Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Pelet!!


__ADS_3

Dan akhirnya Alia harus menjelaskan panjang kali lebar secara garis besar pada kedua temannya. Mbak Puput yang tak percaya dan mbak Susi yang curiga.


"Mosok iya langsung cinta begitu.. aku tuh yaa paham bener kalau yang begitu-begitu.. yakin aku, kamu pasti pakai tak-tikkan buat pak Topan jatuh hati sama kamu.." tuding Susi terang-terangan.


"Taktik?? ya mana ada mbak.." sahut Alia apa adanya dan mempersilahkan sang teman untuk mencicipi beberapa cemilan di atas meja makan.


Puput mangut-mangut.


"Iya bener tuh" timpal Puput mendukung tudingan Susi.


Alia hanya menggelengkan kepalanya.


"Yaa, terserah deh mbak mau percaya apa enggak" jawab Alia masih ramah.


Kedua temannya hanya mendengar jawaban yang tidak memuaskan dari teman yang begitu beruntung.


"Tau gitu, aku mau juga deh kerja di rumah ini.." ujar Puput.


Alia mendengar dengar menggelengkan kepalanya.


Tapi Susi langsung memukul pundak sang teman untuk menjaga mulutnya.


Puput kesel dipukul begitu.


"Tapi yaa selamat deh, Alia kamu jadi dapat suami orang kaya.." ucap Puput setengah hati.


Alia tersenyum bias.


"Mbak Puput juga.. jangan karena cari kaya, percayalah..cari seorang pria yang sayang mbak apa adanya, itu jauh lebih penting.." ujar Alia. "Karena uang bisa di cari, tapi nyaman belum tentu bisa di dapat dengan mudah.." pesan Alia penuh arti.


Susi dan Puput hanya mendengar pesan itu bagai angin lalu. Mereka tak begitu paham, bagi keduanya pria kaya itu jadi prioritas karena dapat membuat mereka terlepas dari kemiskinan yang sudah terjadi dari turun-temurun.


"Yaa kamu mah enak ngomong, udah dapat pak Topan..Duda, kaya lagi..." sindir Puput ketus.


Alia tak bisa menyela, yaa baginya pun tak ada yang harus di balas, toh ucapan Puput ada benarnya. Suaminya itu Duda, terus kaya itu plusnya.


"Jadi, selama ini kamu kemana??" tanya Susi sembari menyomot roti berselai coklat di atas meja makan itu. " Kita dua kali datang tapi rumah kosong terus, padahal kita mau balikin rantang kemarin.."


"Oh, itu karena harus ikut teman.. jadi dua hari Alia nginep disana sama ibu.."


"Jadi?? kamu nikah siri nie sama pak Topan?" tanya Puput yang tetap menyentil.


"Enggak, nikah resmi.. ada buku nikahnya kok"


Sontak Puput dan Susi tercengang.


"Gak siri?"


"Enggak" jawab Alia apa adanya.


"Waah bener-bener beruntung kamu Alia.. serius aku tadi mah pikir kamu nikah siri sama pak Topan.."


Alia tertawa kecil.


"Kenapa mikir begitu mbak?"

__ADS_1


"Yaa, siapa tau pak Topan cuma main-main.. kan orang kaya suka begitu.. apa lagi status kita yang cuma orang miskin Alia.. mereka pasti begitu, kita di jadiin pelampiasan, mereka kan pasti cari bibit bebet yang bagus untuk keturunan mereka" jelas Susi.


Alia hanya tersenyum sembari menghela nafas. Mungkin jika ia bercerita lebih detail lagi siapa dirinya, mungkin teman-teman akan berpikir itu cerita bohongnya saja. Siapa yang akan percaya mantan istri kaya raya kerja jadi pembantu.


"Berarti pak Topan bener-bener suka sama kamu Alia, cinta.." seru Susi berpikir serius. "Sampai nikah kamu resmi itu tandanya dia gak milih-milih soal status kamu.." timpal Susi serius.


"Eh, gimana? enak gak punya pak Topan??" tanya Puput yang tiba-tiba penasaran.


Alia tercengang.


"Ah, itu.. ya rahasia dong mbak.." elak Alia malu.


"Ikh, kamu mah rahasia-rahasiaan.. cerita aja napa??" bujuk Puput yang ikut penasaran.


Alia menggeleng, ia merasa tak pantas menceritakan urusan ranjangnya dengan kedua temannya itu.


