
Cinta secara perlahan melangkahkan kaki menuju rumah Dika, langkahnya kini terasa berat dengan sesekali menengok ke arah Arya yang masih berada di dalam mobil dengan melambaikan tangannya.
Kenapa kakiku rasanya berat untuk melangkah meninggalkan mas Arya, perasaan apa ini? tanya Cinta dalam hati.
Ketika sampai di depan pintu rumah kini Cinta melihat Arya dari kejauhan, lalu beberapa saat kemudian mobil Arya terlihat melaju meninggalkan kediaman Dika.
Perasaan apa ini Ya Alloh, kenapa hatiku terasa sakit? sekarang hatiku terasa hampa ketika melihat mas Arya pergi meninggalkanku, ucap Cinta dalam hati.
Ketika Cinta hendak mengetuk pintu, tiba-tiba pintu rumah kini terbuka. Cinta melihat Dika yang kini membulatkan matanya serta diam mematung dengan mendorong kereta bayi.
"Mas Dika," ujar Cinta.
"Sayang, apa aku tidak sedang bermimpi? ini beneran kamu kan sayang," ujar Dika yang kini berlari untuk memeluk tubuh Cinta.
Dika kini menumpahkan tangisan kerinduannya yang telah terbendung selama satu tahun karena tidak bertemu dengan Cinta.
"Mas Dika sehat kan? maafkan aku mas_," ujar Cinta yang kini terpotong oleh Dika.
"Kamu jangan bicara dulu sayang, aku tidak mau melepaskan pelukan ini, aku takut kalau kamu bakalan pergi meninggalkanku lagi," ujar Dika yang kini terdengar sesenggukan.
"Mas lihat aku, sekarang aku ada di sini dan gak akan pernah ninggalin mas lagi," ujar Cinta yang kini mencoba mengurai pelukan Dika.
Dika kini masih terus saja menangis seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Hey udah dong jangan nangis terus, itu ingusnya sampai keluar gitu," ujar Cinta sehingga Dika kini mengelap hidungnya dengan ujung baju yang Cinta pakai.
"Mas Dika iseng banget sih, baju aku kan jadi kotor," ujar Cinta dengan memukul pelan tubuh Dika yang kini sudah mulai tersenyum.
Tiba-tiba Dita yang berada di dalam kereta bayi pun menangis.
"Astagfirulloh aku sampai lupa sama Dita," ujar Dika yang kini menghampiri kereta bayi.
"Mas Dika ini bayi siapa?" tanya Cinta yang kini terlihat heran.
__ADS_1
"Nama bayi cantik ini Dita, dia anak kita sayang," ujar Dika dengan tersenyum.
Cinta kini masih terlihat bingung dengan perkataan Dika, lalu Dika pun kini menuntun Cinta untuk masuk ke dalam rumah.
"Mbok Nah, sini aku punya kejutan," teriak Dika memanggil Mbok Nah yang sedang berada di dapur.
Mbok Nah kini terlihat menghampiri mereka dengan ekspresi yang sama yang tadi diperlihatkan oleh Dika.
Kemudian Mbok Nah kini berlari ke arah Cinta yang sudah berdiri dengan merentangkan kedua tangannya.
"Subhanallah Nak Cinta, Alhamdulillah akhirnya do'a Si Mbok selama ini dikabulkan," ujar Mbok Nah dengan menangis.
"Alhamdulillah Mbok, Cinta juga sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan kalian, tapi Cinta masih bingung karena mas Dika bilang kalau bayi cantik ini anaknya kita," ujar Cinta.
Kini Mbok Nah dan Dika terlihat tertunduk sedih, mereka bingung untuk menyampaikan berita duka tentang Tia.
"Oh ya Mbok yang lain pada kemana? kok rumah sepi sekali?" tanya Cinta yang kini terlihat heran.
Tiba-tiba Ahmad yang baru selesai melaksanakan Solat Dhuha pun berlari karena melihat Cinta.
"Ahmad sayang kenapa kamu di sini Dek, memangnya Ahmad tidak Sekolah?" tanya Cinta.
Kini semua orang terdiam tanpa ada yang menjawab pertanyaan Cinta, sehingga Cinta menjadi heran.
