
Sudah dua hari Cinta di rawat di Rumah Sakit. Dika begitu perhatian dan telaten mengurusnya, padahal Cinta sudah bisa makan sendiri, tapi Dika selalu saja menyuapinya.
"Mas udah donk gak usah di suapi segala, aku kan sudah sembuh, lagian aku juga bukan anak kecil," rengek Cinta pada Dika.
"Pokoknya gak ada penolakan ya sayangku, Cintaku, aku gak mau kalau sampai kamu sakit lagi," cerocos Dika.
"Iya_iya, percuma juga aku melawan mas Dika, aku juga gak bakalan menang," ujar Cinta dengan cemberut.
"Gitu donk, anak baik harus nurut, ayo buka lagi mulutnya, pokoknya kamu harus habisin makanan ini, biar kamu cepet sembuh," ujar Dika.
"Mas kok gak berangkat kerja sih? aku kan jadi gak enak sama Bu Clara," ucap Cinta.
"Udah gak apa-apa, jangan terlalu banyak pikiran, yang penting buat aku kesembuhan kamu itu nomor satu, lagian buat apa aku gaji asisten kalau gak bisa menghandle semua pekerjaanku," jawab Dika.
"Ya sudah kalau begitu aku mau pulang hari ini ya, sekarang kan kondisiku juga sudah lebih baik," rengek Cinta.
"Gak bisa, pokoknya paling sebentar kamu harus di rawat disini selama satu minggu, aku gak mau ya kalau nanti pulang kamu malah sibuk kerja, dan aku tidak mau dengar lagi penolakan karena mulai bulan depan kamu harus ikut kesetaraan SMA !" ujar Dika .
"Tapi mas, nanti gimana Mbok Nah kasihan gak ada yang bantuin," ujar Cinta.
"Kamu gak usah khawatir, kemarin aku sudah menyuruh Asistenku untuk mengambil pembantu dari yayasan buat bantu Mbok Nah di rumah, namanya bi Ijah kalau gak salah."
"Mas, tapi aku gak enak kalau aku masih tinggal di rumah mas Dika, sedangkan aku sudah tidak bekerja lagi disana, apa nanti kata orang jika mengetahui status kita saat ini yang berpacaran dan tinggal dalam satu rumah, aku gak mau jadi fitnah karena kita belum muhrim?" ujar Cinta.
"Kamu ngapain sih dengerin kata orang, lagian kita juga gak minta makan dari mereka, kalau memang gak mau jadi fitnah ya sudah kita nikah saja, gampang kan?" ujar Dika.
"Tapi gak segampang itu mas, aku masih trauma karena pernah gagal Menikah," ucap Cinta dengan tertunduk sedih.
__ADS_1
"Ya sudah gak usah sedih, nanti cantiknya hilang lho, nanti kita bicarakan lagi semua itu setelah kamu keluar dari sini ya, sekarang kamu lebih baik istirahat lagi biar cepet sembuh, aku juga mau ngecek dulu pekerjaanku lewat laptop," ujar Dika.
Dika kini mencoba untuk membantu membaringkan tubuh Cinta yang masih lemas.
"Tunggu deh kayaknya ada bulu mata yang jatuh di bawah mata kamu Cinta, maaf ya aku ambil dulu, takutnya nanti malah masuk ke dalam mata kamu," ujar Dika dan Dika pun kini mencoba mengambil bulu mata tersebut dengan memajukan wajahnya supaya lebih terlihat.
Brakkk
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka dengan keras.
Cinta dan Dika terkejut karena Ilham kini terlihat diam mematung di depan pintu kamar rawat Cinta.
"Mas Ilham" ucap Cinta dengan lirih.
"Maaf kalau kedatanganku sudah mengganggu aktifitas kalian, tadi aku cemas dengan keadaan Cinta, makanya aku sampai lupa untuk mengetuk pintu," ucap Ilham.
"Ayo masuk Ilham, kenapa gak bilang dulu kalau mau datang kesini? aku kan bisa suruh supir buat jemput kamu," ucap Dika yang kemudian menggandeng tangan Ilham untuk masuk ke dalam ruang rawat Cinta.
Aku tau mas Ilham pasti sudah salah paham, sebab melihat posisi mas Dika dari belakang jadi kami terlihat seperti sedang berciuman. ujar Cinta dalam hati.
"Cinta bagaimana keadaan kamu sekarang? apa sudah lebih baik?" tanya Ilham.
"Mas Ilham gak usah khawatir, karena aku sudah mempunyai mas Dika yang selalu berada di sampingku," ucap Cinta dengan menarik tubuh Dika agar lebih dekat dengannya dan Cinta pun langsung memegang erat tangan Dika.
