Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Jalan Merdeka


__ADS_3

Dan akhirnya wisata pantai itu pun berakhir. Kini Topan, ibu dan Alia berada di dalam mobil sedang menuju arah pulang.


Suasana di mobil begitu tenang, dan hanya terdengar suara bisik-bisik antara ibu dan Alia yang saling tertawa kecil.


Topan hanya bisa melihat hal itu dari balik kaca spion mobil dengan rasa penasaran. Dan tanpa terduga, tiba-tiba tangan ibu Topan memijit-mijit pundak sang anak.


Topan terkaget.


"Ibu???"


"Epan.. ma-maka-sih ya" ujar ibu Topan terbatah.


Topan terteguh mendengar ucapan sang ibu dan sekilas melihat dua wanita beda generasi itu saling bertatapan dengan wajah Alia yang tersenyum pada sang ibu.


Topan mendegus pelan dan mengetahui ternyata kejutan itu berasal dari Alia.


"Apa ibu senang??" tanya Topan dengan kembali fokus pada jalan di depannya.


"Iyaa.. se-nang" jawab ibu polos dengan masih memijit pundak sang anak.


Topan hanya bisa menikmati pijitan sang ibu dengan perasaan campur aduk. Ia rindu sosok wanita hangat yang dulunya sangat cerewet pada dirinya, dan kini sosok itu telah hilang dari sang ibu berganti dengan sosok polos bagai kertas kosong.


Tak lama perjalanan, mobil Topan pun masuk kearah kota menuju rumah Topan.


"Alia, kamu tinggal di daerah mana??" tanya Topan tiba-tiba.


Alia terkaget.


"Ah, itu.."


"Sudah malam, jadi biar saya antar saja.." jelas Topan.


"Hm, sebaiknya.. ti.."


"Tidak apa-apa, katakan dimana alamat rumah kamu??" tanya Topan kembali.


Alia terlihat ragu.


"Hm, tapi jalannya sempit pak, dan mobil bapak gak bisa masuk.. jadi kalau tidak keberatan bapak turunkan saja Alia di perempatan lampu merah.."


"Hah? perempatan lampu merah yang mana??"


"Hm, itu.. di dekat jalan merdeka.."


"Hah??" respon Topan kaget, jarak jalan merdeka dan kompleks rumahnya agak jauh.


"Jalan merdeka??" ulang Topan.


"Iya, pak.. jalan Merdeka.."


"Kamu kerumah naik ojek??" tanya Topan.


Alia menggeleng.


"Engga pak, jalan kaki"


"Apa??" sahut Topan terkejut. "jadi selama ini kamu jalan kaki sampai kerumah??" Topan tak percaya mendengarkan jawaban Alia.


"I-iya.."


Topan benar-benar syok mendengarkannya. Di daerah jalan merdeka memang banyak kos-kosan dan merupakan daerah kumuh.


"Kenapa kamu bisa disana??"


"Hm, disana murah dan mudah cari pekerjaan.."jawab Alia apa adanya.


Topan tak bisa membayangkan perubahan hidup mantan Nyonya kaya raya ini.


"Ya Tuhan, Alia" seru batin Topan.


Alia hanya tersenyum bias mendengar keterkejutan sang majikan.


***

__ADS_1


Dan setelah sedikit memaksa, akhirnya Topan mengantar Alia sampai di depan gang kosnya yang benar-benar kumuh dan sempit. Sehingga tidak mungkin mobil Topan masuk.


"Terimakasih pak Topan, sudah mengantar sampai sejauh ini.." ujar Alia canggung.


Topan tak menjawab, ia masih tak percaya jika Alia kini tinggal di tempat kumuh.


"Apa masih jauh untuk sampai ke rumah kos kamu??"


"Ah?? hm, enggak kok pak, ini udah dekat.." jawab Alia dengan hendak membuka pintu mobil.


Namun Topan merasa khawatir ketika melihat gang yang begitu gelap.


Alia turun dengan meninggalkan ibu Topan.


"Besok, kita ketemu lagi ya buk, tidur yang nyenyak dan mimpi indah.. dah ibu.." ujar Alia dengan turun meninggalkan ibu Topan yang berat melepaskan diri ya.


"Terima kasih pak Topan.. selamat malam" pamit Alia sembari menutup pintu mobil.


Topan tak menjawab, ia hanya melihat Alia berbalik dan pergi masuk kedalam lorong yang gelap tersebut.


Beberapa menit Topan terpaku sampai akhir sosok Alia hilang dari pandangannya.


"Epan.. pu-lang" ujar ibu yang menyadarkan Topan.


Topan tersadar.


"Hm, iyya bu.." jawab Topan dengan hendak mengambil alih posisi gigi mobil untuk mundur. Namun tanpa di sengaja Topan melihat dua orang laki-laki masuk kedalam lorong yang tadi Alia masuki.


Seketika kakinya berubah menginjak rem dan hatinya khawatir.


"Bu, tunggu sebentar yaa.." ujar Topan yang tiba-tiba menghentikan mobil.


Di saat bersamaan, Alia yang berjalan di antara remang-remang lampu lorong. Seketika ia mendengar suara dua orang pria yang saling tertawa kecil di belakangnya.


"Mbak Alia??" panggil salah seorang pria dengan nada usil. "Mbak Aliakan?? tungguin kita dong, biar bisa pulang bareng?? hahaha" goda salah satu pemuda itu dibelakang Alia.


Alia tersentak kaget, dan seketika merasa takut dengan mempercepat langkahnya untuk segera menjauh dari dua anak muda yang terkenal usil di lingkungan itu.