"Sekarang kamu duduk dulu sayang," ujar Dika dengan menuntun Cinta supaya duduk terlebih dahulu sebelum Dika memulai bercerita.
Setelah beberapa kali menghembuskan nafas kasar kini Dika mulai menceritakan berita duka tentang kematian Tia dengan menggenggam erat tangan Cinta.
"Kamu yang sabar ya sayang, karena sebenarnya Tia sudah meninggal dunia," ujar Dika yang kini membuat Cinta merasa Syok.
"Mas gak lagi bercanda kan? Adikku gak mungkin meninggal dunia kan mas?" ujar Cinta yang kini menangis.
"Sebenarnya bayi ini adalah anak mendiang Tia, dia dilahirkan pada dua hari yang lalu ketika Tia mengalami kecelakaan bersama Dokter Kirana dan Dokter Soni yang juga meninggal dunia, karena mas tidak mengetahui Ayah kandungnya, jadi mas mengangkat bayi ini sebagai anak kita," ujar Dika.
__ADS_1
"Innalillahi..Tia semoga Alloh SWT mengampuni semua dosa kamu Dek, maafkan Kakak yang tidak bisa mendidik Tia menjadi perempuan Saleha semasa hidup Tia, sekarang insyaAlloh Kakak akan menjaga bayi Tia serta menyayanginya seperti anak kakak sendiri," ujar Cinta dengan menggendong bayi mendiang Tia.
"Kasihan sekali kamu sayang karena tidak pernah bertemu dengan kedua orangtuamu, tapi kamu jangan sedih ya karena mulai sekarang Bunda akan selalu menjaga Dita," ujar Cinta dengan memeluk dan mencium Dita yang terlihat nyaman ketika berada dalam pangkuan Cinta.
"Benar kan mas namanya Dita?" tanya Cinta kepada Dika.
"Iya sayang namanya Dita Pratama, gabungan dari nama kita Dika dan Cinta," ujar Dika dengan tersenyum.
"Makasih ya mas karena mas sudah mau menerima anak Tia, dan nanti setelah kita berdua Menikah Dita akan menjadi anak pertama kita," ujar Cinta.
Dika kini hanya tersenyum mendengar perkataan Cinta tentang Pernikahan mereka, karena saat ini Dika berada dalam dilema. Di satu sisi Dika begitu mencintai Cinta sehingga ingin memilikinya, tapi di sisi lain Dika takut berdosa jika melakukan Pernikahan sedarah dengan Cinta.
Jadi Nak Dika ternyata belum berkata jujur kepada Nak Cinta bahwa sebenarnya mereka adalah anak kembar, batin Mbok Nah.
"Iya sayang aku akan selamanya menyayangi kalian," ujar Dika yang kini memeluk tubuh Cinta dan Dita.
Dan ternyata diam-diam Dika memotret momen mereka bertiga yang sedang berpelukan kemudian mengunggahnya di sosmed.
Si Mbok harus bagaimana, apa yang harus si Mbok lakukan, Si Mbok harus mencegah Pernikahan sedarah yang akan dilakukan oleh Nak Dika dan Nak Cinta, batin Mbok Nah.
"Nak Dika apa Si Mbok boleh ngomong berdua sama Nak Dika?" tanya Mbok Nah.
"Boleh Mbok, emang ada apa sih?" tanya Dika yang kini terlihat penasaran.
"Nak Dika ikut Si Mbok saja, Si Mbok mau minta pendapat tentang acara tahlil nanti," alasan Mbok Nah, sehingga Dika dan Mbok Nah pun berlalu menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Mbok Nah kini mulai berbicara.
"Nak Dika memang belum bercerita kepada Nak Cinta tentang kebenaran bahwa kalian itu anak kembar?" tanya Mbok Nah.
"Aku belum siap Mbok, aku belum bisa menerima semua ini, aku sangat mencintai Cinta, dan aku gak rela jika sampai dia Menikah dengan lelaki lain," ujar Dika.
"Istighfar Nak Dika, Si Mbok tau kalau Nak Dika sangat mencintai Nak Cinta, tapi Cinta tidak harus saling memiliki Nak," ujar Mbok Nah mencoba menyadarkan Dika.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus Cinta yang menjadi adik Dika Mbok? kenapa harus perempuan yang sangat Dika cintai?" ujar Dika yang kini terlihat frustasi.