
Setelah tiba di cafe,Bi Ida dan Daren bahkan sudah menunggu disana
"Kak ada yang mencari kakak,katanya sudah janjian tadi siang"ucap Leni
"Terimakasih Len,kakak gabung kesana dulu"
"Aku ikut dek"sahut Indra dari belakang
.......
"Maaf menunggu lama Bi,Daren"ucap Dini merasa tidak enak hati
"Tidak masalah Din,kebetulan kami kesini sekalian makan tadi"ucap Daren
"Oh yah Bi,Daren perkenalkan ini Bang Indra,dan ini Bibi Ida dan ini Daren bang"ucap Dini
Indra pun langsung menerima salam dari Daren dan Bibi Ida
"Perkenalkan saya Indra calon suaminya Dini"ucap Indra begitu berapi-api
"Bukan kah ini chef Indra yang sedang di gandrungi karena masakannya yang enak itu"tanya Daren kepada Dini
"Abang bisa saja"sahut Indra
"Apa betul nak Indra ini adalah calon suamimu nak Dini"tanya
Bi Ida memastikan
"Betul Bi,bahkan tanggal pernikahan kita sudah di tentukan Bi,dua bulan lagi kita akan menikah Bi"sahut Dini
Indra yang mendengar pengakuan dari Dini merasa menang banyak dari Daren
"Rasakan itu Laki-laki yang kurang bersyukur,bukannya berusaha membina keluargamu dengan baik,yang kamu pikirkan bahkan mau menikah lagi dengan menagih perjodohan yang dulu"gumam Indra
"Oh yah Bi,Daren hal apa yang ingin disampaikan ke Dini yang tadi siang belum sempat kita bicarakan"tanya Dini
__ADS_1
Bibi Ida langsung menyampaikan apa yang sedang terjadi dengan pernikahan Daren
"Bibi berharap Nak,apa yang sudah di bicarakan oleh almarhum papanya Daren dan Pak Dahlan dulu bisa kita laksanakan"
"Mohon maaf yah Bi,tapi untuk melaksanakan amanah almarhum Bapak,Dini rasa tidak bisa lagi Bi,saat ini kami sedang mempersiapkan pernikahan kami Bi"ucap Dini
"Bibi mohon nak,tolong beri Daren kesempatan"ucap Bibi Ida memelas
"Mohon maaf yah Bi,bukannya Dini ingin menggurui,tetapi apa yang ingin di kejar Daren dari saya adalah pernikahan.Sebuah pernikahan yang tanpa di bangun dengan pondasi yang kuat,maka sebentar akan runtuh,bukan kah kamu bilang saat ini pernikahanmu sedang dalam proses perceraian,itu berarti masih ada kesempatan untukmu supaya bisa memperjuangkan itu.Ingat Dar,saat kamu menikahi dia,bukan kah kamu sudah berjanji akan selalu ada saat dia senang dan susah,saat sehat dan sakit,terus kemana janji mu yang dulu itu"tanya Dini sedikit emosi
"Maaf Din,sebelum aku menikah dia sudah tidak suci lagi..."
