
Dan setelah mengenang masa-masa terindah juga terberat bersama sang ibu. Topan pun mencoba untuk menata hatinya untuk benar-benar bisa menerima kepergian sang ibu.
Topan meraih salah satu bando sang ibu yang berada di atas tempat tidur. Ia menantap lekat bando sang ibu. Hingga tanpa disadari air mata Topan pun jatuh.
"Ibu.. terimakasih.." bisik batin Topan. "Terimakasih karena sudah melahirkan Topan.. terimakasih karena selalu sayang pada Topan yang sudah banyak membuat ibu terluka..sungguh Topan masih belum puas untuk membahagiakan ibu.. masih banyak rencana Topan untuk membuat ibu bahagia.."
Topan menyeka air matanya.
"Tidur yang tenang ya buk, tidur tanpa ada tangis.. Topan akan selalu berdoa untuk ibu disini bersama Alia.." ucap batin Topan dengan tulus. Dan terucap doa tulus untuk sang ibu agar jalannya mudah di alam kubur.
Tok..tok.. Tiba-tiba terdengar suara ketikan pintu kamar ibu.
Dan ternyata Alia masuk dengan ragu.
"Mas??" panggil Alia lembut.
Topan sedikit menyeka air matanya dan berusaha untuk tersenyum.
Alia mendekat dan duduk di samping sang suami yang masih memegang bando yang sering ibu pakai.
Alia menyentuh pundak sang suami, seolah memberi dukungan untuk kuat.
"Mas rindu ibu??"
Topan mengangguk pelan.
"Gak terasa ibu udah 1 minggu pergi.. sepi.."
Alia tersenyum sedih.
"Alia juga rindu ibu.." ujar Alia dengan mengubah jemarinya memeluk manja lengan sang suami dan menjatuhkan kepala di pundak sang suami.
"Mas sedikit menyesal.. karena beberapa hari belakangan Mas sedikit waktu bersama ibu.."
Alia mengusap lengan Topan.
"Maaf ya.. Mas jadi sibuk karena Alia.."
Topan menghela nafas panjang lalu menyentuh wajah sang istri.
"Kamu gak salah, hanya Mas saja yang sudah terlalu lupa akan tugas mas yang sebenernya..dan membiarkan kamu terus yang merawat ibu.. "
Tatapan teduh Alia melekat di bola mata Topan.
"Terimakasih, Alia.. kamu sudah merawat ibu dan kenangan yang begitu baik di akhir hayat ibu.."
Alia terrenyuh.
"Mas.."
"Sekarang Mas hanya punya kamu.."
Alia menantap kesedihan sang suami. Dan tanpa pikir panjang Alia langsung memeluk Topan. Ia mengerti arti kehilangan yang begitu berat bagi Topan.
Topan meresapi pelukan sang istri.
"Tuhan.. tolong izinkan.." pinta kedua hati yang sama-sama berdoa dalam diam
Topan berharap semoga ia bisa menjaga Alia hingga akhir hayatnya.
__ADS_1
Alia berharap semoga ia bisa memberi kebahagiaan untuk Topan disepanjang waktu di dalam pernikahan mereka hingga akhir hayat.
***
Hampir dua bulan berlalu. Kini rumah nomor 15 itu pun terlihat sibuk.
Masa persiapan pindah pun kian dekat. Topan mulai berberes di ruang kantornya. Para teman silih berganti menyapa seolah memberi semangat.
Setelah beberapa hari mengepak barang, Topan tersenyum simpul. Ternyata begitu banyak kenangan didalam ruang kantor Bastian.
Hampir 6 tahun bernaung di bawah Firma Bastian banyak kenangan yang begitu berkesan bersama rekan-rekan kerja yang solit.
Topan masih mengingat jelas ketika Topan dan Johan masih bermusuhan di meja hijau. Keduanya sama-sama keras dan sama-sama licik.
Hingga satu kenyataan terkuak, dan Johan datang memberi tangannya pada Topan.
Masih teringat jelas ucapan Johan saat itu.
"Jika kau ingin membalas dendam, maka jalan terbaiknya adalah kau harus sukses.. sehingga mereka bungkam ketika kau berada jauh diatas ekspektasi mereka yang berpikir jika karirmu akan hancur.."
