
Dan hari ini rumah nomor 15, diselimuti kabut duka yang cukup mendalam. Bahkan kabar duka itu pun langsung tersebar di kantor Bastian.
Beberapa rekan kantor Topan pun bertakziah kerumah duka.
Sosok sang pemilik rumah terlihat begitu berduka. Raut wajah sendu Topan dengan berusaha tegar menyambut tamu yang ikut berbela sungkawa akan meninggalnya nenek Hazah.
Setelah pulang dari tempat peristirahatan terakhir sang ibu. Sore harinya Johan dan Dody akhirnya tiba di rumah duka. Dinda juga ikut kerumah duka.
Johan memeluk Topan tanpa ragu.
"Ibumu sudah tenang.." ujar Johan memberi suport.
Topan mengangguk.
"Ya.. terimakasih, Johan.." sahut Topan dengan mererai pelukan itu.
Dodi berjabat tangan.
"Aku turut berduka.."
Topan membalas dan keduanya masuk kedalam rumah.
Dinda memeluk Alia dengan rasa haru.
"Yang tabah yaa.."
"Terimakasih ya mbak.. terimakasih karena mbak sudah sangat baik pada ibu.. "
"Sudah seharusnya.. dan aku merasa lega pernah memberi yang terbaik untuk ibu..mungkin itu kenangan yang bisa aku punya bersama beliau.."
Alia terrenyuh.
"Sekali lagi terima kasih ya mbak.." ujar Alia tulus dari dalam hati.
Dan semua rekan kerja Topan memberi suport ketabahan pada Topan. Kevin juga tak lupa memberi suport pada teman sekaligus alasannya itu. Sebagian dari mereka juga sempat menitikkan air mata karena merasa terenyuh.
Mereka saksi hidup yang melihat bagaimana Topan sebagai anak begitu mengurus sang ibu semasa hidup. Merawatnya dengan tulus hingga akhir hayat.
Beberapa dari mereka juga punya kenangan, ketika ibu Topan sempat di bawa bekerja sang anak demi menjaga sang ibu yang saat itu sakit.
Dari sekian mereka kagum akan perjuangan pak Topan yang begitu berbakti pada sang ibu.
Kevin, Dodi mengakui jika Topan adalah yang sebenarnya seorang anak yang tanpa ragu merawat sang ibu walau ia memiliki tanggung jawab kerja yang cukup berat. Namun Topan tak sekali pun membiarkan sang ibu pergi atau tinggal di rumah jompo.
Bahkan tak sekali pun terdengar kalimat perkataan mengeluh Topan saat merawat ibu Hazah.
***
Waktu berlalu hampir 1 minggu kepergian ibu Hazah. Kini Topan hanya bisa berusaha mengikhlaskan kepergian sang ibu.
Dan malam ini, entah mengapa rasa rindunya pun akhirnya membawa langkah Topan untuk masuk kedalam kamar sang ibu.
Pedal pintu di buka, terlihat kamar itu masih seperti sedia kala hanya saja sang pemilik tak lagi berada di sana.
Langkah Topan kian masuk kedalam kamar yang sudah rapi itu.
Untuk sesaat Topan menarik nafas panjang untuk bisa memenuhi rongga dada yang terasa pilu.
Tak lama langkah kaki Topan berhentin tepat didepan tempat tidur ibu. Ia menantapa kepala bantal yang ternyata masih seperti semula saat ia membawa gendong sang ibu dengan hati kalut.
Topan menelan salivannya, ia pun menyentuh bantal kepala itu dan merapikannya dengan benar.
Tak lama ia duduk di tepi tempat tidur dengan wajah sendu. Masih berkecambuk segala rasa untuk benar-benar ikhlas dengan kepergian ibu.
Dan saat itu kenangan masalalu pun kembali terbayang di benak Topan.
FlashBack ON
Dis satu rumah kumuh, terdengar pertengkaran hebat antara ibu dan anak laki-lakinya.
Topan muda saat itu terlihat benar-benar meledak di hadapan sang ibu.
"LALU KENAPA TIDAK IBU BUNUH SAJA ANAK HARAM INI??" tukas Topan muda marah dengan nada tinggi di hadapan sang ibu.
PLAK..
Satu tamparan kesedihan pun ibu beri pada wajah putra semata wayangnya.
