
Waktu kini sudah menunjukan pukul Enam pagi, Cinta pun sudah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah, termasuk memasak.
Tiba-tiba disaat Cinta sedang membereskan piring di dapur, dia melihat Dika dengan wajah bantalnya mengambil minum lalu kemudian duduk di meja makan.
"Mbok tumben jam segini masakannya udah siap?" tanya Dika tanpa menyadari keberadaan Cinta.
"Mas Dika udah lapar belum?" tanya Cinta kepada Dika. Namun, sepertinya Dika kaget sehingga tidak sengaja menyemburkan minumannya ke wajah Cinta.
"Astagfirulloh mas, maaf ya aku gak sengaja udah ngagetin mas Dika," ucap Cinta.
"Maaf-maaf Cinta wajahmu jadi basah," ucap Dika dengan mencoba mengelap wajah Cinta menggunakan baju yang ia pakai. tiba-tiba Cinta dan Dika mendengar suara teriakan dari belakang tubuh mereka.
"ANDHIKA PRATAMA, berani sekali kalian pagi-pagi sudah melakukan hal yang tidak senonoh di rumahku !" teriak perempuan paruh baya yang kini berada di hadapan mereka.
"Mamih kapan pulang?" tanya Dika kepada perempuan tersebut yang ternyata adalah Ibu tiri Dika.
"Mamih tuh sudah daritadi pulang, kamu nya aja yang gak sadar karena sedang asyik dengan gadis kampungan ini, gak tau deh apa yang akan kalian lakukan kalau sampai Mamih tidak memergoki kalian berdua," ujar Clara.
"Mih, please Cinta ini perempuan baik-baik, dan apa yang tadi Mamih lihat tuh gak seperti yang Mamih pikirkan," jawab dika.
"Mana ada gadis baik-baik pagi-pagi buta begini sudah ada di rumah lelaki yang bukan siapa-siapanya, pokoknya Mamih gak mau tau, sekarang juga kamu usir perempuan kampungan ini !" titah Clara.
"Cinta adalah teman Dika Mih, suka atau tidak dia dan kedua adiknya akan terus berada di rumah ini, dan asal Mamih ingat, rumah ini juga rumah Dika," balas mas Dika.
"Apa kamu bilang? jadi dia tinggal disini bersama kedua Adiknya? memangnya kamu pikir rumah kita ini tempat penampungan? Mamih gak nyangka ya Dika, hanya demi seorang perempuan yang baru kamu kenal, kamu berani melawan Mamih," ujar Clara.
Cinta pun kini merasa tidak enak hati karena sudah memperkeruh suasana, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk angkat bicara.
"Bu, maaf kalau keberadaan saya disini sudah membuat Ibu tidak nyaman, kalau begitu mas Dika, lebih baik saya bersama kedua adik saya pergi saja dari rumah ini, nanti saya juga bisa cari pekerjaan di tempat lain," ucap Cinta.
"Wah_wah_wah_hebat banget ya kamu, emang lulusan mana? kayaknya gampang banget cari kerjaan, kamu pikir cari kerjaan di Jakarta itu gampang apa? yang ada nanti kamu bakalan jadi gembel, tapi bagus deh kalau kamu tau diri, jadi kalian tidak mengotori rumah ku," sindir Clara.
"Maaf Bu, saya memang hanya lulusan SMP. Akan tetapi, saya akan bekerja keras supaya bisa menafkahi kedua Adik saya walau pun hanya menjadi seorang pembantu sekali pun, yang penting pekerjaan itu halal," ucap Cinta pada Clara.
__ADS_1
"Mih Stop ! apa pernah Dika meminta satu hal apa pun sedari kecil pada Mamih? jadi please kali ini aja Dika mohon sama Mamih buat ngijinin Cinta bersama kedua adiknya tinggal disini, kasihan Mih mereka itu Yatim Piatu, dan Ilham sudah menitipkan mereka pada Dika, jadi sekarang mereka adalah tanggung jawab Dika," ujar Dika.
"Tapi Dika, meski pun mereka Yatim Piatu, rumah kita juga bukan Panti Asuhan," ucap Clara tidak mau kalah, sampai akhirnya Stella datang.
"Ada apa sih Mih, kak Dika, pagi-pagi udah ribut aja," ucap Stella yang kemudian duduk serta mencicipi makanan yang berada di atas meja makan.
"Ini lho sayang, Kakakmu mau buat rumah kita jadi Panti Asuhan," ucap Clara.
"What? tunggu deh ini makanannya enak banget, pasti bukan Mbok Nah yang masak, apalagi Bi Marni," celetuk Stella.
"Ya ampun sayang, kamu tuh gimana sih gak nyambung banget? ini malah ngomongin makanan, Mamih kan jadi lapar juga habis marah-marah sama gadis kampungan ini," ucap Clara yang kemudian duduk dengan Stella.
