
Sore harinya, Topan tiba di rumah. Rasa lelah begitu merajai tubuh dan pikirannya saat ini. Bahkan ia dapat merasakan nyeri sakit kepala sebelah yang kian memberatkan kepalanya.
Ketika tiba di depan pintu rumahnya, Topan yang biasanya mendapat sambutan dari dalam rumah kini hilang. Tak ada lagi suara riang memyambutnya pulang.
Topan menarik nafas panjang lalu mencoba untuk mengetuk pintu, karena ia sudah tidak membawa kunci rumah seperti dulu.
Tok..tok.. suara pintu terdengar.
Namun tak ada suara dari dalam rumah. Dan hal itu mengharuskan Topan untuk mengetuk kembali pintu rumahnya.
Tok..
Ketika ketukan ketiga terketuk, tak lama pintu terbuka.
Brak..dan sosok Alia muncul dengan wajah sendu.
Topan terpaku, karena tak ada lagi senyum di wajah wanita cantik itu.
Setelah beberapa detik saling terpaku, Alia membuang tatapanya dan berlalu pergi meninggalkan Topan yang masih berdiri di depan pintu.
Topan hanya bisa menghela nafas pelan.
***
Malam harinya, Topan melewatkan jam makan malam karena sakit kepala yang tak bisa ia atasi. Hingga tepat di jam 10 Topan keluar dari kamarnya dengan niat untuk mencari obat migrain di kotak obat cadangan di dapur belakang.
Namun ia terkaget ketika melihat Alia duduk di meja makan seorang diri.
"Alia.." seru Topan memanggil dan perlahan mendekat kearah meja makan itu.
Seketika Alia bangun dari duduknya.
"Kenapa kamu masih di sini??" tanya Topan heran, karena biasanya jam 10 Alia sudah beristirahat di kamarnya setelah membereskan ibu Topan.
Terlihat Alia mengambil satu paper bag dan menaruhnya di atas meja.
"Mas Topan.."
Kening Topan bertaut bingung.
__ADS_1
"Ada apa Alia??"
Alia menghela nafas pelan.
"Mas Topan, sepertinya Alia.." ucap Alia tergantung ragu. Namun beberapa detik kemudian wajah Alia berubah yakin.
"Alia ingin berhenti bekerja.."
Deg.. Topan terteguh tak percaya.
"Alia rasa, Alia tidak bisa bekerja di sini lagi.."
"Kenapa?? apa karena kejadian kemarin??" cecar Topan yang langsung menyambut ucapan Alia.
Alia menatap Topan dan tersirat wajah kecewa di sana.
"Mas minta maaf, Alia.." ucap Topan dengan hendak meraih lengan Alia.
Dan sedetik kemudian Alia reflek mundur, ia mencoba menghindar gapaian lengan Topan.
Topan terhenti.
"Mungkin memang lebih baik Alia pergi, karena.. Alia mulai tidak nyaman jika tetap disini bersama mas yang seorang pria.." ucap Alia tegas.
"Tidak Alia.."
"Kejadian kemarin cukup sebagai contohnya.." tegas Alia.
"Alia, Alia mas minta maaf.. kejadian kemarin mas yang salah karena.. " ucap Topan tergantung berat.
"Karena apa??" tantang Alia berani.
Saliva Topan turun dengan pahit.
"Karena ada teman mas yang ingin mas hindari?? lalu semudah itu mas mengambil jalan pintas?? dengan menjadikan Alia sebagai.." ucap Alia dengan nada marah.
Topan terteguh, wajah kecewa dan sedih Alia terlihat jelas.
"Apa setiap wanita begitu rendah di mata kalian para pria yang dengan mudah menjadikan wanita sebagai alatnya??" cecar Alia sedih.
__ADS_1
"Alia.." desis Topan yang tidak menyangka akan kemarahan Alia begitu besar.
"Hanya untuk menghindari seorang teman mas memakai cara terendah seperti itu?? apa pantas??" timpal Alia kecewa.
"Karena hanya seorang teman??"
"Dia adalah Rudy Mahendra.." potong Topan mengalihkan kemarahan Alia.
Dan detik itu juga raut wajah Ali berubah mematung.
"Ya, teman yang ingin mas hindari adalah Rudy Mahendra.. mantan suami kamu, Alia" ulang Topan.
"Mas Ru-dy??" ucap Alia dengan kembali mengingat saat itu, bahwa benar pria yang sempat ia lihat di tempat acara adalah mantan suaminya.
Nyit.. ada rasa nyeri di hati Topan ketika melihat rasa keterkejutan sang pembantu ketika mendengar nama Rudy Mahendra.
"Tapi.. kenapa?? Mas??" ucap Alia tergantung ragu.
Topan menatap wajah Alia dengan lekat.
"Karena mas, tidak suka kamu bertemu dengan Rudy.."
Deg.. Alia tercengang mendengar jawaban sang majikan yang terdengar penuh penekanan.
"Jangan pergi Alia, mas mohon.." pinta Topan kembali dengan nada memelas. "Mas akan berusaha untuk menjaga sikap mas agar tak kembali melakukan kesalahan seperti kemarin dan hal-hal yang membuat kamu tidak nyaman untuk berada dirumah ini.."
"Mas Topan??"
"Demi ibu.." pinta Topan yang tak punya alasan lain selain menjadikan ibunya sebagai alasan yang tepat.
Alia menatap wajah keseriusan sang majikan. Namun perlahan tatapan Topan yang terlihat sedih laluberpaling dan meninggalkan Alia begitu saja masuk kedalam kamarnya kembali melupakan niatnya untuk mengambil obat sakit migrainnya.
Alia terpaku dengan perasaan campur aduk.
***
Di sisi lain, Topan yang masih berdiri di balik pintu kamarnya dengan perasaan yang cukup menguras hatinya.
"Aku akan menahan mu, bagaimana pun caranya" bisik batin Topan dengan mengepalkan tangannya.
__ADS_1