Pengorbanan Cinta

Pengorbanan Cinta
Bab 29 ( Rencana Pernikahan Cinta dan Dika )


__ADS_3

Pov Cinta


Sepulang dari Sekolah tempat aku mengikuti Ujian kesetaraan SMA, mas Dika kini masih terlihat kesal.


"Mas, udah dong jangan cemberut gitu, nanti gantengnya ilang lho," ucapku pada mas Dika mencoba untuk menghiburnya.


"Hati kamu itu terbuat dari apa sih sayang? kok kamu tuh pemaaf banget, aku aja yang denger ucapan Tia rasanya pengen banget nyumpel mulutnya yang selalu mengeluarkan kata-kata kasar sama kamu," ujar mas Dika.


"Mas, kalau kita membalas orang yang sudah jahat sama kita, berarti kita gak ada bedanya dong sama orang tersebut, kita gak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan juga, karena tidak akan ada akhirnya. Akan tetapi, jika kita membalas kejahatan dengan kebaikan insyaAlloh mudah-mudahan suatu hari orang tersebut akan mendapatkan hidayah," jelasku pada mas Dika.


"Aku jadi makin Cinta deh sama kamu," ucap mas Dika dengan tersenyum kepadaku yang hanya aku balas dengan senyuman juga.


"Mas, aku lapar nih, gimana kalau kita ke Puncak aja?" ajakku pada mas Dika.


"Kamu tuh aneh banget sih sayang, kok lapar ngajaknya ke Puncak sih? nanti kamu keburu pingsan karena kelaparan," ujar mas Dika.


"Sebenarnya gak lapar-lapar amat sih, cuma ada sesuatu hal yang harus kita bicarakan, dan aku ingin mencari tempat yang sepi," ucapku.


"Apa aku gak salah denger? seorang Cinta mengajakku ke tempat sepi, mau apa hayo? aku jadi gak sabar," ucap mas Dika dengan cengengesan.


"Udah deh mikirnya gak usah yang aneh-aneh, acara ke Puncaknya gak usah jadi aja deh, tuh di depan ada Restoran, kayaknya tempatnya juga tidak terlalu ramai, sebaiknya kita berhenti disana saja ya, aku juga sudah lapar beneran," ajakku pada mas Dika yang dijawab dengan senyuman serta anggukan kepala.


"Ya sudah aku nurut saja sama paduka Ratu," jawab mas Dika yang masih saja cengengesan sehingga aku memberikan cubitan di perutnya.


"Sakit sayang, tapi mau lagi dong," goda mas Dika.


"Mas nyebelin banget sih, udah yuk kita turun, alhamdulillah sudah sampai juga," ujarku.


"Nyebelin tapi ngangenin kan?" ucap mas Dika lagi hingga aku mendelikan mataku dan kemudian turun terlebih dahulu dari mobil.

__ADS_1


"Sayang tungguin dong, kok kamu sudah turun duluan, mas kan belum bukain pintu," ujar mas Dika dengan mengekor di belakangku.


"Mas..aku bukan anak kecil lagi jadi gak usah diperlakukan seperti anak kecil, lagian mas itu Bos aku, masa aku yang dibukain pintu, emangnya gak kebalik?" jawabku pada mas Dika.


"Kamu tuh orang paling spesial dalam hidup aku, lagian siapa juga yang nyuruh kamu bantuin kerjaanku di kantor, aku tuh bukan Bos kamu, tapi calon Imam dan calon Ayah untuk anak-anak kita nanti, tapi kamu sudah membantu aku banget sih," ujar mas Dika dengan terkekeh pelan.


"Yuk masuk, aku sudah lapar banget nih, nanti bisa-bisa mas Dika yang aku makan," ujarku dengan menarik lembut tangan mas Dika, lalu kemudian kami berdua mencari tempat yang kosong yang agak jauh dari semua orang supaya kami bisa leluasa untuk berbicara.


"Mas, itu di atas kayaknya ada saung lesehan gitu, kita duduknya disana aja ya," ajakku pada mas Dika.


"Ya sudah kamu duluan aja biar aku pesen dulu, kasihan nanti pelayannya kalau harus bolak-balik, kamu mau makan sama apa sayang?" tanya mas Dika.


