
Selama hampir 1 minggu Topan dirawat dirumah sakit. Otomatis segala semua urusan menjadi tanggungan Alia. Alia mengurus sang majikan dan ibunya sekaligus.
Pagi hari Alia pulang kerumah bersama ibu, namun ketika malam hari Alia akan berada di sana untuk menjaga sang majikan.
Namun seiring berjalannya waktu, kondisi sang majikan kian membaik. Topan dapat duduk kembali tanpa rasa pusing dan tubuhnya jauh lebih sehat.
Dan pagi ini seorang dokter dan perawat datang untuk visit kekamar Topan.
Setelah melewati beberapa rangkaian pemeriksaan, dokter pun akhirnya memberi keputusan.
"Ya, saya rasa pak Topan sudah bisa pulang.. tapi tetap harus istirahat dulu untuk beberapa hari dirumah.." ujar sang dokter dengan melihat stetoskop miliknya lalu memasukkan benda medis itu ke dalam saku jas dokternya.
"Ah, syukurlah.. terimakasih dokter.." sahut Topan dengan perasaan lega.
Sang perawat juga ikut merasa senang.
"Iya, semua berkat istri anda pak Topan, mbak Alia telaten banget rawat pak Topan selama sakit.."
Deg.. Topan dan Alia sama-sama terjegat kaget mendengar ucapan sang perawat.
"Sa-saya bukan istri pak Topan sus.." jelas Alia pelan.
"Hah?? mbak dan pak Topan?? bukan suami-istri??" sang perawat kaget melihat pada Topan dan Alia secara bergantian.
Alia reflek menggeleng.
"Ooh, saya pikir.. sudah nikah, ternyata belum yaa.. jadi masih pacar yaa??" ujar sang perawat berkesempatan.
Glek.. saliva Topan turun dengan kasar mendengar tebakan sang perawat yang kian membuat hati Topan ketar-ketir.
Namun Alia lagi-lagi menggeleng tanda bahwa tebakan sang perawat salah.
Dokter yang berada di sana pun ikut bingung.
"Oh, mungkin saudara sus, ya kan mbak??" tebak dokter ikut main tebak-tebakan pada status hubungan Topan dan Alia.
__ADS_1
"Yaah, saya pikir mbak dan pak Topan itu pasangan loh, soalnya dekat dan serasi banget.." celetuk sang perawat kecewa.
Alia hanya tersenyum bias.
"Jadi, saya akan buat surat untuk anda pak Topan, dan nanti saya akan kurangi beberapa obat yang sudah tidak perlu di minum lagi.. " ucap sang dokter yang kembali mengambil alih suasana.
"Terima kasih dokter.." sahut Topan.
"Jaga pola makan dan jangan begadang lagi.. tolong untuk ubah pola hidup, karena jika pak Topan mengulang hal yang sama, maka penyakit Types ini tidak akan sembuh.." pesan sang dokter pada Topan.
"Baik dokter, saya akan ingat pesan dokter.. " sahut Topan kembali dengan senyum terkembang.
"Baik kalau begitu, kami permisi dulu.. " pamit sang dokter yang berlalu pergi begitu pula dengan sang perawat yang mengikuti di belakangnya.
Ketika pintu kamar Topan tertutup, tinggal Topan dan Alia yang tiba-tiba jadi canggung.
"Hm, ka-kalau begitu Alia akan berberes.." ujar Alia dengan canggung.
"Jangan.. kamu urus ibu saja, mas akan berberes.."
"Mas" seru Alia.
Namun tanpa di sangka, kaki Alia tersandung dengan kakinya sendiri. Sehingga tubuh Alia terhuyung tak tentu arah.
"Akh!!" pekik Alia.
"Alia??" seru Topan spontan dan kedua tangan Topan terrentang menyambut tubuh Alia.
Grab..
Alia seketika dapat merasakan tubuhnya begitu dekat dalam dekapan sang majikan.
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan wajah yang sama-sama terkaget.
Dan di saat bersamaan pintu kamar terbuka kembali.
__ADS_1
Topan dan Alia reflek menoleh pada arah pintu.
Ternyata sang perawat yang tiba-tiba kembali dan ia melihat moment tak terduga itu.
Alia dengan cepat melepaskan diri dari dekapan Topan. Dan Topan pun berubah canggung di sisi Alia.
"Eh.. ma.. maaf mbak Alia..saya mau ambil alat tensi yang ketinggalan.." kata sang perawat dengan wajah tersenyum lalu masuk kedalam kamar tersebut.
"Oh, i-ya.. silahkan" sahut Alia kaku.
Sang perawat masuk dengan wajah tersenyum kecil dan ia langsung mengambil alat tensi lalu kembali menuju pintu kamar.
"Maaf ya mbak Alia tadi saya jadi menganggu momentnya" seloroh sang perawat dengan wajah kesem-sem.
"Ah, bu-kan.. bukan begitu, suster salah paham.." Alia buru-buru menyangkal prasangka sang perawat yang telah salah mengartikan.
"Salah paham juga gak papa mbak.. toh mas Topan juga udah sehat kok, lanjut aja mbak.." seloron sang perawat dengan wajah tersenyum malu-malu melihat pada keduanya dan berlalu pergi menutup pintu kamar Topan.
Clek.. pintu tertutup rapat.
Dan tanpa sadar Topan dan Alia menghela nafas bersama.
Hingga kedua saling menatap satu sama lain dengan wajah canggung.
"Sepertinya mereka bingung dengan status kita" ujar Topan.
Alia hanya tersenyum bias lalu ia hendak pergi.
"Alia.." panggil Topan dan hal itu menghentikan langkah Alia.
"Ya mas??" sahut Alia dengan setengah menoleh.
Dengan wajah tenang Topan menatap lekat wajah Alia.
"Apa kamu mau? memperjelas status kita??"
__ADS_1
Deg.. Alia terpaku