
Mbok Nah kembali lagi ke Rumah Sakit untuk mengantarkan baju ganti Cinta dan Dika. Sehingga Cinta kemudian pamit kepada Mbok Nah untuk mengganti baju serta membersihkan diri terlebih dahulu di ruang perawatannya.
Di luar ruang ICU tempat Dika di rawat, Dokter Arya sudah menugaskan Security untuk berjaga. Cinta pun merasa tenang untuk meninggalkan Dika sementara waktu.
Ketika Cinta membuka pintu ruang perawatannya, dia nampak kaget karena sekarang ada Clara disana dengan membawa pisau. Cinta pun bermaksud untuk kembali keluar, tapi ternyata di balik pintu sudah ada dua orang preman yang mencegatnya.
"Mau apa Ibu kemari?" tanya Cinta dengan gemetaran.
"Aku mau nyawa kamu," teriak Clara dengan tertawa.
"Apa salah saya terhadap Ibu?" tanya Cinta mencoba untuk memberanikan diri.
"Kamu terlalu banyak ikut campur dengan urusan saya, Kamu itu penghalang untuk saya menguasai harta keluarga Pratama, jadi lebih baik kamu akan saya singkirkan," ujar Clara dengan menodongkan pisau.
Namun ketika Cinta hendak menjerit, mulutnya telah ditutupi oleh sapu tangan yang sudah memakai obat bius, sehingga kemudian Cinta pingsan.
"Ayo kita bawa pergi dari sini," ujar Clara.
"Tapi bagaimana caranya Bu?" tanya kedua preman tersebut.
"Kalian itu punya otak gak sih? angkat dia ke atas kursi roda, dan pakaikan masker pada wajahnya, supaya tidak ada yang bisa mengenalinya !!" ujar Clara. dan Preman tersebut pun menuruti perintah Clara.
Setibanya di parkiran, Clara menugaskan mereka untuk menghabisi serta membuang jasadnya, supaya tidak ada bukti.
"Sekarang apa yang harus kami lakukan Bu?" tanya kedua Preman tersebut.
"Terserah kalian mau melakukan apa kepadanya, yang pasti bawa dia pergi jauh dari kota ini, serta habisi dan buang jasadnya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun," titah Clara kepada dua Preman suruhannya. sehingga kedua Preman tersebut bergegas membawa Cinta masuk ke dalam mobil.
Dokter Arya yang kebetulan sudah berada di dalam mobil untuk pulang, tidak sengaja melihat semuanya.
"Bukannya itu Nyonya Clara Ibu tirinya Tuan Dika, lalu siapa yang mereka bawa di kursi roda? lho Bukannya itu Cinta? sebaiknya aku harus mengikuti mobil kedua orang suruhan Bu Clara, aku takut terjadi hal buruk menimpa Cinta," gumam Arya, sehingga Arya pun bergegas mengikuti mobil kedua Preman tersebut.
__ADS_1
"Mau kita bawa kemana gadis cantik ini Bos?" tanya salah satu Preman.
"Bagaimana kalau kita menikmati tubuhnya terlebih dahulu sebelum membuangnya?" jawab orang yang disebut Bos. Sehingga kedua Preman tersebut tertawa.
Ketika mobil tersebut berhenti di sebuah gudang yang berada di dalam hutan, mereka berniat untuk menodai Cinta. Mereka sudah terlihat bernafsu untuk melakukan tindakan bejatnya.
Sebelum mereka berhasil menyentuh Cinta, Arya bergegas menendang kedua Preman tersebut sehingga terjadilah perkelahian.
"Jangan harap kalian bisa menyentuh calon Istri saya," ucap Arya yang secara tidak sadar mengakui jika Cinta adalah calon Istrinya.
"Boleh juga tenagamu anak muda, kalau begitu kamu bisa melihat bagaimana kami akan bermain dengannya," ucap Bos Preman sehingga memancing emosi Arya.
Arya yang memang sudah ahli dalam beladiri dengan mudah melumpuhkan kedua Preman tersebut. Namun, ketika dia menggendong Cinta, dengan sisa tenaganya salah satu Preman mendorong tubuh Arya, sehingga Cinta terjatuh dan kepalanya terbentur mengenai batu.
