Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Ya


__ADS_3

"Bagaimana menurut mu?? apa kamu mau??" tanya Topan dengan nada serius.


Tanpa menunggu lama, Alia tersenyum penuh arti.


"Ya, Alia mau.." jawab Alia. Wajah Topan pun berubah lega.


" Tapi.." ucap Alia tergantung. " Bagaimana dengan pengobatan ibu??" tanya Alia.


Topan terpaku lalu menoleh melihat sang ibu.


"Hmm, mas masih belum tau.. mungkin kita akan cari dokter lain dari referensi dr. Heru" jawab Topan.


Alia mengangguk menyetujui ucapan sang kekasih.


Topan menghela nafas lega. Lalu menyentuh jemari Alia.


"Mas sempat khawatir jika kamu akan keberatan.."


Alia tersenyum bias lalu ia menantap lekat Topan.


"Kenapa mas berpikir seperti itu??"


"Entah lah, mungkin karena terlalu khawatir jika kamu akan sulit menerima suatu tempat yang baru.."


"Justru itu yang Alia inginkan.." sahut Alia cepat.


Topan terpaku.


Dan Alia dengan santai menarik tangannya dan meraih piring nasi goreng lalu memberikannya pada Topan.


"Mulanya, Alia berniat untuk pergi jauh, sejauh yang bisa Alia lakukan agar tidak bertemu dengan orang-orang dari masalalu Alia.. dan memulai hidup menjadi Alia yang berbeda agar bisa menyimpan semua cerita"


Topan tertegun mendengar ucapan Alia yang begitu mendalam.


"Hidup tanpa harus di bayang-bayangi oleh masalalu adalah tujuan awal Alia.." timpal Alia. "Namun setelah lama melewati semua hal berat ini, Alia pun mengerti.. terkadang masalalu itu adalah kunci pahit untuk menentu jalan hidup dimasa depan.. walau tidak tau jalan berat seperti apa yang akan dilewati nantinya, tapi pengalaman masalalu cukup jadi pegangan sebagai contoh mengambil langkah di masa depan.." tutur Alia bijak.


Topan terkesan dengan ucapan Alia yang begitu menyentuh hatinya. Topan meletakkan piring nasi goreng itu di nampan kembali. Lalu ia meraih jemari Alia dan ia genggam kuat.

__ADS_1


"Alia.."


Alia membalas dengan tatapannya.


Topan mengambil jeda.


"Mungkin mas tidak bisa membawamu menjadi Nyonya kaya raya seperti Rudy.. mungkin mas tidak bisa sesempurna yang kau pikirkan.. tapi..mas berjanji, akan selalu ada di sampingmu.. kemana pun dimana pun mas ingin melewati suka duka bersama mu, hingga akhir hayat" ucap Topan serius.


Alia terrenyuh. Ia merasa tersanjung dengan ucapan Topan.


"Biar waktu yang akan buktikan.." sahut Alia teduh.


"Ya, waktu kau dan aku.." timpal Topan tersenyum penuh arti dan reflek ingin meraih wajah sang kekasih.


"Sukma.." panggil ibu tiba-tiba membuyarkan suasana romantis keduanya.


Braak..


Topan terkaget dan langsung jadi salah tingkah.


"Lapar.." sahut ibu Topan.


Alia berdecak.


"Ah, iya.. ini nasi goreng milik ibu.. maaf ya bu.." seru Alia.


Topan tertunduk lemes, bagaimana tidak ia hampir saja mencium Alia di hadapan sang ibu.


"Ah, benar-benar kau ini Topan!!" rutu batin Topan.


Namun Alia jadi cekikikan kecil melihat Topan yang gagal.


"Ayo mas di rasa nasi gorengnya.." seru Alia sengaja sembari memberikan piring milik Topan kembali.


Topan menghela nafas, hilang sudah nafsu makannya. Ia ingin segera masuk kamar. Karena kamar adalah jalan ninjanya untuk bisa menghindari hasrat memeluk Alia saat ini.


"Nanti saja, mas mau mandi dulu.." sahut Topan lemes dan bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Alia hanya tersenyum kecil.


"Atau mau Alia suapin??"


Topan langsung meleng.


"Hah?"


"Mau??"


"Serius?"


"Ya..tapi mas harus suapi ibu dulu.."


"Yaaah.." seru Topan lemes lagi. "Kamu ya.."


Alia tertawa kecil melihat mood Topan yang naik turun.


"Ya kan tugas Alia suapi ibu, kalau Alia suapi mas Topan terus siapa yang suapi ibu??"


Topan pun menghela nafas.


"Ah, ya udah sini.." sahut Topan setengah hati, namun tetap mau di suapi Alia.


Dan piring ibu pun pindah ke tangan Topan. Alia pun mengambil piring milik Topan terjadi moment langkah saling suap yang sangat jarang terjadi.


Namun tak lama terdengar canda tawa yang begitu hangat.


Kebersamaan yang begitu berarti. Berkumpul dan menghabiskan waktu dengan sangat sederhana akan menjadi kenangan manis yang akan di ingat nanti.


Sekilas ibu tersenyum melihat ketika Alia menyuapi sang putra. Tanpa sadar ia seolah mengingat kenangan yang ia rasanya pernah ia lewati bersama sang putra, Topan.


"Epan.." bisik ibu tersenyum penuh arti.


Tawa Topan yang sudah lama hilang kini kembali terdengar dengan kehadiran Alia yang membuat rumah itu menjadi hidup dan hangat.


Ibu merekam semua moment indah itu di dalam ingatannya yang samar. Ada rasa lega yang tak bisa ia ungkapkan. Namun ia berharap sang putra bisa terus tertawa bahagia bersama wanita yang selalu punya cara untuk membuat Topan bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2