
Pov Cinta
Hari ini aku dan mas Dika berencana untuk mengantarkan Ahmad ke Pesantren yang akan melanjutkan SMP disana sekalian mondok, kalau gak salah disebut Boarding School yang berada di daerah Bogor. sebenarnya aku sedih harus berpisah dengan Ahmad, tapi ini juga demi kebaikan serta masa depannya.
Tia tidak ikut kami mengantar Ahmad dengan alasan ada kerja kelompok bersama teman-temannya. semenjak masuk SMA Tia jarang berada di rumah, aku selalu merasa khawatir dengannya, apalagi dengan pergaulannya, Tia yang dulu memakai jilbab kini kerap memakai pakaian yang kurang bahan serta mempertontonkan aurat. Akan tetapi, dia selalu marah apabila dinasehati olehku.
Ibu, Bapak maafin Cinta yang sudah gagal mendidik Tia menjadi perempuan soleha, ucapku dalam hati.
Akhirnya dua jam kemudian kami pun tiba di Pesantren.
Rasanya berat harus berpisah dengan Ahmad, di usianya yang baru menginjak 13 tahun dia sudah dituntut untuk mandiri. tapi, Ahmad selalu mencoba meyakinkan aku kalau dia akan baik-baik saja.
"Ahmad jaga diri baik-baik ya, jaga kesehatan dan jangan lupa makan, semoga Ahmad bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat, maaf Kakak tidak bisa selalu berada di samping Ahmad," ucapku dengan meneteskan airmata.
"Kak Cinta tidak usah khawatir ya, Ahmad pasti bisa jaga diri kok, lagian dulu Ibu sama Bapak selalu bilang kalau anak laki-laki itu harus mandiri dan gak boleh cengeng, Ahmad pasti akan membanggakan Kakak dan Mendiang orangtua kita." ucap Ahmad dengan menghapus airmata di pipiku dan kemudian memeluk erat tubuhku.
"Kak Dika, tolong jaga kak Cinta ya, Ahmad yakin selama ada kak Dika, kak Cinta akan baik-baik saja."
"Siap Bos, pasti kak Dika bakalan 24 jam jagain kak Cinta," ujar Mas Dika dengan tertawa.
"Mas Dika pikir aku bayi yang harus di jagain 24 jam," ucapku pada mas Dika.
"Kamu itu Intan Berlian jadi kalau gak di jagain takutnya ada yang nyuri," jawab mas Dika.
"Mulai nih Raja gombal beraksi," ledekku padanya.
"Apa sih yang enggak buat kamu Cinta?" goda mas Dika dengan menaik turunkan alisnya, hingga membuatku memutar malas bola mataku.
Akhirnya, kami pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah sebelumnya menitipkan Ahmad serta berpamitan kepada pengurus Pondok Pesantren.
"Lho kita mau kemana sih mas? perasaan ini bukan arah ke Jakarta deh?" tanyaku pada mas Dika.
"Kita mau ke Puncak dulu sekalian refreshing, otakku penat mikirin kerjaan terus," jawab mas Dika.
"Ya sudah aku ikut Bos aja," ucapku dengan tersenyum.
Mas Dika pun membalasnya dengan senyuman yang manis. Namun, senyuman itu mengingatkan aku pada mas Ilham.
__ADS_1
Ya Alloh ampuni aku karena masih saja memikirkan lelaki yang sudah menjadi suami orang lain. ucapku dalam hati hingga tak terasa airmataku pun ikut menetes.
Mas Dika yang melihatku meneteskan airmata kini bertanya.
"Kamu kenapa Cinta? apa senyumku begitu menakutkan hingga membuatmu menangis?" tanya mas Dika.
Aku pun sedikit terhibur dengan pertanyaan konyolnya.
"Gak apa-apa kok mas, aku cuma ingat Ahmad aja," jawabku berbohong.
"kamu gak usah khawatir Cinta, aku lihat Ahmad anak yang mandiri, dia pasti bisa menjaga diri dengan baik," ujar mas Dika.
"Iya mudah-mudahan saja mas."
"Oh iya Cinta, barusan Ilham transfer uang 50 juta, katanya buat keperluan kamu beserta kedua adikmu," ujar mas Dika.
"Mas, bisa nggak kalau mas balikin lagi uangnya sama mas Ilham? aku gak berhak nerima uang dari mas Ilham, karena dia juga bukan siapa-siapa aku," ucapku dengan sedih.
"Kalau memang itu kemauan kamu, pasti akan aku lakukan dengan senang hati tuan Puteri, kamu juga gak usah khawatir, karena aku sudah membayar semua pendidikan Ahmad dan Tia," ujar mas Dika.