Topan yang saat itu sempat frustasi akhir diberi tawaran yang tak terduga.
"Bergabunglah dengan ku.." ucap Johan dengan mengeluarkan kartu namanya pada Topan yang saat itu masih musuh abadinya.
Topan menantap dingin.
"Apa sikap ku kurang jelas?? aku sangat membenci mu Johan" tukas Topan dingin memperingati sang musuh yang bisa saja ia habisi di saat itu juga.
Namun Johan menanggapi dengan tersenyum simpul.
"Justru itu yang aku suka, setidaknya musuhku nyata" tukas Johan tanpa ragu lalu ia mengeluarkan selembar kertas di atas meja Topan. "Aku percaya kau akan berubah setelah membaca ini.." ujar Johan sembari berlalu pergi meninggalkan meja bar.
Dan di saat itulah pertemanan musuh itu menjadi teman dekat. Sehingga segala rahasia Johan berada di tangan Topan.
Topan menganggap jika Johan adalah orang yang sangat aneh. Ia menyimpan semua rahasia pada musuhnya. Namun karena itu juga, Topan berubah setia pada Johan dan menjadi kaki tangan Johan yang cukup dipercaya selain Dodi.
Dan hari ini ia harus berpisah dari kantor yang begitu banyak kenangan didalam ruang itu.
Tok..tok..
Topan menoleh.
Dan sosok sang atasan berada di depan pintu.
"Sudah sore, apa kau belum berniat pulang??" tanya Johan yang hanya terkesan basa basi.
Topan tak mengubris, ia berpura-pura sibuk merapikan berkas yang sebenarnya sudah tidak penting lagi dan membuangnya pada kotak sampah.
Johan mendekat di tepi meja Topan. Dan merenung di sana dengan meraih plakat nama Topan di atas meja itu.
"Topan Syahputra.." baca Johan.
Topan langsung mengambil plakat nama itu dengan kasar.
"Jangan menyebut nama ku!!" protes Topan.
Johan menyeringai kecil.
"Kau masih marah pasal Bill itu.."
__ADS_1
"Kau pikir aku tidak bisa membayar??"
Johan tertawa.
"Yaa, aku pikir kau keberatan.." sahut Johan dengan menyelipkan kedua tangannya pada saku celananya.
"Sudahlah, aku akan mengundangmu khusus besok malam.."
Kening Topan tertaut.
"Tenang, ini khusus aku buat untuk malam perpisahan kau dan para staff.."
"Tidak perlu.." ketus Topan.
"Ayolah, setelah ini aku tidak tau kapan kau akan kembali??"
Topan menyeringai.
"Kau memang berniat membuang ku kan?" tuding Topan.
Johan tertawa.
"Itu..itu yang aku suka, kau selalu curiga.." tawa Johan yang benar-benar menikmati suasana hati Topan yang sedang kacau.
"Kau orang aneh!!" rutu Topan kesal.
Johan masih tertawa.
"Karena aku aneh, maka kau bisa bertahan lama sini.." sahut Johan tenang.
Topan terpaku.
"Terimakasih Topan.. 6 tahun bekerja sama, aku sangat bangga pada pencapaian mu" ucap Johan tulus.
Topan terpaku.
"Kau memuji?"
"Yaa, begitu lah yang terdengar.. aku sangat berterima kasih, karena kau sudah menjadi bagian dari Bastian.."
Sesaat Topan berubah tenang. Ucapan Johan begitu bermakna.
"Jadi jangan lupa untuk datang besok malam, karena kau tamu khusus.."
Dan tiba-tiba tangan Johan terulur di hadapan Topan.
Topan menantap lama.
"Selamat bertugas ditempat baru teman.."
Mendengar ucapan teman, akhirnya Topan melunak.
Dan pun membalas uluran tangan Johan.
"Terimakasih" ucap Topan tulus.
Johan lega dan keduanya tersenyum penuh arti. Pertemanan yang cukup unik, namun menjadikan mereka solit.
"Jangan lupa bawa istrimu.. karena Dinda sang sedih mendengar kalian pindah.."
__ADS_1
Topan mengangguk.