"Cinta..maafkan aku, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan kepalamu," ujar Arya yang nampak khawatir, lalu dia bergegas kembali menggendong Cinta dan membawa pergi ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Arya menyuruh Pembantu yang bekerja di rumahnya untuk menggantikan baju Cinta dengan baju baru yang sempat Arya beli pada saat di perjalanan pulang.
"Bi..tolong gantikan baju Cinta ya," ujar Arya.
Setelah menggantikan baju Cinta, Bibi pun kembali keluar dari kamar Arya.
"Den, maaf sebelumnya, Bibi sebenarnya besok mau pamit pulang kampung, kasihan anak Bibi disana gak ada yang ngurus, karena kedua orang tua Bibi sudah sakit-sakitan," ucap Bibi kepada Arya.
"Iya Bi, tidak apa-apa, besok saya akan mencari pengganti Bibi untuk bekerja di rumah ini," jawab Arya.
"Terimakasih banyak ya Den, selama ini Aden sudah baik kepada Bibi, mohon maaf jika Bibi sudah banyak salah,"
"Saya yang seharusnya meminta maaf kepada Bibi, jika selama Bibi bekerja disini saya sudah banyak salah. Kalau begitu saya harap Bibi bisa menerima sedikit rezeki dari saya," ujar Arya yang memberikan Amplop kepada Bibi.
""Terimakasih banyak ya Den, padahal Bibi kan sudah gajian kemarin, kalau begitu Bibi permisi dulu ya Den," ujar Bibi dengan berlalu dari hadapan Arya.
__ADS_1
"Aku sebaiknya harus memeriksa kondisi Cinta saat ini, aku takut benturan di kepalanya tadi menyebabkan luka yang serius untuknya," gumam Arya yang kini masuk ke dalam kamar tempat Cinta beristirahat.
Arya kini sudah memperban luka di kepala Cinta, dan juga memeriksa keadaannya.
"Kamu harus cepat sembuh Cinta, aku akan selalu berada disini untuk menunggumu," ucap Arya yang kemudian tertidur dengan posisi duduk di Sofa samping tempat tidur Cinta.
Ketika Adzan Subuh berkumandang, Arya secara perlahan membuka matanya, dia terlihat panik karena kini Cinta sudah tidak ada di tempat tidurnya.
"Astagfirulloh Cinta, dimana kamu," ujar Arya yang kini mencari Cinta ke seluruh ruangan.
Akhirnya Arya memutuskan untuk mencari Cinta di dapur, dan dia sangat terkejut ketika Cinta sudah terlihat memasak disana.
"Astagfirulloh Cinta, aku kira kamu kemana, dari tadi aku mencarimu," ujar Arya yang kini sudah merasa lega karena melihat Cinta baik-baik saja.
"Mas rupanya sudah bangun, ya sudah sebaiknya mas bergegas ke kamar mandi, nanti waktu Sholat Subuhnya keburu habis," ujar Cinta yang membuat Arya diam mematung.
"Ayo cepetan sayang, kok malah diam saja sih?" ujar Cinta. Sehingga jantung Arya kini berdetak kencang karena Cinta memanggil Arya dengan sebutan sayang.
"Ayo cepetan masuk kamar mandi mas," ujar Cinta yang kini mendorong tubuh Arya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Arya selesai Sholat Subuh, dia kini terlihat melamun.
Apa mungkin benturan di kepalanya telah membuat Cinta Amnesia? tanya Arya dalam hati.
Lalu Cinta pun menghampiri Arya yang kini terlihat melamun.
"Mas tuh kenapa sih daritadi melamun terus? mas baik-baik saja kan?" tanya Cinta dengan menempelkan punggung tangannya di kening Arya.
"Mas gak apa-apa Cinta, Bagaimana kondisi kamu sekarang?" ujar Arya dengan gugup.
"Kepalaku masih sedikit sakit sih mas, dan aku juga tidak mengingat apa-apa, tapi tadi aku sempat tanya sama Bibi sebelum dia pamit," ujar Cinta.
__ADS_1
"Tanya Apa?" ujar Arya yang penasaran.
"Aku nanya, Apa Mas Suami aku, Bibi hanya diam saja sih tanpa menjawab, lalu kemudian pamit. Tapi tidak mungkin kan kalau kita bukan Suami-Istri, semalam kita tidur di dalam kamar yang sama," ujar Cinta yang kini telah salah paham dengan statusnya bersama Arya.