Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Luka yang berbeda


__ADS_3

Di kediaman Mahendra, Rudy pulang dengan keadaan mengamuk. Hampir seluruh benda yang ia dapat ia hancurkan karena kesal.


Ia marah, ia kecewa dan ia cemburu. Perasaan yang membuatnya ingin membunuh siapapun saat ini.


Terdengar suara pembantu wanita menjerit ketakutan melihat sang majikan yang bisanya begitu sabar dan tenang kini berubah menjadi bringas.


Tak lama ibu Rudy keluar dari kamar karena mendengar kebisingan dan keributan yang begitu mengusik ketentraman rumah Mahendra.


"RUDY!!" seru ibu dengan wajah sangat terkejut ketika melihat sang anak begitu acak-acakan dengan wajah kemarahan yang ingin memecahkan fas bunga kristal di tangannya.


Rudy tertahan dengan nafas memburu, kemarahan tak tertuntaskan karena mendengar suara sang ibu.


"Apa yang kamu lakukan?? kenapa kamu seperti orang gila gini??" cecar ibu dengan wajah sangat penuh tanya


Seketika Rudy menyeringai lucu lalu tak lama ia dengan sengaja melepaskan fas bunga kristal itu hingga membentur lantai dan pecah dengan bunyi yang cukup nyaring.


PRAAANG!!


Ibu syok.


"RUDY!!"


Dan sang anak hanya tersenyum penuh kebencian.


"Kenapa?? ibu marah karena benda kesayangan ibu pecah!!"


Rudy berjalan di atas tumpukan beling yang berserakan tanpa peduli jika benda tajam itu tembus menusuk alas sepatunya. Langkahnya tepat berjalan menuju sang ibu yang terlihat takut.


"Rudy?? kenapa dengan wajah kamu??" tanya ibu dengan wajah terkejut melihat wajah terluka pada sang anak.


Rudy menyeringai perih.


"Luka ini gak seberapa buk.. tapi disini!!" ucapan Rudy dengan penuh frustasi.


"Tapi disini, hati Rudy terluka bu.. karena semua kehancuran ini berawal dari Rudy yang terlalu patuh pada perkataan IBU!!" ucap Rudy dengan air mata yang akhirnya turun di hadapan ibunya.


Wajah ibu Rudy mematung tak percaya, tergambar jelas wajah kesedihan sang putra yang ia tak tau penyebabnya.


***


Di lain sisi, di kediaman sang pengacara malah terlihat tenang malam itu.

__ADS_1


Saat ini Alia berada di kamar ibu Topan dengan tengah membereskan wanita tua itu berganti pampes dan pakaian untuk tidur yang nyaman.


Ketika semua selesai, Alia biasanya hanya menemani ibu Topan sebentar di tempat tidur. Namun malam ini ibu Topan menahan lengan Alia untuk pergi.


Alia merasa heran.


"Ibu?? kenapa??" tanya Alia dengan mengusap lengan ibu majikan.


"Ta-kut" sahut ibu Topan dengan wajah gelisah.


Alia terpaku, mungkin ibu Topan masih mengingat jelas kejadian perkelahian yang ia lihat langsung tadi sore.


Alia menarik nafas panjang lalu terus simpul.


"Gak papa bu, kita dirumah.. semua aman.. gak akan ada lagi yang ganggu"


Namun ucapan Alia tak lantas membuat ibu Topan merasa tenang, ia tetap memilih untuk memegang Alia dengan kuat.


"Ya udah, Alia akan di sini buat temani ibu.. hm"


Ibu Topan hanya mengangguk pelan.


Perlahan Alia mengusap lembut pundak ibu agar membuat wanita tua itu tenang.


Wajah sendu Alia menatap kasian pada ibu majikannya, ia pasti sangat takut melihat kejadian tadi sore.


"Maaf ya bu.. anak ibu jadi berkelahi lagi gara-gara Alia" bisik Alia merasa bersalah.


***


Setelah ibu Topan tertidur tenang, perlahan Alia keluar dari kamar itu. Ia menutup pintu dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara.


Setelah pintu tertutup sempurna akhirnya Alia bisa bernafas lega. Dan perlahan berbalik untuk menuju kamar atasnya.


Namun ketika ia berjalan, tanpa sengaja ia menatap pintu kamar utama sang majikan yang tertutup rapat.


Alia menatap lama dengan mengingat wajah terakhir sang majikan yang terluka parah akibat perkelahian tadi sore.


Merasa tak enak hati Alia pun berbalik menuju dapur belakang.


***

__ADS_1


Di dalam kamar utama, terlihat Topan masih dengan pakaian yang acak-acakan karena perkelahian tadi sore. Dan kini ia di atas kasur besar kamarnya dengan wajah yang terluka dan masih sedikit berdarah.


Ia memilih menenangkan diri dengan memejamkan mata dengan paksa agar rasa marah dan gelisanya hilang.


Namun hal itu tak kunjung membuat perasaan kekesalan pada perkelahian tadi sirna.


Ia mencoba menarik nafas panjang agar memenuhi ruang paru-parunya yang masih terasa sesak.


Tok..tok..


Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya terketuk.


Topan berusaha mengabaikan. Namun tak lama terdengar lagi suara ketukan pintu itu.


Tok..tok..


Topan menghela nafas kasar ketika mendengar ketukan pintu itu kembali dan akhirnya bangun dari tidurnya lalu berjalan menuju pintu.


Perlahan ia membuka pedal pintu itu dan sosok sang pembantu pun terlihat di sana dengan wajah sendu.


"Mas" seru Alia terkejut.


"Ada apa??" tanya Topan tenang.


Sesaat Alia ragu, namun wajah kekhawatiran terlihat jelas karena melihat wajah Topan yang masih dengan luka segar.


"Ijinkan Alia mengobati luka mas"


"Tidak usaha" tolak Topan. " Kau tidak perlu khawatir.. tidurlah, ini sudah malam" ujar Topan dengan hendak menutup pintu kamarnya lagi.


Melihat hal itu, tiba-tiba saja tangan Alia menahan pintu kamar Topan.


"Mas Topan" serunya gusar. " Tolong.. beri Alia kesempatan untuk mengobati luka mas.. mas terluka karena Alia.." pinta Alia dengan sungguh-sungguh.


Topan menatap Alia.


"Tolong mas" lirih Alia. " Alia merasa bersalah pada mas.."


Permintaan Alia yang terlihat tulus akhirnya membuat Topan mengalah.


"Ya sudah.." jawab Topan dengan suara pelan.

__ADS_1


Seketika wajah Alia lega lalu ia pun sedikit mundur. Dan Topan akhirnya keluar dari kamarnya.


__ADS_2