Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Undangan yang mengusik


__ADS_3

Malam harinya, Alia yang baru saja selesai menidurkan ibu Topan pun seketika lega. Ya, lega karena tugasnya terlewati dengan baik.


Alia mengusap lembut wajah ibu Topan lalu beranjak bangun dan menarik selimut agar lebih menutupi tubuh wanita paruh baya itu.


Sebelum keluar kamar, Alia kembali menyetel repot AC kamar. Ia mencoba menurunkan suhu dingin di kamar itu agar ibu Topan tidak ke dinginan.


Setelah yakin suhu AC pas, Alia pun meninggalkan kamar ibu Topan dengan menutup pintu kamar.


Pelan-pelan dan hati-hati Alia lakukan, seolah ia takut suara yang keras akan menganggu tidur nyenyak sang ibu.


Setelah pintu tertutup rapat dengan minus suara, akhirnya Alia dapat bernafas lega.


Namun tanpa ia duga, sosok sang pemilik rumah ternyata berada di meja makan dengan laptop menyala.


Alia berpikir untuk pergi langsung menuju kamar atasnya dengan tak menganggu sang majikan.


Tapi ternyata Topan malah bergerak bangun dari kursinya dengan berbalik. Dan tatapannya pun kaget.


"Alia??"


Alia terperanjah.


"Ya, mas Topan.."


"Ibu mana??"


"Ah, ibu.. ibu sudah tidur mas, kayaknya udah ngantuk banget.."


"Oh.."


"Mas?? lagi kerjain tugas kantor?" tanya Alia.


"Heem, tapi ini mau ambil air hangat dulu.."


"Oh, kalau gitu biar Alia aja.." tawar Alia. "Mas mau air apa? air putih biasa apa air hangat??" tanya Alia.


Sesaat Topan terpaku. Ia selalu merasa Alia sangat perhatian dan hal itu menbuatnya bimbang. Bahkan ia selalu melayani seolah Topan adalah prioritasnya.


"Hm, air hangat aja.."


Alia tersenyum simpul.


"Oh, baik mas.. Alia ambil buat mas dulu.."


"Makasih Alia.."


Alia pun berlalu menuju dapur belakang untuk melakukan tugasnya. Dan Topan kembali fokus di hadapan laptopnya.


Tak beberapa lama, Alia pun kembali dengan segelas air hangat di tangannya. Ia menbawa gelas itu dengan hati-hati dan menghampiri sisi Topan.


"Ini mas air hangatnya.." seru Alia.


Topan menoleh dan langsung dengan cepat menyambut gelas air hangat itu.


"Terima kasih Alia.."


"Sama-sama mas, ada yang lain lagi?" tanya Alia.


"Hm, enggak.. ini aja cukup soalnya tenggorokan mas kurang enak.."

__ADS_1


Alia terlihat cemas.


"Kenapa mas gak bilang?? jadi kan Alia bisa campur air hangatnya dengan madu.. atau air jeruk, biar tenggorokan mas enakan" ujar Alia perhatian.


Topan tersentuh dengan ucapan sederhana itu.


"Gak papa, kamu udah bawa ini aja juga udah nolong kok" sahut Topan santai. "Kamu, istirahat aja.. udah malam.."


"Ah, iya mas.." ucap Alia namun tanpa sengaja Alia melihat satu amplop undangan yang menarik perhatiannya.


"Iniii?"


Topan melihat hal yang menjadi perhatian Alia.


"Oh, itu.. itu undangan pesta atasan mas.."


"Ooh.." sahut Alia dengan membaca sekilas nama yang tertera pada sampul depan amplop tersebut dan ia pun terlihat terkejut.


"Loh?? ini??" seru Alia dengan mengambil amplop tersebut dengan cepat.


"Kenapa?" tanya Topan heran.


"Ah, ini.. ini benar Mbak Dinda Gandis?? pemilik butik Gadiza itu?" tanya Alia tak percaya.


Topan sedikit berpikir.


"Memang nya kenapa?? kamu kenal??"


Alia dengan cepat mengangguk.


"Iya.. tapi setau Alia, mbak Dinda.. sakit keras dan.." ucap Alia terputus.


"Apa?? apa mungkin mbak Dinda udah sembuh yaa.." tanya Alia menerka dengan membaca kembali undangan itu.