"Dika, apa aku bisa bicara berdua dengan Cinta walau pun cuma sebentar?" pinta Ilham.
Cinta yang mendengar permintaan Ilham kepada Dika pun, langsung menjawab permintaan Ilham dengan terus menggenggam tangan Dika.
__ADS_1
"Maaf ya mas Ilham, aku gak mau bicara berdua sama suami orang, karena aku gak mau di Cap sebagai PELAKOR, kalau mas mau bicara, silahkan bicara saja di depan mas Dika, karena dia adalah calon imam serta Ayah dari anak-anakku nantinya," ucap Cinta mencoba untuk menegaskan hubungannya dengan Dika kepada Ilham.
"Jadi benar kalian sudah resmi menjalani hubungan?" tanya Ilham.
"Iya mas, mohon do'a restunya ya," jawab Cinta kepada Ilham.
"Aku bener-bener gak nyangka dengan perubahan sikapmu Cinta, padahal kita baru satu bulan putus, tapi kamu sudah mendapatkan gantinya, aku kira kamu akan susah untuk melupakanku karena aku adalah cinta pertama untukmu, begitu juga denganku, kamu adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhir untukku." ucap Ilham dengan meneteskan airmata.
"Maaf ya mas Ilham, disini bukan aku yang sudah meninggalkan mas Ilham, tapi mas Ilham yang sudah terlebih dahulu Menikah dengan perempuan lain, lalu dimana letak kesalahanku? apa aku salah jika mencoba membuka hatiku untuk lelaki lain? aku juga ingin merasakan bahagia mas," ucap Cinta berusaha untuk tetap tegar di hadapan Ilham.
"Tapi aku selalu setia mencintai kamu Cinta, bahkan aku tidak pernah sedikit pun menyentuh tubuh Istriku sendiri, apa kamu tidak bisa menungguku sebentar saja sampai aku bercerai dengan Bella?" tanya Ilham yang nampak menahan emosi.
"Maaf mas, aku bukan perempuan sebaik itu, dan aku tidak ingin melihat ke belakang lagi, buktinya sekarang aku bisa mendapatkan lelaki yang lebih segala-galanya di bandingkan dengan mas Ilham," ucap Cinta tidak mau kalah.
"Aku juga tidak pernah menyangka jika Cinta yang selama bertahun-tahun aku kenal, kini di depan mataku sendiri sudah melakukan hal yang tidak senonoh dengan lelaki yang bukan muhrimnya," ucap Ilham.
"Aku tidak sepolos itu mas, sekarang aku bukan Cinta yang dulu lagi, dan maaf aku mau istirahat, jadi aku minta sebaiknya mas Ilham pergi dari sini, karena kedatangan mas Ilham sudah mengganggu aktifitas kami," jelas Cinta pada Ilham supaya dia cepat pergi dari Rumah Sakit, karena saat ini mata Cinta sudah mulai memanas.
"Cinta, aku harap kamu tidak akan pernah berubah, aku akan selalu menunggu kamu sampai kapan pun, aku tidak mau kalau harus melihat kamu Menikah dengan lelaki lain," suara Ilham kini terdengar melunak.
"Maaf mas, jangan membuang waktu mas Ilham dengan menungguku, karena sampai kapan pun kita tidak akan pernah bersatu, lupakan aku mas, seperti aku yang sudah melupakan mas ilham, buka hati mas untuk Bella, Istri mas sendiri !" ujar Cinta.
"Ya sudah kalau itu mau kamu aku akan pergi dari tempat ini sekarang juga, tapi maaf Cinta aku tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk berhenti menunggumu, karena selamanya aku akan terus menunggumu sampai kita berdua bisa bersatu." ucap Ilham yang kini melangkahkan kakinya dari kamar rawat Cinta menuju keluar setelah sebelumnya mengucap Salam lalu akhirnya dia menutup pintu.
Setelah kepergian Ilham, kini Cinta menumpahkan airmata yang sedari tadi sudah tidak dapat terbendung lagi.
"Cinta kamu kenapa tidak bilang kepada Ilham tentang kesalahpahaman dia terhadap kita tadi?" tanya Dika.
__ADS_1
"Mungkin itu lebih baik mas, supaya mas Ilham membenciku dan berusaha untuk melupakanku," jawab Cinta pada Dika.
"Kamu yang sabar ya, aku akan terus berusaha membantumu untuk melupakan ilham," ucap Dika yang kini merangkul tubuh Cinta dari samping.