"Terimakasih banyak ya mas, mas potong saja setiap bulan dari gajiku, aku gak mau dibilang sudah memanfaatkan kebaikan mas Dika," ucapku karena merasa tak enak hati.
Kami akhirnya tiba di Puncak, sungguh pemandangan yang sangat memanjakan mata.
"Alhamdulillah sampai juga, pemandangannya indah banget ya mas, aku baru kali ini datang kesini," ucapku.
"Syukur deh kalau kamu suka, nanti setiap minggu kita liburan kesini aja sambil nengokin Ahmad," ucap mas Dika yang membuat hatiku merasa senang karena aku akan sering bertemu dengan Adikku.
Hingga beberapa saat kemudian mas Dika terlihat menerima telpon dari seseorang.
"Assalamu'alaikum Ilham, loe apa kabar bro? tanya mas dika pada penelpon tersebut yang aku dengar namanya mas Ilham.
Deggg
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang disaat mendengar nama lelaki yang selalu aku rindukan, hingga sesaat kemudian mas Dika memberikan handphone nya padaku.
"Cinta, katanya Ilham mau ngomong sama kamu."
__ADS_1
Aku pun menggelengkan kepalaku.
"Udah ngomong aja biar dia tidak mengganggu kamu lagi," ucap mas Dika sehingga membuatku memberanikan diri untuk bicara dengan mas Ilham.
"Assalamu'alaikum mas," ucapku dengan suara yang bergetar.
"Wa'alaikumsalam Cinta, kamu apa kabar? kamu baik-baik aja kan?" tanya mas Ilham.
"Mas gak usah khawatir, aku disini baik-baik saja kok, malahan baik banget karena mas Dika selalu berada di sampingku," ucapku dengan mencoba menahan airmata yang hampir tumpah.
"Cinta aku mohon, kamu terima uang yang aku kirim ya." ucap mas Ilham.
"Maaf mas, kita bukan siapa-siapa jadi aku gak berhak nerima uang dari mas Ilham. jawabku pada mas Ilham.
"Aku janji akan secepatnya menceraikan Bella, dan aku akan segera Menikahimu Cinta." ucap mas Ilham.
"Maaf mas, aku tidak mau menjadi duri dalam rumah tanggamu, sebaiknya mas lupakan semua tentang kita, seperti aku yang sudah melupakan mas Ilham," ucapku mencoba berbohong.
"Kamu tidak usah membohongi hatimu sendiri Cinta, kamu harus tau bahkan aku tidak pernah menyentuh Bella sedikit pun !" ucap mas Ilham.
"Astagfirulloh mas, mas sudah melakukan dosa besar karena tidak memberikan nafkah bathin kepada Istri mas sendiri !" ucapku dengan tegas.
"Selamanya aku hanya akan mencintai kamu, dan aku akan tetap menceraikan Bella, karena aku tidak pernah mencintainya," ujar mas Ilham.
"Istighfar mas, ingat perceraian memang di halalkan oleh hukum agama, tapi perceraian juga di benci oleh Alloh SWT, lagian percuma mas Ilham bercerai dengan Bella, karena aku sudah mempunyai pengganti mas." ucapku kembali berbohong.
"Apa maksudmu Cinta? aku tau kamu tidak akan semudah itu melupakanku, bahkan kita baru berpisah satu bulan saja." ujar mas Ilham.
"Tapi sayangnya aku sudah memilih mas Dika untuk menjadi pendamping hidupku, dan dia akan menjadi Imamku di dunia dan akhirat. ucapku pada mas Ilham, sehingga mas Dika yang mendengarnya pun membulatkan matanya.
"Benar kan sayang?" ucapku kemudian kepada mas Dika dengan memberi kode mengedipkan sebelah mataku padanya.
"Iya sayang." jawab mas Dika yang sengaja handphonenya aku speaker supaya terdengar oleh mas Ilham, lalu kemudian aku pun mengirimkan fhoto selfi kami yang berada di Puncak kepada mas Ilham.
"Gue gak nyangka kalau loe penghianat Dika !" Geram mas Ilham.
"Maaf Bro sebenarnya gue sudah lama mencintai Cinta semenjak loe selalu membicarakannya saat kita kerjasama di Sulawesi," ucap mas Dika yang aku kasih jempol karena aku pikir dia sudah membantuku untuk bersandiwara.
__ADS_1
Akhirnya, setelah mas Ilham menutup telponnya, tangisanku pun pecah, Kenapa cinta Pertamaku harus sesakit ini? ujarku dalam hati.