Alia hanya tersenyum. Dan memberikan sang teman terus menekan-nerka heran pada jalan cerita cintanya dengan sang suami.


Di sela-sela obrolan ghibah itu, tiba-tiba saja terdengar suara pintu terketuk.


Tok..tok..tok..


Ketiganya sontak kaget.


"Ada tamu?" tanya Susi.


Kening Alia tertaut.


Tok...tok..tok..lagi pintu terketuk.


"Hmm, bentar ya mbak.. Alia liat dulu.. gak papa kalian duduk aja habisin cemilannya.." ujar Alia yang meninggalkan ruang itu.


Tak lama pintu terbuka dan seorang pria muda berdiri dengan senyum.


"Selamat pagi..maaf mengganggu, apa benar ini rumah mbak Alia?" tanya pria muda itu dengan ramah.


Alia sedikit ragu ketika mendengar ucapan pria muda itu mengatakan rumah dirinya.


"Hmm, iya.. saya Alia.. anda siapa?? ada perlu apa??" tanya Alia berhati-hati.


Wajah pria itu langsung lega.


"Aaah, akhirnya rumahnya ketemu juga.. saya Arif dari dealer Honda mbak.."


Alia terheran.


"Dealer Honda?? maaf ada urusan apa dengan saya?" tanya Alia kembali.


Pria itu langsung mengeluarkan sebuah surat dan memberikannya pada Alia.


Alia melihat dengan wajah bingung.


"Apa ini??" tanya Alia.


"Dibaca aja mbak.." ujar pria muda itu santun.

__ADS_1


Alia membuka lembaran surat yang dilihat. Dan kedua bola matanya dengan cepat membaca isi surat tersebut.


Seketika wajah Alia berubah.


"Mobil Honda City?? maksudnya?"


"Suami mbak, pak Topan memesan 4 hari yang lalu dan ini katanya hadiah buat mbak Alia.."


Deg.. Alia terpaku.


"Hadiah??" ulang Alia tak percaya.


"Iya, mbak.. ayo mbak liat mobilnya.." ajak pria muda itu dengan hendak berjalan.


Tak lama mbak Puput dan Susi pun menghampiri Alia.


"Siapa Alia?"


"Hm, orang dealer mobil mbak"


"Hah? mobil?" seru Susi heran.


"Ayo, mbak Alia diliat ini mobil hadiah dari suaminya.. " ajak Pria muda itu yang telah duluan turun dari teras rumah.


Sontak Puput dan Susi tercengang bukan kepalang.


"Waaaah, bener-bener kamu Alia.. pakai pelet apa kamu sampai pak Topan sebegitu cintanya sampai di beliin mobil segala.." ceplos Puput yang benar-benar iri. "Wah..wah keterlaluan kamu Alia..keterlaluan kamu kalau enggak bagi ilmu peletnya" tukas Pupit yang kian terbakar.


Alia hanya bisa melongos jadi serba salah.


Dan tak lama sebuah mobil honda City berwarna merah keluaran terbaru pun turun dari truk besar yang membawanya ke halaman rumah nomor 15.


"Mas Topan.." bisik Alia yang tak bisa berkata-kata mendapat kado yang begitu mengejutkan.


"Mas Topan tau gak sih?? kalau istrinya gak bisa nyetir.." ucap Alia membatin.


***


Dan di ruang sidang yang sedang berlangsung. Terlihat Topan membaca sebuah pesan yang sangat penting.


"Salam, pak Topan.. Arif sudah mengirim mobil untuk istri Bapak.. terimakasih, semoga nyaman berkendara pak.." pesan singkat dari sales dealer mobil.


Dan tak lama sebuah file foto pun kelaman pesan itu.


Terlihat Alia sang istri berfoto dengan sales sebagai tanda bukti bahwa kado itu sampi di tangan sang istri.


Topan tersenyum puas. Ya, impian yang dulu satu persatu ia wujudkan bersama wanita yang menjadi istrinya.


Jemari Topan mengusap foto sang istri.


"Rindu.." bisik batin Topan.


Namun tak lama terdengar ketok Palu sang Hakim. Ia pun menyimpan handphonenya, lalu kembali fokus pada ruang sidang perceraian yang akan ia tangani untuk terakhir kalinya.


"Kami keberatan, Yang Mulia.." sanggah Topan angkat bicara di tengah ruangan sidang yang mulai memanas.

__ADS_1


__ADS_2