Pengorbanan Cinta

Pengorbanan Cinta
Bab 34 ( Percobaan Pembunuhan Dika )


__ADS_3

Setelah memasuki Ruang Operasi, Cinta melihat Dika yang kini terbaring lemah di atas Meja operasi.


"Dok, apa boleh saya menghampiri mas Dika sebentar saja?" pinta Cinta.


"Silahkan Nona," jawab Dokter. Dan Cinta kini melangkahkan kakinya menuju ranjang Dika.


"Mas Dika yang kuat ya, aku pasti akan selalu ada di sisi mas Dika, kita harus berjuang bersama ya mas," ucap Cinta yang kini telah berlinang airmata dengan menggenggam erat tangan Dika.


"Apa Nona sudah siap?" tanya Dokter.


"InsyaAlloh Dok," jawab Cinta.


"Kalau begitu silahkan Nona ganti dulu pakaiannya memakai ini," ujar Dokter dengan memberikan pakaian steril kepada Cinta.


Setelah semuanya siap mereka berdua di bius, dan Operasi pun segera dimulai.


Mbok Nah kini terlihat mondar-mandir di depan ruang Operasi dengan terus melapalkan do'a.


"Ya Alloh hamba mohon selamatkan Nak Dika dan Nak Cinta, semoga Operasinya berjalan lancar, Amin."


Empat Jam kini telah berlalu, dan lampu di depan Ruang Operasi kini telah terlihat padam.


"Alhamdulillah sepertinya Operasinya sudah selesai," ucap Mbok Nah.


Dokter terlihat keluar dari ruang operasi dan Mbok Nah bergegas menghampirinya.


"Bagaimana Dok hasil operasinya?" tanya Mbok Nah.


"Alhamdulillah Operasinya berjalan dengan lancar, dan sebentar lagi Nona Cinta bisa di pindahkan ke ruang perawatan, sedangkan Tuan Dika masih harus kami pantau di ruang ICU," ujar Dokter.


"Alhamdulillah..terimakasih Ya Alloh, terimakasih banyak Dokter," ucap Mbok Nah.


"Kalau begitu saya permisi dulu Bu," ujar Dokter dengan berlalu dari hadapan Mbok Nah.


Setelah beberapa saat, Cinta terlihat keluar dari ruang operasi dengan di dorong di atas blangkar untuk di pindahkan ke Ruang Rawat. Dan Mbok Nah pun kini mengikutinya.


"Sus, bagaimana keadaan Nak Cinta sekarang? apa baik-baik saja? kenapa belum siuman juga?" tanya Mbok Nah.

__ADS_1


"Kondisi Non Cinta mungkin akan pulih seiring berjalannya waktu, akan tetapi kesehatannya harus benar-benar di jaga, karena sekarang Non Cinta hanya memiliki satu ginjal. Mungkin satu jam kemudian Non Cinta baru akan siuman dari pengaruh obat biusnya," jawab Suster.


"Terimakasih ya Sus," jawab Mbok Nah.


"Iya sama-sama Bu, Ibu bisa menekan tombol yang ada di atas ranjang pasien ya jika terjadi sesuatu pada Non Cinta, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Suster yang kemudian keluar dari ruang perawatan Cinta.


"Kasihan sekali nasibmu Nak, sejak lahir sudah terpisah dari keluarga kandungmu, Si Mbok juga mendengar perjuangan hidupmu yang sangat sulit. Seandainya kalian tidak terpisah mungkin Nak Cinta dan keluarga sudah hidup bahagia dan kamu tidak akan kekurangan apa pun," ucap Mbok Nah yang kini mengelus lembut kepala Cinta.


Karena sudah tidak kuat menahan rasa kantuknya, akhirnya Mbok Nah sampai tertidur dengan duduk di kursi di samping ranjang Cinta. Cinta yang kini telah siuman pun menatap iba kepada Mbok Nah.


"Kasihan sekali Mbok Nah, pasti kecapean sampai-sampai tertidur di kursi," gumam Cinta.


Bagaimana ya keadaan mas Dika sekarang? apa operasinya berhasil? tanya Cinta dalam hati.


Sesaat kemudian Mbok Nah terlihat bangun.


"Alhamdulillah...Nak Cinta sudah sadar, kenapa gak bangunin Si Mbok?" tanya Mbok Nah.


"Cinta belum lama sadar kok Mbok, lagian Cinta kasihan pasti Mbok kecapean ya sampai-sampai tertidur sambil duduk di kursi," ujar Cinta.


"Gak apa-apa sayang, justru Si Mbok kasihan sama Nak Cinta karena sudah berkorban demi kesembuhan Nak Dika," jawab Mbok Nah.


