Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Jaga rumah nomor 15


__ADS_3

"Rumah nomor 15, tiba-tiba ramai pengunjung pak.." lapor pak Dadang yang memantau dari ke jauhkan rumah incaran itu.


Rudi yang berada di sebrang telfon pun terdengar kaget.


"Apa?? ramai pengunjung? maksudnya tamu?"


"Iya pak, tadi ada seorang pria yang datang, terus pulang dan gak lama ada dua mbak-mbak yang datang juga.. nah ini sekarang ada dua mobil innova terparkir di halaman rumah pak.." jelas Pak Dadang dengan menggambarkan situasi saat ini.


"Jadi dirumah itu sekarang ramai??" tanya Rudu dari sebrang telfon.


"Iya pak, semua mungkin ada sekitar 15 orang.." ujar pak Dadang kembali dengan menghitung kasar orang-orang yang tiba-tiba berkunjung kerumah nomor 15 yang biasanya sepi.


Sejenak pak Dadang hanya mendengar hela nafas sang majikan. Sejenak Rudy hanya diam.


"Gimana pak?"


"Tunggu di sana terus, sampai para tamu itu pulang.. dan ketika ada waktu yang pas kita bergerak untuk menjemput Alia.." perintah Rudy pada sang bawahan dari sebrang handphone.


Pak Dadang terlihat lelah.


"Hm, anu pak maaf.. kami boleh makan dulu gak pak?? sudah dari tadi sampai sore kami belum makan.. karena berjaga.." tutur pak Dadang sungkan.


"Oh, ya sudah, tapi jangan berdua, gantian.. karena kalian harus terus pantau rumah nomor 15.. karena saya tidak mau Alia lepas.." ujar Rudy memberi penekanan pada perintahnya.


"Ya..ya baik pak.. baik, saya akan berjaga dan teman saya akan pergi makan, kami gantian saja.."


"Bagus.. saya tunggu perkembangan selanjutnya dari kamu" tukas Rudy yang langsung memutuskan komunikasi itu begitu saja.


"Baik pak" sahut Pak Dadan manggut-manggut pun menyudahi komunikasi itu dengan wajah lega.


"Akhirnya kita punya izin makan" ujar Pak Dadang pada temannya yang terlihat lesu karena belum makan.


"Syukurlah, tanganku sudah gemetar perut udah jangan di tanya sudah keroncongan akut.." sahut sang teman ikut lega. Niat hati ingin mencari kerja, namun perjuangannya dua hari ini begitu berar ia harus menahan lapar yang cukup menyiksa demi memantau rumah yang terlihat tidak ada tanda-tanda kehidupan itu. "Ya sudah, kalau begitu ayo kita pergi cari makan didekat sini.. aku udah gak kuat lagi..laper banget" ajak sang teman di sisa semangat yang tertinggal.


Namun dengan cepat pak Dadang menahan.

__ADS_1


"Tunggu.. kamu harus tetap jaga di sini"


"Hah?"


"Iya, pak Rudy tidak mengizinkan kita pergi bersama, harus ada yang tetap pantau rumah itu.."


"Alah.. gak bisa, aku sudah lapar sekali Dang, rasa-rasanya mau mati aku kalau gak makan sekarang juga.." tutur sang teman dengan nada marah.


"Ya tapi perintah pak Rudy salah satu di antara kita tetap harus ada yang jaga.."


"Ya sudah, kalau begitu kamu saja.. aku mau makan, setelah aku balik baru kamu makan.." ujar sang teman dengan hendak merebut stang motor agar ia bisa segera mencari warung makan.


"Eh..eh.. gak bisa, biar aku aja, aku gak makan disana aku bungkus langsung bawa kemari, kita makan sama-sama aja" tukas Dadang bertahan.


Sang teman sejenak menimbang.


"Benar nie?? bungkus?"


"Iya, aku beli bungkus biar gak lama.. bisa makan bareng sambil mantau itu rumah.." jelas Dadang lagi kian mengiringi opini.


"Iya, iya enggak.."


"Ya udah sana, cepat beli tuh nasi.. aku dua bungkus ya Dang.. laper banget soalnya.." pesan sang teman.


"Beres, lauknya??" tanya pak Dadang sembari bersiap-siap untuk menghidupkan mesin motor.


"Apa aja, gue gak masalah yang penting nasi kudu banyak sama tempe dan sambel.."


"Yeee itu bukan apa aja namanya, tapi semua aja" celetuk Dadang. " Jaga bener-bener yaa jangan lengah, tar mungkin pak Rudy telfon lagi, kita kudu punya bukti lain.."


"Beres, aman.. asal nasi juga jangan lama.. laper banget aku.." ujar teman pak Dadang yang tetap konsisten dengan masalah perut yang sudah keroncongan.


Tak beberapa lama, pak Dadang pun pergi meninggalkan sang teman di bawah pohon yang menjadi tempat pemantau mereka sejak dua hari yang lalu.


***

__ADS_1


Namun di lain sisi, terlihat Rudy termenung di taman belakang rumahnya. Taman yang biasa menjadi tempat santai sore bersama Alia.


Tapi kini ia hanya duduk sendiri menikmati suasana asri taman yan terlihat tak seindah dulu lagi.


Dan Rudy di kagetkan dengan kehadiran sang ibu yang muncul tiba-tiba dari belakang.


"Rudy??"


Rudy reflek menoleh namun wajahnya terlihat acuh pada kehadiran sang ibu.


Ibu Rudy mencoba untuk mendekat dan duduk di kursi kosong yang berselang dengan kursi sang anak.


"Apa yang sedang kamu lakukan Rudy?? ibu dengar kamu menyewa seorang pengacara untuk menuntut Nak Topan.. ada apa sebenarnya??" cecar ibu bertanya.


Rudy diam ia sengaja mengacuhkan pertanyaan sang ibu. Lalu tak lama ia pun bangkit dan hendak pergi.


"Rudy!!" tahan sang ibu dengan nada gusar. "Mengapa kamu mengacuhkan ibu?? ibu ini ibu kamu, kamu bisa jadi anak durhaka jika kamu mengacuhkan ibumu seperti ini terus!!" cecar ibu Topan yang melepaskan kekesalannya pada sikap sang anak.


Seketika Rudy menoleh dan menatap dingin wajah wanita yang sudah melahirkan ya.


"Durhaka??" ulang Rudy tenang. "Apa ibu pikir, Durhaka itu hanya milik para anak yang tidak patuh pada orang tua?" tanya Rudy tajam pada sang ibu.


Sejenak ibu Rudy terpaku.


"Gak buk, justru orang tua juga bisa jadi Durhaka terhadap sang anak.. ibu tau kenapa? karena orang tua tersebut telah dengan sengaja menghancurkan kehidupan anaknya.." ucap Rudy penuh penekanan pada sang ibu.


Bibir ibu Rudy terkatup, ada rasa pedih di hatinya yang paling dalam melihat perubahan sikap sang putra.


"Jadi.. berhentilah pura-pura peduli.. karena ibu tau mengapa Rudy jadi seperti ini" tukas Rudy dengan raut kekecewaan yang tergambar jelas.


"Rudy.. ibu.." lirih ibu Rudy sedih.


"Jika ibu peduli, maka lebih baik ibu diam..jangan campur urusan kehidupan Rudy.. atau anggap saja, ibu telah membuang Rudy.."


Air mata ibu Rudy jatuh. Dan sang putra berlalu pergi meninggalkan dirinya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2