Pembantu Hangat

Pembantu Hangat
Terlalu berharap


__ADS_3

Waktu berlalu, dan hari yang di nanti akhirnya tiba.


Dan Alia pun bersemangat menyambut pagi itu dengan membereskan rumah jauh lebih giat dari biasa.


Ia menyiapkan segala yang mungkin saja akan membuat Topan senang. Ia bahkan sengaja mengajak mbak Puput dan mbak Susi untuk membantunya memasak sedikit hidangan yang akan di santap Topan.


Hingga menjelang siang, makanan khusus itu pin terhidang dengan aroma yang mengoda.


"Makasih yaa, mbak Puput, mbak Susi.." ucap Alia pada dua temannya itu.


"Sama-sama Alia.." sahut Puput senang.


"Iya, harusnya kita yang bilang terima kasih, berkat kamu ajak masak disini, kita jadi ikut kecipratan makanan enak sampai bisa di bawa pulang lagi.. jadinya kan untung banget kita.." celoteh Susi apa adanya.


Alia tersenyum.


"Sekali lagi makasih yaa, Alia.. nanti bilang makasih juga sama pak Topan udah ijinin kita masak-masak di sini.." ujar Puput malu-malu.


"Iya, nanti Alia sampaikan.."


"Ya udah, kita balik dulu ya.. soalnya udah kelamaan, tar di tegur sama Nyonya rumah.." seru Susi


"Iya mbak, sekali lagi makasih yaa.."


Kedua wanita itu pun pergi meninggalkan rumah nomor 15 dengan membawa rantang satu orang satu.


Alia tersenyum simpul lalu perlahan kembali masuk kedalam rumah nomor 15 dengan menutup pintu depan rumah itu.


***


Jam di dinding terus berputar. Namun sosok yang di nanti tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Hari mulai beranjak sore, dan Alia kian gelisah menunggu kepulangan Topan.


Sembari menunggu ia sengaja mengajak ibu Topan untuk duduk di halaman depan rumah sembari bermain dengan kucing persia Peggy.

__ADS_1


Ibu Topan sangat baik beriteraksi dengan kucing manja itu. Wajahnya terlihat ceria setiap kali memangku kucing gemuk yang terlihat nyaman.


Di balik wajah tenang yang menemani ibu Topan, terselip wajah menunggu yang sesekali melihat tiada ujung jalan masuk.


Alia sangat berharap ada mobil atau kendaraan apa pun yang datang membawa pulang Topan.


Namun setelah kesekian kali mobil lewat tak ada yang berhenti di depan rumah nomor 15 itu.


Sampai hari beranjak gelap, sosok Topan tak juga kunjung muncul.


Wajah menunggu Alia yang semula bahagia kian berubah sedih. Ternyata ia terlalu berharap, mungkin saja bukan hari ini, bukan hari kebebasan Topan.


Dan ketika jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam, akhirnya Alia tak punya pilihan lain selain menyimpan makanan yang sudah ia masak dari tadi pagi dan menyimpannya kedalam kulkas agar tidak basi.


Setelah menyimpan makanan itu kedalam kulkas, Alia pun beranjak untuk membereskan ibu Topan.


Wanita tua itu masih setia menonton Discovery Cannel tentang burung.


Alia menantap lama wajah polos ibu Topan, lalu duduk di sampingnya.


"Mungkin hari ini bukan hari mas Topan bebas.. mungkin besok.." curhat Alia pada ibu Topan.


Ibu Topan menoleh.


Alia tertunduk.


Ibu Topan mengusap pundak Alia dengan lembut.


Alia kembali menantap ibu Topan. Dan wajah ibu Topan berubah dengan senyum simpul.


"Gak papa.." kata ibu lembut.


Deg.. Alia terpaku dan hal itu sukses membuat Alia terenyuh.


"Duh, ibu baik banget sih.. jadi pengen nangis nie" sahut Alia dengan wajah termehek-mehek.

__ADS_1


Wajah ibu Topan hanya tersenyum dan hal itu akhirnya membuat Alia benar-benar tidak bisa menahan air mata lelah karena terlalu berharap.


Dan ibu Topan hanya bisa mengusap pundak teman baiknya itu dan menemani Alia menangis.


***


Setelah sedikit menumpang air mata rindunya pada ibu Topan. Kini wanita paruh baya itu tertidur dengan lelap.


Alia pun beranjak pergi dari kamar itu untuk kembali menuju kamar miliknya di lantai atas.


Namun sebelum ia beranjak naik ke lantai atas, Alia kembali memeriksa kunci pintu rumah.


Ia hanya mengecek satu persatu pintu pintu rumah agar bisa tidur dengan tenang.


Dan ketika ia mengecek pintu depan rumah, entah mengapa perasaan menunggunya masih saja berharap pria itu pulang hari ini. Walau waktu rasanya tidak lah mungkin, karena sudah pukul 12 malam.


Alia menantap sekilas halaman rumah yang sepi dan hanya sesekali suara motor lewat.


Lalu Alia menutup pintu rumah depan dan kembali menguncinya dengan aman.


"Mungkin bukan hari ini.." bisik Alia pada dirinya sendiri. "Mungkin besok, atau mungkin juga lusa.." ujar Alia yang membuat banyak kemungkinan akan hari kebebasan Topan.


Perlahan Alia melangkah pergi meninggalkan pintu depan rumah.


Namun baru beberapa langkah Alia menjauh. Tiba-tiba terdengar suara derum mobil di depan rumah.


Langkah Alia pun terhenti.


Dan tak lama terdengar kembali suara mobil pintu tertutup.


Kening Alia mendengar dengan was-was dan juga penasaran pada suara di halaman rumah nomor 15 itu.


Langkah Alia pun berbalik, ia kembali menuju pintu rumah untuk melihat siapa gerangan yang berhenti di halaman rumah nomor 15.


"Siapa ya??"

__ADS_1


__ADS_2