"Alhamdulillah.. Operasinya berjalan lancar Nak, tapi Nak Dika masih harus di pantau di Ruang ICU," jawab Mbok Nah. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari arah luar.


Tok...tok..tok...


Lalu sesaat kemudian masuklah Dokter Arya yang malam ini bertugas sebagai Dokter jaga.


"Maaf saya mengganggu, malam ini saya yang bertugas menjadi Dokter jaga, dan saya ingin mengecek keadaan Cinta pasca operasi," ucap Dokter Arya.


"Iya silahkan Dok, Nak Cinta baru saja siuman," ucap Mbok Nah.


"Maaf ya Cinta saya periksa dulu," ujar Dokter Arya yang kini menggunakan stetoskop pada tubuh Cinta, tapi disaat Dokter Arya menempelkan nya tepat di jantung Cinta malah jantungnya yang sekarang berdetak kencang.


Ya Alloh..kenapa sekarang malah jantungku yang berdetak kencang, perasaan apa ini? tanya Dokter Arya dalam hati.


Mbok Nah yang melihat Dokter Arya diam mematung pun kini angkat bicara.

__ADS_1


"Dok, Nak Cinta baik-baik saja kan? kenapa Dokter sampai mematung seperti itu?" tanya Mbok Nah sehingga menyadarkan Arya dari lamunan nya.


"Alhamdulillah kelihatannya tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan keadaan Cinta, yang penting dia harus menjaga pola makannya dengan baik," ujar Dokter Arya.


"Alhamdulillah..kalau begitu terimakasih ya Dok," ucap Cinta dengan tersenyum. Sehingga lagi-lagi Dokter Arya merasakan jantungnya berdetak kencang.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya," ucap Dokter Arya yang kemudian bergegas keluar dari ruang rawat Cinta.


"Sepertinya ada yang terpesona nih dengan Nak Cinta sampai-sampai diam mematung seperti itu," ujar Mbok Nah.


"Apaan sih Mbok, Cinta kan sudah punya mas Dika," ujar Cinta dengan tersenyum.


Seandainya Nak Cinta tau kalau Nak Dika adalah Kakak kembarnya, mungkin dia tidak akan berbicara seperti itu, Maaf Nak Cinta Si Mbok belum bisa menceritakan semuanya sekarang sebelum hasil Tes DNA kalian keluar, ucap Mbok Nah dalam hati.


"Ya sudah sekarang Nak Cinta istirahat dulu ya, si Mbok juga sudah ngantuk," ujar Mbok Nah.


......................


Keesokan Pagi nya..


"Nak Cinta Si Mbok mau keluar dulu untuk sarapan ya, Nak Cinta mau pesan apa?" tanya Mbok Nah.


"Gak usah Mbok Cinta kan belum boleh memakan makanan dari luar, biar Cinta nanti sarapan yang di sediakan oleh Rumah Sakit saja," jawab Cinta. Kemudian Mbok Nah pun keluar untuk mencari makanan.


"Kenapa ya sekarang hatiku jadi gak tenang begini? sebaiknya sekarang aku harus melihat keadaan mas Dika dulu, aku takut terjadi apa-apa dengannya," gumam Cinta yang kini mencoba untuk melangkahkan kakinya ke Ruang ICU.


Cinta merasa panik karena disaat dia melihat dari jendela ruang ICU terlihat Clara sedang menyuntikan sesuatu ke dalam infusan Dika.


"M*t* kamu anak s*a*l*n, sekarang sudah tidak akan ada lagi yang bisa menghalangiku untuk menguasai semua harta peninggalan mas Anjas," ucap Clara dengan tertawa puas.


Cinta pun tidak tinggal diam dan langsung menerobos masuk ke ruang ICU.


"Apa yang sudah Ibu lakukan?" teriak Cinta dengan segera mencabut cairan infusan kemudian menekan tombol darurat.


Clara yang sudah ketahuan pun merasa ketakutan kemudian segera melarikan diri.


Kini Dokter segera masuk ke ruangan Dika.

__ADS_1


"Ada apa Nona? kenapa cairan infusan nya bisa tercabut? tanya Dokter.


"Tadi saya melihat ada seseorang yang menyuntikan sesuatu ke dalam cairan infusan mas Dika, saya sengaja mencabut cairan infusan nya karena takut jika itu adalah zat yang berbahaya. Sebaiknya Dokter segera memeriksa keadaan mas Dika karena saya takut obat tersebut sudah masuk ke dalam tubuhnya," ujar Cinta. Dokter pun segera memeriksa keadaan Dika dan menyuruh suster membawa cairan infusan tersebut ke laboratorium untuk di periksa.


__ADS_2