"Eh, kok cepet banget jalannya Mbak Alia? jogging malam ya?? hahaha" ledek salah seorang pria yang beda dengan yang tadi.


Alia tak peduli, ia kian mempercepat langkahnya.


Namun sayang, tanpa di sangka salah seorang pemuda itu tiba-tiba menghadang langkah Alia.


Grap..


Sontak Alia terkaget dan berhenti dengan wajah gusar.


"Hallo Mbak Alia??" sapa pemuda itu dengan senyum licik memandang wajah Alia yang takut.


"Mau Dedi antar pulang?"


"Minggir Ded, jangan ganggu.." ujar Alia berusaha menghindari. Namun ternyata di belakang Alia berdiri seorang lagi dengan sengaja menabrakkan diri di punggung Alia.


Bruuuk..


"Aduh!!" pekik pemuda itu sengaja. "Aduh, mbak Alia.. ada Toni loh di belakang, hati-hati dong.." goda pemuda satu lagi dengan sengaja.


Alia berubah takut.


"Kalian mau apa???" tanya Alia to the poin.


Kedua pemuda itu tertawa bersamaan.


"Kami cuma mau main.." jawab salah seorang dengan menahan lengan Alia.


Alia terjegat kaget.


"Lepasin.." ronta Alia.


"Ckckck.. ssstt santai Mbak Alia.. kita cuma main tipis-tipis yuk.." tarik seorang lain di lengan Alia.


Alia mencoba meronta. Namun kedua pemuda itu menghimpit dirinya.

__ADS_1


"Lepas..lepas.. atau saya akan berteriak..!!" ancam Alia. Mendengarkan ucapan Alia keduanya bukan takut mereka malah menertawakan ancaman Alia.


"Ckck.. coba aja mbak, gak akan ada yang dengar.. percaya deh.." tutur pemuda itu dengan menyentuh pundak Alia.


Alia berusaha lepas, dengan berusaha mendorong salah satu pemuda itu. Namun tampaknya hal itu sia-sia.


"Ayo ikut saja.." tarik pemuda satu lagi dengan wajah licik.


Di saat Alia tengah berusaha lepas, tanpa di duga sebuah tendangan kuat mengenai punggung salah seorang pemuda yang berada di samping kiri Alia.


Brukk..


"Aaa.." seringai pemuda yang tersungkur kesakitan menerima tendangan tiba-tiba itu.


Sontak pemuda di samping kanan Alia kaget.


"Lepasin Alia!!" perintah Topan dengan wajah bengis menatap kedua pemuda itu.


Alia yang mengenali suara sang majikan pun terkaget bukan kepalang, ia berusaha melihat sosok sang majikan di remang-remangnya lampu gang.


"Hey!! siapa kamu?? jangan ikut campur.!!" rutu teman si pemuda ingin menyerang Topan. Namun Topan tak bergeming dan dengan mudah menahan serangan pemuda yang akhirnya malah tersungkur kelain sisi.


"Aaahh" pekik kesakitan muda yang mendapat serangan balik di perutnya.


"Pergi!! atau kalian akan saya buat tak berbentuk" ancam Topan dengan nada tinggi.


Kedua pemuda yang meringkuh kesakitan pun pergi meninggalkan Alia begitu saja, mereka mundur karena malas berurusan lebih panjang.


Alia yang berdiri terpaku pun seketika berubah lemas hingga membuatnya jatuh terduduk di tanah.


Brukkk..


"Alia!!" seru Topan panik dengan mendekat pada wanita yang hampir mengalami hal buruk. "Kamu baik-baik saja?"tanya Topan dengan memegang pundak Alia dengan khawatir.


Topan terkaget, ketika pundak Alia bergetar.


"Kamu baik-baik saja?? apa mereka melukai kamu?" cecar Topan khawatir.


Alia masih berusaha menenangkan dirinya dengan melihat wajah sang majikan yang cemas.


"Pak..pak Topan??" seru Alia dengan suara bergetar.


Melihat Alia terguncang, tanpa sadar Topan menarik Alia dan menjatuhkan wanita itu kedalam pelukannya.


"Tenang Alia.. tenang" seru Topan dengan mengusap punggung Alia yang masih terlihat syok.


***


Setelah Alia tenang, Topan akhirnya mengantar Alia sampai di depan pintu kosnya.


"Kamu yakin??" tanya Topan ragu untuk meninggalkan Alia disana.


"Hm, iya pak.. Alia sudah gak papa.."


Topan menghela nafas gusar ketika mendengar ucapan Alia.


"Ya, sudah.. kamu masuk dan kunci pintu"


"Iya, terima kasih pak.. terimakasih" ucap Alia tergantung.


"Ya, masuk lah Alia.. saya akan pergi ketika kamu sudah masuk" ujar Topan.


Alia pun mengangguk lalu perlahan membuka pintu kamarnya yang terlihat sudah usang. Perlahan Alia masuk dan menutup pintu dengan melihat wajah khawatir sang majikan.


Ceklek..ceklek.. terdengar pintu kamar itu terkunci dua kali.


Topan pun perlahan mundur untuk pergi meninggalkan Alia yang sudah aman di kamarnya.


Sang majikan telah pergi, namun Alia masih berdiri di depan pintu dengan hati yang gelisah.


Alia menghela nafas panjang.


"Pak Topan??" lirih Alia dengan masih dapat merasakan dekapan hangat pria yang membuatnya nyaman.

__ADS_1


__ADS_2