Dengan nafas sesak dan linangan air mata ibu Topan telah memukul sang putra.
"Kau!!" ucap Ibu dengan nada berat. "Kau memang anak haram, tapi kau!!" ucap Ibu tergantung berat. "Tapi kau tak berhak untuk mati.. karena urusan mati itu milik Tuhan!!"
Topan muda menatap dengan wajah penuh marah.
"Kau berhak marah karena semua salah ibu.." sambung ibu Topan hancur. "Ibu yang salah sehingga kau yang harus menanggung semua ini.. tapi ibu hanya punya kau Topan.. hanya kau satu-satunya yang ibu miliki.." ucap Ibu dengan sesegukan tangis pilu.
__ADS_1
Topan mengepalkan tangannya, seolah ingin menghajar sang ibu di detik itu juga. Namun melihat air mata wanita yang jatuh dari wajah wanita keras kepala ini, membuatnya membenci dirinya sendiri, karena lahir dari ibu yang membuat dirinya menanggung dosa.
Lalu dengan cepat Topan berbalik agar tak menjadi satu kekhilafan fatal telah memukul sang ibu.
"Jika kau ingin pergi, maka pergilah.." ucap Ibu dengan hati yang sudah tercerai berai dengan perilaku sang putra.
"Pergi sesuka hatimu, jangan pernah pikirkan ibu lagi.. mulai detik ini, kau boleh menentukan jalan hidupmu.. ibu tidak akan peduli lagi.." tukas ibu Topan dengan menguatkan hati merelakan sang putra yang baru saja keluar dari penjara remaja karena melakukan satu tindakan kenakalan.
Topan mendengar dengan hati kesal dan marah, ia sangat menunggu moment ini, moment dimana ia akan terlepas dari bayang-bayang sang ibu pendosa.
"Tapi.." ucapan ibu tergantung jeda. "Jiia kau mendengar kabar ibu telah mati, maka sempatkan untuk mengunjungi makam ibu.. karena ibu hanya punya kau, dan kau hanya punya ibu"
Deg.. lagi jantung Topan tergoyah. Namun karena tekadnya sudah bulat, maka Topan pun pergi tanpa menoleh pada sang ibu.
Ibu hanya bisa menantap pergi sang putra dengan hati sedih.
Namun siapa yang akan menduga, nyatanya langkah kaki sang anak tetap kembali pada sang ibu.
Topan pulang di sepertiga malam. Dan tanpa ibu Hazah sadari, sang putra duduk diluar rumah kayu reyot itu dengan mendengarkan segala rintih doa sang ibu.
"Ya Allah, hamba meminta pada mu, lembutkanlah hati putra hamba Topan, lembutkan hatinya, redakan amarahnya.. jadikanlah ia anak yang penuh kasih dan sayang kepada hamba.." doa ibu meminta dengan tangisan yang ikut mengiringi.
Topan yang berada di luar pun mendengarkan rintihan doa sang ibu yang selalu ia dengar sejak ia kecil.
Namun Topan tak tersentuh, sedari kecil ia sudah mendengarkan doa rintihan sang ibu, nama buktinya sampai saat ini, Tuhan tak mengabulkan satu pun doa ibu. Buktinya Topan tambah nakal, makin membangkang juga makin keras pada sang ibu.
***
Waktu pun berlalu, Topan muda menjadi Topan remaja yang masih saja nakal. Ibu sudah tak bisa berkata-kata.
Ia hanya berpasrah, namun tetap pada doanya yang terus ia panjatkan pada sang anak.
Hingga satu kejadian besar pun terjadi.
Ibu terjatuh di tempat kerja dan mengalami geger otak yang mengharuskannya menjalani perawatan di rumah sakit.
Namun sayang pihak pabrik tempat ibu bekerja tak mau membayar biaya pengobatan ibu saat itu yang berjumlah 15 juta.
Hingga pada akhirnya Topan berjuang mati-matian meminjam uang kesana kemari untuk bisa membayar pengobatan sang ibu kala itu.
Dan akhirnya sebuah fakta terbongkar, Topah marah karena ternyata selama ini sang ibu bekerja terlalu lelah namun tak dibayar upah dengan pantas.
Topan menuntut hak ibunya dengan keras, namun sang pemilik tak mengubris. Bahkan Topan di seret ke penjara untuk membuat sang anak nakal itu jera.
