahan lagi, dan mungkin saja ia akan meledak saat persidangan.


"Semoga ia tidak terserang srtoke.." doa Kevin menimpal.

__ADS_1


Dan saat diskusi mereka tengah serius, tiba-tiba sosok Topan pun akhirnya muncul dengan di kawal oleh seorang polisi.


Kehadiran Topan sedikit membuat diskusi itu buyar. Mereka bertiga saling berjabat tangan dengan saling memberi suport.


"Semangat.. ini akan sangat seru.."celetuk Kevin.


"Aku percaya padamu" sahut Topan dengan memukul wajar pundak Kevin, seolah ia tengah memberikan masa depan ya di tangan sang teman.


Tak lama Topan pun beralih pada Johan yang menatapnya tenang.


"Bagaimana kabar ibuku dan Alia..:


"Mereka berdua sehat.. sangat sehat selama berada dirumah ku.." sahut Johan apa adanya.


"Syukurlah, ternyata kau tuan rumah yang cukup baik.."


Ketiganya tertawa renyah mendengar guyonan garing Topan.


"Jadi bagaimana, kalian sudah siap untuk melawan Rudy??" tanya Topan.


"Ya, kita akan keluarkan step by step.. agar rencana kita rapi.."


Johan hanya mengangguk tanpa menyela.


"Tapi, jangan lengah, kita tidak tau rencana abu-abu yang bisa saja Rudy lakukan.." Johan memberi peringatan.


Topan mengangguk setuju.


***


Di lain sisi, terlihat Alia dengan pakaian rapi hendak bersiap pergi.

__ADS_1


Namun sebelum ia pergi, Alia menghampiri ibu Topan yang duduk di kursi ruang TV apartemen Dinda dan Johan dengan menonton Discovery Cannel.


Alia meriah jemari ibu dan mencoba menarik perhatian wanita paruh baya itu agar menantap dirinya.


"Bu??"


Wanita itu menatap Alia dengan tatapan kosong. Sejenak Alia dapat melihat warna mata ibu Topan yang sedikit kecoklatan.


"Ibu, untuk hari ini tolong doakan Mas Topan yaa.. hari ini adalah hari sidang yang menentukan masa depan anak ibu.. Alia pergi untuk memberi dukungan pada mas Topan ya..sebentar saja.." tutur Alia lembut.


Sesaat kedua tatapan itu bertemu.


"Can-tik.." ujar ibu Topan terbatah.


Alia terperanjah.


"Ibu??".


"Suk-ma, can-tik.." ulang ibu Topan dengan respon yang datar.


Alia terharu, lalu dengan cepat mencium punggung tangan ibu Topan.


"Terimakasih bu.." sahut Alia dengan suka cita. "Ibu, nanti jika mas Topan sudah bebas kita akan jalan-jalan yang buat ibu senang yaa" tutur Alia berjanji.


"Alia pergi ya bu..baik-baik sama bik Asih.." kata Alia yang akhirnya pergi dari hadapan ibu Topan.


Dan terlihat Dinda tersenyum kecil.


"Sudah siap??"


"Ya, mbak Dinda.. Alia sudah siap.."

__ADS_1


Dengan senang penuh arti kedua wanita itu pun pergi meninggalkan apartemen Johan dan meninggalkan ibu Topan sementara waktu bersama seorang bibik yang di percaya.


"E-pan.." tutur ibu Topan spontan. Namun tak lama ia kembali menatap layar tv itu dengan wajah tenang.


__ADS_2