
Setelah kebebasannya Topan benar-benar menepati semua janji yang telah ia susun selama di penjara.
Ia benar-benar balas dendam tidur selama 3 hari 3 malam dan hanya bangun untuk makan.
Sampai Alia terheran.
"Kamu gak tau sih, penjara itu gak enak, tidur gak enak, gak ada batal, gak ada selimut dan pengap.. pokoknya semua gak enak" celetuk Topan ketika makan dengan terpaksa karena Alia yang khawatir melihat Topan terus tidur.
"Iya, tapi masa mau tidur terus, mas bisa sakit kalau tidur terus tanpa makan.. " protes Alia dengan menyuapi kembali semangkuk sup hangat pada sang kekasih yang benar-benar ngantuk.
"Mas janji.. ini hari terakhir.. setelah itu mas akan kembali normal.." sahut Topan dengan mulut penuh nasi.
Alia hanya menghela nafas.
"Yaa, baiklah.. tapi tetap ini harus di habiskan dulu.. biar tidurnya tenang karena perut kenyang.."
"Memangnya mas ular??" sahut Topan.
Alia tertawa garing.
"Ya gak papa juga kalau ular, yang penting enggak spesies dengan mas buaya.. kalau buaya itu yang serem.." jawab Alia membalas ucapan Topan.
Topan tertohok namun akhirnya ia ikut tertawa mendengar sindiran sang kekasih.
"Kamu yaa, udah berani.." sindir Topan.
Alia hanya membalas dengan tawa kecil, lalu kembali menyodorkan sendok di hadapan Topan.
Di sisi berbeda, Ibu yang berada di meja makan itu hanya melihat teduh anak dan temannya yang terlihat obrolan yang menyenangkan.
Sekilas ia sedikit tersenyum simpul.
***
Berselang hari, akhirnya siklus hari Topan kembali normal seperti sedia kala. Bangun lebih pagi dan wajahnya jauh lebih segar.
Topan terlihat bersiap-siap untuk masuk kantor setelah beberapa bulan absen. Ia tidak mau lagi mendengar Johan marah-marah seperti hari itu.
Topan meraih dasi berwarna dove polos yang akan ia kenakan. Namun ketika akan menyimpulkan dasinya dihadapan kaca. Sesaat pikirannya pun jalan, dan sebuah senyum licik pun terlihat.
***
Diruang makan, terlihat Alia bersama ibu sedang makan bersama. Alia kembali menambahkan seral gandum karena ibu terlihat kembali nafsu makannya.
Alia memantap ibu Topan dengan wajah senang, ia berpikir nafsu makan ibu kembali karena sang anak sudah berada di sisinya. Dan hal itu membuat Alia lega.
__ADS_1
Tak beberapa lama terdengar pintu kamar utama terbuka.
Sontak Alia dan ibu juga reflek menoleh.
Dan kedua wanita beda generasi itu melihat sosok yang kembali dengan tampilan berbeda.
"Selamat pagi Alia, Ibu??" sapa Topan sembari berjalan menuju ruang makan.
"Pagi mas.." sahut Alia beriring senyum. "Mas sudah masuk kantor?" tanya Alia seiring matanya mantap sosok Topan yang akhirnya di meja makan.
"Hm..Johan bisa marah lagi jika aku tidak masuk.." sahut Topan.
Alia tersenyum kecil.
"Mau Alia buatan kopi??"
"Ya.. terimakasih" sahut Topan dengan duduk di kursi samping sang ibu.
Sesaat Alia melihat lekat pada wajah ibu dan anak itu yang kembali bersama. Senyum Alia terkembang sebelumnya akhirnya beranjak untuk membuatkan kopi Topan di dapur belakang.
Setelah sarapan pagi dengan roti dan kopi buatan Alia. Akhirnya Topan pun harus bergegas pergi.
"Kalau begitu mas pergi dulu yaa.."
Namun sebelum benar-benar pergi, Topan sengaja memasang dasi dengan terburu-buru di hadapan Alia dan ibu Topan sembari berlalu pergi.
"Mas??" seru Alia.
Topan menyeringai kecil sebelum akhirnya berbalik.
"Berhasil.." bisik batin Topan senang, lalu berbalik dengan wajah seolah bingung.
"Ya Alia.." sahut Topan bisa saja.
"Sebentar mas.. " seru Alia dengan langkah tepat menuju Topan.
Topan menanti di posisinya.
Dan Alia pun tiba dengan kening yang berkerut.
"Kok dasinya gini sih mas?" lalu tanpa sungkan jemari Alia langsung meraih dasi Topan.
"Kenapa dengan dasinya??" tanya Topan sengaja.
"Ini agak miring dan ini juga simpulnya gak bener.." sahut Alia fokus pada kerah leher Topan yang bertubuh tinggi.
__ADS_1
Senyum Topan terkembang. Ia dapat melihat jelas raut wajah Alia yang terlihat lebih dekat.
Jemari rampingnya terlihat begitu cekatan merapikan simpul dasi Topan.
Untuk beberapa saat Topan merasa senang. Hingga ketika Alia hampir siap merapikan simpul dasi Topan. Tiba-tiba sebuah kecupan Topan berikan di kening Alia.
Cup..
Jemari Alia terhenti di dada Topan, ia terkaget lalu reflek menegadah.
Dan sesaat tatapan keduanya bertemu.
"Nanti, lakukan hal sekecil ini setiap pagi untuk ku.." pinta Topan berbisik.
Alia terpaku dengan bening matanya yang dapat melihat jelas wajah kesungguhan Topan.
Topan tersenyum simpul lalu kembali menjatuhkan satu kecupan singkat di bibir ranum Alia.
Cup..
Kedua mata Alia mengerjap merasakan ciuman tiba-tiba itu.
"Dan untuk ini.. berikan setiap saat untuk ku..nanti, tanpa aku minta.." pinta Topan tersenyum di antara bibir Alia.
Lalu tak lama Topan berlalu pergi meninggalkan Alia begitu saja si depan pintu rumah.
Topan pun berlalu dengan hati yang luar biasa bahagia. Langkah Topan begitu ringan untuk memulai pagi yang tak biasa.
Namun sebelum belum langkah Topan tiba di pintu mobilnya, tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya.
"Mas Topan??" panggil Alia dari teras rumah.
Topan reflek berbalik.
Diluar dugaan tiba-tiba Alia berlari dengan merentangkan tangannya dan langsung menghamburkan diri dalam pelukan sang kekasih.
Grep.. Topan terkesiap.
Alia memeluk manja Topan.
"Dan berikan Alia tiap hari pelukan penuh hangat sebelum mas pergi kekantor.." bisik Alia.
Topan tersenyum kecil. Lalu membalas dekapan pelukan manja sang kekasih.
"Pasti.." sahut Topan.
__ADS_1