Saat itulah, mata Topan terbuka lebar. Dan di saat itulah Topan sadar dengan berubah 180°.
Ibu Hazah merasa terharu, sungguh mungkin ini adalah jawaban dari tiap doanya pada sang Khaliq.
Dan di satu malam tak terlupakan, ketika Topan sedang belajar demi mengikuti ujian test masuk universitas ternama.
Topan berusaha dengan sekuat tenaga untuk belajar mati-matian agar bisa lulus pada satu impiannya menjadi pengacara.
Ibu yang melihat usaha sang putra kembali merentangkan sajadah lusuhnya dan berdoa di sepertiga malam.
"Yaa Allah, hamba meminta padamu yang memiliki segalanya.. Mudahkan langkah putra hamba untuk meraih impiannya, lapangkan jalannya, tuntun dia dijalan yang Engkau rasa pantas untuk ia meraih ridha-Mu.."
Topan yang sedang belajar di ruang tengah yang sempit itu pun mendengar doa ibu. Topan terdiam sungguh ibu tak pernah melupakan namanya di tiap doa yang ibu panjatkan.
"Ya Allah, lembutkan hati putra hamba, jadikanlah ia anak yang penuh kasih dan sayang terhadap hamba.. lindungi dia ya Allah, kapan dan dimana pun ia berada.. hanya Engkau tempat hamba meminta.." doa yang selalu ia panjatkan di tiap malam sedari dulu hingga saat ini.
Tanpa sadar Topan saat itu tertegun. Sungguh doa ibu telah membuat hatinya yang dulu penuh amarah berubah lebih tenang. Dulu ia sangat mudah terpancing emosi, namun kini ia jauh lebih tenang.
***
Dan hasil test ujian universitas itu pun sungguh diluar perkiraan Topan dan ibu.
Ia lulus dengan nilai terbaik, bahkan Topan masuk dalam 2 besar kelulusan dengan nilai hampir sempurna.
Topan benar-benar terlonjak tak percaya. Bahkan para teman-teman sekolah yang berprestasi saja tercengang. Tak sedikit cibiran guru-guru yang memandang Topan sebelah mata kini bungkam dengan nilai murni Topan. Topan menjadi siswa nakal tiba-tiba berubah menjadi siswa pintar.
Dan saat itulah perjuangan Topan dimulai, ia tak menyia-nyiakan kesempatan yang telah ia raih. Topan belajar dengan sungguh. Ia meninggalkan semua kebiasaan buruk dan memilih kerja paruh waktu di kedai makanan sebagai pencucian piring demi membayar uang kuliah.
Ibu Hazah pun tak tinggal diam, ia pun bekerja siang malam untuk dapat membantu uang kuliah sang putra yang tidak sedikit.
***
4 tahun pun terlewati dengan suka duka, dan akhirnya Topan pun tiba diwisuda kelulusan.
Topan lulus dengan IPK nyaris 4. Sehingga ia diberi nilai Cumlaude oleh para dosen yang terkenal killer.
Di saat wisuda, Topan mendapatkan undangan khusus oleh para dosen dan mengundang orang tua Topan untuk duduk di antara para orang tua mahasiswa yang berprestasi.
"Buk, ayo masuk.." ajak Topan yang telah gagah dengan jubah kelulusan.
Namun ibu terlihat sungkan. Ia merasa malu dengan pakaian yang ia kenakan.
__ADS_1
"Udah.. kamu masuk duluan aja.." ujar ibu dengan wajah sedikit tertunduk.
"Ayo, buk duduk disana..di dekat para dekan ternama.. ayo buk" bujuk Topan yang tak mengetahui kekhawatiran ibu Topan.
"Iya..iya.. ibu masuk" sahut ibu dengan terpaksa.
Tapi tak lama seorang teman wanita mendekat.
"Pan..cepetan, udah mau mulai" ujar teman wanita Topan dan hanya menyapa sekilas pada wanita yang sedang di bujuk Topan.
"Oh, iya.. lanjut gue nyusul.."
Ibu dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman sang anak.
"Udah, ibu bakal masuk kok, kamu pergi terus.." suruh ibu.
Topan merasa tak yakin.
"Ayo pergi.." ujar ibu lagi dengan wajah penuh kesungguhan.