"Apa aja deh mas, tapi jangan banyak-banyak ya pesannya, sayang kan nanti kalau mubazir."


"Iya_iya Ratuku yang cantik dan baik hati," jawab mas Dika, dan aku pun langsung menuju ke lesehan karena mas Dika pasti gak akan berhenti berbicara jika aku tidak meninggalkannya.


Aku harus segera mengambil keputusan tentang masa depanku bersama mas Dika, mungkin jika aku Menikah dengan mas Dika, mas Ilham tidak akan menggangguku lagi, meski pun ini semua begitu berat untukku.


"Sayang, apa sih yang mau kamu bicarakan? aku sudah penasaran banget nih," ucap mas Dika.


"Nanti aja mas kalau sudah beres makan, nanti aku gak fokus lagi bicaranya kalau aku masih lapar," jawabku dengan cengengesan.


Akhirnya makanan pun datang, dan kami segera melahapnya, apalagi mas Dika terlihat sangat cepat memasukan semua makanan kedalam mulutnya.


"Pelan-pelan saja mas, nanti mas keselek," ucapku pada mas Dika.


"Uhuk_uhuk" mas Dika terlihat batuk, dan aku pun segera memberikan air putih padanya.


"Tuh kan, aku bilang juga apa, mas sih makannya cepet banget kayak yang lagi dikejar-kejar aja," ucapku dengan memukul-mukul pelan tengkuk lehernya supaya berhenti tersedak.

__ADS_1


"Alhamdulillah.." ucap mas Dika ketika dia sudah merasa enakan.


"Makasih ya sayang, maaf aku buru-buru juga makannya karena ingin cepat-cepat mendengarkan apa yang ingin kamu bicarakan," ucap mas Dika dengan tersenyum padaku.


"Mas tuh gak sabaran banget sih, aku gak jadi ah ngomongnya," ucapku.


"Jangan gitu dong sayang, kamu kok tega banget sih, padahal aku sudah nunggu kamu buat ngomong sampai aku keselek juga," ucap mas Dika dengan terlihat sedih.


"Ya sudah ayo terusin makannya, kasihan nanti makanannya nangis lho kalau gak dihabisin, sini biar aku suapi supaya makannya gak keselek lagi," ucapku dengan menyuapi mas Dika sehingga dia kembali tersenyum dan nampak berkaca-kaca.


"Biasa aja kali mas gak usah sampai terhura seperti itu," ujarku.


"Bukan terhura sayang, tapi terharu, kamu ternyata bisa ngelawak juga ya?" ucap mas Dika yang kini terlihat tertawa bahagia.


"Gitu dong senyum, kita kan sebentar lagi mau Nikah," ucapku. sehingga membuat mas Dika membulatkan matanya.


"Kamu gak lagi bercanda kan sayang?" tanya mas Dika.


"Enggak lah mas, masa masalah Pernikahan aku bercanda, gimana kalau Pernikahannya kita majuin aja jadi minggu depan?" ucapku pada mas Dika.


"Memangnya kamu beneran sudah siap?" tanya mas Dika.


"InsyaAlloh aku sudah siap mas, niat baik kan gak boleh ditunda-tunda," jawabku padanya sehingga mas Dika melakukan sujud syukur.


"Alhamdulillah..terimakasih Ya Alloh," ucap mas Dika yang kini membuatku merasa terharu.


"Terimakasih ya sayang, kalau begitu sekarang juga aku bakalan hubungi WO yang terbaik di kota ini, supaya secepat kilat mempersiapkan Pernikahan kita," ucap mas Dika.


"Mas, acaranya gak usah mewah-mewah ya, yang sederhana saja, aku gak mau kalau sampai mas terlalu banyak mengeluarkan uang untuk acara Pernikahan kita, karena lebih baik kita menyumbangkan sebagian rezeki kita kepada fakir miskin dan Anak Yatim," ucapku pada mas Dika.

__ADS_1


"Sayang, aku menginginkan Pernikahan satu kali dalam seumur hidupku, jadi aku ingin acara yang spesial supaya semua orang bisa mengenangnya, dan pastinya aku juga akan melakukan santunan kepada orang yang membutuhkan," ujar mas Dika kepadaku sehingga membuatku tersenyum dan menyetujui rencananya.


__ADS_2