
Keesokan paginya. Setelah melewati malam panas bersama sang istri. Kini Topan bersiap untuk kekantor.
Alia yang sudah lebih dahulu bangun, kini berada di luar kamar dengan aktivitas keseharian ya seperti biasa.
Namun satu hal tak terduga pun terjadi.
Tiba-tiba Alia berlari cepat dan membuka pintu kamar dengan wajah setengah pucat.
"Mas.. Ibu mas..IBU!!" seru Alia yang panik.
Topan yang hendak memakai dasi pun terhenti meliabr wajah kepanikan sang istri.
"Ada apa Alia??"
"IBU MAS..IBU IBU GAK SADAR!!" seru Alia yang hampir menangis.
Deg. Topan terkejut.. Dan tanpa pikir panjang ia langsung berlari keluar dari kamar menuju kamar sang ibu.
Topan meraih sang ibu yang tertidur di atas tempat tidurnya. Topan memeriksa cepat tangan dan suhu tubuh ibu.
Wajah Topan begitu cemas ketika mendapat wajah pucat sang ibu dengan jari jemari yang dingin.
"Buk?? ibu??" panggil Topan panik mencoba menyadarkan sang ibu yang masih tertidur.
"Alia, ambil kunci mobil cepat!! kita bawa ibu kerumah sakti.." perintah Topan pada sang istri.
"Iya mas.." sahut Alia yang dengan segera berlari menuju kamar utama untuk mengambil kunci mobil sang suami.
Topan dengan cepat mengangkat tubuh sang ibu. Pikirannya begitu kalut, ia cemas luar biasa.
"Ibu, ibu aku mohon bertahanlah.." pinta Topan yang takut.
***
__ADS_1
Kepanikan pagi itu pun kini berpindah pada sarunruang UGD di salah satu rumah sakit swasta yang jaraknya tak jauh dari komplek rumah mewah Topan.
Topan sampai dengan mengendong tubuh sang ibu. Ia berteriak bak orang kesurupan.
"DOKTER!! DOKTER!!" teriak Topan memanggil dokter yang dapat menolong ibunya.
Karena teriakan lantang Topan itu, akhirnya dua orang petugas perawat datang menghampiri dengan wajah panik.
Topan segera mendekat.
"Tolong!! tolong ibu saya.." pinta Topan dengan wajah kekhawatiran dan kecemasan luar biasa.
"Bawa kemari pak.. tidurkan ibu di sini" sahut salah satu petugas perawat dengan cekatan.
Topan langsung meletakkan tubuh sang ibu yang sudah tak bergerak.
Dan tak lama seorang dokter datang.
"Apa yang terjadi??" tanya sang dokter yang terlihat sigap dengan bersiap untuk memeriksa kondisi pasien.
Seorang perawat menarik tirai.
"Maaf pak, tolong keluar.. kita sedang memeriksa pasien.." ujar perawat itu dengan sedikit mendorong Topan untuk keluar dari lingkar tirai itu.
Topan mundur dengan wajah gusar. Tak beberapa lama, Alia datang dengan setengah berlari.
"Mas??" seru Alia mendekat pada suami.
Namun tak berapa lama, tirai di buka dan dokter keluar dengan wajah tak biasa.
Topan segera mendekat.
"Bagaimana dokter?? ibu saya.."
__ADS_1
"Maaf.." potong sang dokter dengan mengambil jeda. "Maaf, ibu anda sudah meninggal dunia.."
Deg..
Topan syok.
"Apa?" untuk sesaat Topan merasakan hampa udara. Ucapan sang dokter begitu sulit untuk Topan terima.
"Sepertinya beliau sudah meninggal dari sebelum anda membawa ibu kerumah sakit.."
Topan kian terhenyak tak percaya. Begitu pun dengan Alia yang seketika lemas mendengar ucapan sang dokter.
"Dokter?? itu..itu tidak mungkin?? ibu saya tidak sakti apa-apa tapi.. Ba-bagaimana??" tutur Topan yang masih berusaha menepis semua ucapan Dokter.
Dokter menahan lengan Topan.
"Saya sudah memeriksa nadi dan detak jantung pasien yang memang sudah hilang dan tidak berdetak lagi.. ibu anda benar sudah meninggal.."
Topan menggelengkan kepala mencoba untuk tidak percaya. Ia segera berlari ketempat sang ibu di baringkan, Topan ingin melihat sendiri keadaan sang ibu.
Namun Topan terpaku ketika melihat wajah ibu yang sudah pucat pasih dengan mata tertutup.
Topan meraih jemari sang ibu dengan hati hancur.
"Ibu.." panggil Topan sembari mengenggam erat tangan yang kini bersuhu dingin.
"Ibu??" panggil Topan bergetar. Wajahnya mencari secercah kemungkinan yang bisa membuat sang ibu kembali. Namun wanita paruh baya itu, kini bukan hanya tidak menjawab, tapi matanya pun tertutup rapat.
Wajah Topan berubah sedih, dan tanpa ia sadari titik airmata jatuh tanda kesedihan begitu mendalam bagi seorang anak yang telah kehilangan sang ibu.
"Ibu??" panggil Topan dengan tertunduk pilu melihat wanita yang melahirkannya kini telah pergi meninggalkan dirinya.
Alia mendekat dengan air mata yang tumpah, ia menyentuh pundak sang suami yang terlihat bergetar di hadapan jenazah sang ibu yang terlihat pergi dengan damai.
__ADS_1
"Ibu.." bisik Alia yang merasa kehilangan sosok yang sudah menjadi bagian dari dirinya.