"Ini masakan kamu kan gadis kampung?" tanya Clara.
"Iya Bu," jawab Cinta.
"Ya sudah kalau begitu Dika, dia boleh tinggal disini sebagai pembantu kita, lagian Mamih denger si Marni katanya sudah pulang kampung," ujar Clara.
"Gak bisa gitu donk Mih, nanti aku bakalan jadiin Cinta tuh Sekretaris pribadiku di salah satu Perusahaan milik kita," jawab Dika.
"Iya Mamih bener, Stella setuju banget, lulusan SMP emang pantasnya jadi pembokat aja, gak usah banyak tingkah," tambah Stella.
"Tapi Cinta bisa ikut kesetaraan SMA sambil bekerja dan kemudian nanti dia juga bisa meneruskannya dengan kuliah," jawab Dika yang kini kembali berdebat dengan keluarganya.
"Mas Dika, udah gak apa-apa kok, Cinta udah seneng banget bisa diterima kerja disini, dan nanti biar Cinta cari sekolah buat Tia dan Ahmad yang ada asrama nya aja biar mereka juga bisa tinggal disana," ujar cinta yang mencoba untuk menyudahi perdebatan Dika dan keluarganya.
"Ya sudah kalau memang itu keputusan kamu Cinta, aku akan selalu mendukung semuanya," ucap Dika.
Yang penting kamu selalu berada di sampingku Cinta, aku akan selalu menunggumu sampai kamu bisa membuka hatimu untukku, agar aku bisa menebus semua kesalahanku yang telah membantu memisahkan kamu dan Ilham, biarlah rahasia ini akan aku simpan selamanya, lanjut Dika dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Tia dan Ahmad datang mencari Cinta disaat keluarga Dika sedang melangsungkan sarapan, sepertinya mereka juga sudah lapar.
"Kak Dika, kak Cinta nya mana?" tanya Ahmad.
__ADS_1
"Eh rupanya kalian sudah bangun ya, ya sudah sini ikut sarapan sama Kak Dika, Kak Cintanya lagi ke dapur dulu, katanya mau buat minuman," ujar Dika.
"Dika tolong ya jangan ajak-ajak mereka makan bareng sama kita, masa Adiknya pembantu duduk sama majikan," ucap Clara.
Tia yang mendengar perkataan Clara pun terlihat senang,
"Syukur deh kalau kak Cinta jadi pembantu, lagian emang pantasnya anak pungut itu jadi pembantu," celetuk Tia.
"Kak Tia harusnya jangan bicara seperti itu, kak Cinta ngelakuin semuanya kan buat kita juga," ucap Ahmad.
"Waaaah, Ibu sama Kakak ini siapa ya? kok cantik-cantik banget sih, mirip artis di TV gitu?" ucap Tia mencoba menjilat Clara dan Stella.
"Iiiih kamu bisa aja deh, aku emang punya cita-cita jadi model sama artis terkenal," jawab Stella.
"Iya aku pasti bakalan dukung Kakak, Kakak kan emang cantik banget," ucap Tia.
"Jadi kamu tuh Adiknya si Cinta gadis kampungan itu ya?" tanya Clara.
"Bukan kok Ibu Cantik, dia mah cuma anak pungut," jawab Tia.
"Ya sudah sepertinya kamu tidak usah sekolah di Asrama, kamu lebih baik tinggal disini aja sama kita, kayaknya kamu memang cocok deh sama kita, yang sekolah di asrama biar anak kucel dan bau itu aja tuh" ucap Clara dengan menunjuk Ahmad.
Cinta yang mendengar perkataan Clara pun merasa kasihan kepada Ahmad,
Cukup aku saja disini yang mereka hina, tapi aku gak bisa ngelakuin apa-apa karena aku hanyalah seorang pembantu, ujar Cinta dalam hati.
"Kak Cinta gak apa-apa kan?" tanya Ahmad yang tiba-tiba berada di sampingnya.
"Maafin Kakak ya sayang, tadi gak bisa belain kamu waktu Bu Clara bilang kamu kucel dan bau," ucap Cinta dengan mengelus lembut kepala Ahmad.
"Iya gak apa-apa kok, Kakak gak usah sedih, lagian Ahmad juga belum mandi, jadi kelihatannya kucel dan bau," jawab Ahmad sambil tersenyum.
"Kamu memang anak yang baik Ahmad, maafin kakak ya karena harus masukin kamu buat sekolah dan tinggal di asrama," ujar Cinta.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok kak, Ahmad malah seneng, nanti Ahmad sekolahnya sambil mondok aja ya, biar Ahmad menjadi anak Soleh dan nanti bisa mendo'akan Ibu dan Bapak juga," ujar Ahmad.
Cinta yang mendengar ucapan Ahmad pun merasa tersentuh, sampai akhirnya dia meneteskan Airmata.