"Bener ya, ibu nanti liat Topan.."
Ibu mengangguk.
Sang anak pun berbalik pergi menuju kumpulan teman-teman yang cukup terlihat dari kalangan orang kaya.
Ibu hanya melihat dengan hati yang sangat senang. Akhirnya sang putra bisa tertawa bersama teman-temannya.
Saat acara wisuda berlangsung. Topan gelisah di kursi duduknya dengan sesekali menoleh kebelakang melihat tempat duduk sang ibu.
Namun ternyata wanita itu tak berada disana. Hingga tiba nama Topan menggema diseluruh ruang aula itu tiba.
"Nama Topan Syahputra, tempat tanggal lahir Jakarta, 6 Januari 1986, putra dari ibu Zaliah Hazah.. lulus dengan nilai CUMLAUDE" ujar seorang MC yang bersemangat membawa nama Topan mengema di seluruh ruangan aula sidang wisuda.
Beberapa dosen sengaja bangun untuk memberikan standing applause pada mahasiswa yang perprestasi.
Dan ibu Hazah berada di barisan bangku paling belakang dengan air mata yang tumpah bangga pada sang putra.
"Putraku.. itu putraku..Topan.." bisik ibu Hazah bersorak bangga pada sang putra yang kini berdiri di atas panggung bersejajar dengan orang-orang pintar ternama.
Tak akan pernah ibu Hazah lupa betapa hari itu menjadi hari berharga yang ia punya, kenangan terindah dengan kelulusan sang putra.
Namun tidak dengan Topan, ia marah pada sang ibu yang tidak berada disana. Ia kesal sungguh ia kesal tidak terbilang.
Hingga ketika dirumah Topan mencampkan semua atribut kelulusannya itu. Terjadi pertengkaran yang sudah lama tak pernah terjadi semenjak Topan berubah baik.
"Maaf nak, ibu.. ibu tadi ke toilet.. maaf ya Topan.."
"Ibu bohong!! Topan sudah sangat menunggu moment ini buk, Topan hanya mau tunjukkan pada ibu bahwa Topan berhasil.." cecar Topan kecewa.
Ibu Hazah memunggut jubah kelulusan Topan dan membersihkannya walau tidak kotor.
"Ibu jujur?"
Ibu Hazah menghela nafas panjang.
"Iya maaf ya, ibu takut kamu jadi malu karena ibu.. ibu.. ibu tidak pakai baju bagus jadi ibu takut kamu jadi dapat masalah gara-gara ibu.."
Topan terpaku.
"Ibu, tidak mau mereka memandang kamu rendah karena melihat pakaian ibu.."
"Ya Tuhan buuuk.." seru Topan tak habis pikir pada jalan pikir sang ibu.
"Sudah gak papa, ibu liat kok kamu di kasih tanda oleh dekan.. bapak itu seperti bangga sama kamu.."
Topan menghela nafas sesak yang tak bisa ia jelaskan sungguh ibu benar-benar memikirkan dirinya sampai sejauh itu.
Hingga Topan bersumpah dalam hati, akan membawa ibu untuk menjadi ibu-ibu kaya seperti orang tua teman-temannya.
***
Seiring perjalanan waktu, Topan pun memulai karirnya. Sedikit demi sedikit nama Topan masuk kedalam jajaran pengacara muda yang di perhitungkan.
Tak lama, Topan kembali mengambil Master dalam bidang hukum.
Topan mulai membawa hidup ibu Hazah berpindah dari rumah kumuh ke rumah susun yang lebih layak. Berselang 4 tahun, karir Topan melesat. Sehingga ia dapat membawa ibu pindah kerumah apartemen yang sangat mewah dan memiliki sebuah mobil mewah.
Hingga akhirnya di saat karir Topan cemerlang di bawah naungan Firma Bastian.
Topan membeli sebuah rumah di komplek orang kaya.
Pada saat itu, Topan sengaja menyuruh sang ibu untuk pergi kekomplek mewah itu seorang diri.
"Dirumah nomor berapa buk??" tanya kang taksi.
__ADS_1
"Hm, saya juga lupa.. tadi anak saya sudah bilang..coba saya telfon lagi ya.." ujar ibu Hazah yang saat itu sedang didalam taksi online.
"Hallo nak.."