"Mas gak tau apa yang kamu maksud, tapi dari ucapan kamu.. Mas cuma bisa bilang iya.. istri atasan mas memang baru sembuh dari sakit berat maka dari itu mereka baru mengadakan pesta pernikahan sekarang.."


Alia terkejut.


"Ya Tuhan.. jadi bener ini mbak Dinda Gandis yaa, syukurlah jika mbak Dinda udah sehat lagi.." sahut Alia terlihat bersyukur.


Dan tiba-tiba Topan mengingat ucapan sang atasan Johan.


"Kalau begitu rebut saja..bereskan?? " solusi Johan saat itu. Topan menatap Alia yang masih terkagum pada undangan yang ada di tangannya.


"Datanglah dengan wanita itu.." ucap Johan ketika memberikan undangan itu pada Topan.


Topan terlihat menimbang ucapan sang atasan.


"Syukurlah ternyata mbak Dinda sudah sehat dan sudah menikah" ujar Alia.


"Alia??"


"Ya" Alia relfek menoleh pada Topan yang berada di sampingnya.


"Bagai-mana, jika kita pergi bersama??" tawar Topan tiba-tiba.


"Hah? maksudnya"


Topan terlihat gusar.

__ADS_1


"Hmm, kamu kan kenal dengan istri atasan mas jadi bagaimana kalau kita pergi bersama saja ke acara pesta itu.."


Alia bengong. Bibirnya terkatup gusar. Dan Topan menyadari hal itu.


"Yaaa..i-tu jika kamu mau, mas cuma berpikir kamu kenal sama istri atasan mas, ya sebagai teman mungkin kamu pasti ingin bertemu dengan teman lama.." jelas Topan rancu. "Apa yang kau ucapan kan, Topan!!" pekik batin Topan menyahut pada mulutnya yang tak sejalan dengan pikiran.


Alia melihat dengan bola mata yang seakan-akan mengusik niat Topan.


"Hm, apa itu boleh?" tanya Alia tak terduga.


Topan terpaku.


"Yaa..yaa tentu saja boleh, jika memang terlihat aneh, kan kamu bisa jadi partner mas disana.." jelas Topan santai, namun tiba-tiba ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan mendesisi kecil untuk mulutnya yang loss kontrol dalam berbicara.


Wajah Alia pun terlihat kaget.


"Partner mas??" ulang Alia yang tak salah mendengar penjelasan sang majikan.


Topan jadi merasa tak enak.


"Ah, tidak...lupakan saja.. itu terserah kamu saja Alia, jika kamu mau pergi oke jika tidak juga gak papa, mas mungkin juga gak pergi" jelas Topan cepat untuk menclearkan ucapan ambigunya tadi.


Alia menimbang lalu ia melihat pada undangan mewah itu kembali.


"Hmm, oke deh mas.." jawab Alia dengan menoleh pada sang majikan.


"Apa??" Topan tak percaya.


"Hm, iya Alia mau ikut ke acara pesta, Alia mau ketemu sama mbak Dinda.."


Seketika Topan berubah sumbringah.


"Kamu serius??" tanya Topan tak percaya.


"Hmm, iya.. ta-pi gimana dengan ibu??" tanya Alia gusar.


Topan langsung berubah semangat.


"Ibu?? ibu bisa di titipkan sebentar di rumah jompo.."


"Hah?? kasian dong mas" seru Alia berat.


"Gak papa kok, terkadang kalau mas dinas keluar kota, mas titipkan ibu di sana, sudah ada yang kenal dan terpercaya.." jelas Topan.


Alia masih ragu.


"Acara pesta kan gak lama, paling 2-3 jam.. setelah itu kita bisa jemput ibu lagi.." sambung Topan.


Alia sejenak menimbang.


Topan pun terlihat sadar.


"Ya.. kalau berat gak papa.. gak usah aja" timpal Topan.


Alia mengigit bibir bawahnya dan itu membuat Topan gemas.


"Hm, o-ke deh kalau mas sudah yakin tempat penitipan ibu itu terpercaya.."


Seketika Topan lega.

__ADS_1


"Yaa..ibu tetap utama.." jawab Topan yang berusaha menyembunyikan rasa senangnya di hadapan sang pembantu. Namun tangannya terkepal penuh kemenangan.


__ADS_2