"Oh...dari mana kamu ketahui bahwa dia tidak suci lagi"tanya Dini dengan geram
Daren pun langsung buka-bukaan tentang hubungannya dulu dengan istrinya
"Menurutku tidak ada lagi kecocokan diantara kami"
"Yang namanya manusia mana ada yang cocok,tetapi tergantung individunya saja,apa mau berusaha untuk tidak egois dan menang sendiri.Maaf yah Bibi,kami sudah mau menikah"
"Sudah bu,baru kemarin saya pulang dari rumahnya Dini di desa,semuanya sudah di bicarakan"ucap Indra merasa geram dengan tingkah Ibu dan anak itu
"Apa itubenaran Din"tanya Daren memastikan
"Benar Dar,baju kami juga sudah siap semua,hanya tinggal menunggu tanggal pernikahannya saja"ucap Dini
Daren yang mendengar penuturan dari Dini langsung terdiam."Benar kata Dini,dulu aku sangat menyayangi Istriku,tetapi karena hasutan Ibu,aku pun pasrah dan mau saja menelantarkan mereka,kedepan aku akan memperbaiki semuanya sebelum terlambat"gumam Daren
"Baiklah Din,kami pulang dulu,terima kasih buat waktumu Din"pamit Daren sambil memanggil karyawan untuk meminta bill dari makanan yang telah mereka makan
Karyawan yang di panggil langsung datang kemeja dimana Dini dan Indra juga ada disana
"Sore Pak,Bu,ada yang bisa di bantu"tanya si karyawan tanpa melihat orang yang di depannya
"Indah...bill meja ini tidak perlu di tagihkan"ucap Indra
__ADS_1
"Maaf Pak Indra,Bu Dini tadi Indah tidak melihat Bapak dan Ibu"ucap Indah merasa tidak enak hati
"Tak apa-apa Indah,silahkan ke meja nomor dua puluh di depan,sepertinya mereka butuh sesuatu"ucap Dini
"Baik Bu,sekali lagi Indah minta maaf"sambil berlalu dari sana
"Tunggu dulu Din,jangan bilang tempat ini adalah punya kalian"tebak Daren
"Tempat ini milik bang Indra Dar,aku hanya nompang makan disini"gurau Dini
Daren yang mendengar pengakuan dari Dini merasa malu bila dibandingkan dengan dirinya"Siapa aku di banding Indra,selain statusnya yang masih lajang,dia juga sangat berprestasi,sudah mandiri dan sangat cocok dengan Dini yang sama-sama pekerja keras"batin Daren
"Baiklah Din,Indra,kami pulang dulu,terimakasih atas traktirannya malam ini,makanannya sangat enak dan staft serta pemiliknya juga sangat baik"ucap Daren tulus
"Sama-sama bang,kalau ada kesempatan di lain waktu,kami tunggu kedatangan Bibi dan bang Daren disini lagi"ucap Indra sambil mengantar kan kepergian tamunya itu
.....
"Sepertinya Bibi Ida sangat berharap kamu yang akan menjadi menantunya dek"ucap Indra memulai pembicaraan diantara keduanya
Ya,setelah kepulangan Bi Ida dan Daren dari tempat itu,Dini hanya diam dan menunggu penjelasan dari Indra tentang kepulangannya dua hari yang lalu ke desanaya
"Aku tidak tahu bang,dan bagiku itu tidak penting"ucap Dini
"Jangan marah dulu dek,sebenarnya kemarin abang pulang kekampung tujuannya awalnya hanya mau berbicara dengan bapak dan Ibu saja,tetapi setelah abang bertukar pikiran dengan Bapak tentang tanggapan Bu Astri terhadap Ibuku yang sudah merendahkan kamu dengan omongannya Ibu, Bapak menyarankan supaya kami langsung mendatangi Bu Astri dan keluarga adek untuk meminta maaf dan melanjutkan kembali niat baik kita,dan benar saja setelah bertemu dengan keluarga semua masalah bisa teratasi dengan baik.Abang minta maaf tidak mengabari hal ini kepadamu,abang hanya berusaha tidak menambah beban pikiranmu saja"ucap Indra menyadari diamnya Dini itu karena kesalahannya yang tanpa berembuk dulu untuk kepulangan Indra kedesanya
"Kalau adek mau marah silahkan,tapi tolong jangan diam seperti ini.Bagiku lebih baik kamu merepet dari A sampai Z dari pada didiamikan seperti ini."Ucap Indra dan berusaha memeluk Dini dari belakang
"Jangan seperti ini bang"ucap Dini dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Indra
"Biarkan seperti ini sebentar saja dek,sebenarnya badan ini sangat lelah,di tambah adek mendiamkan abang dua hari ini"ucap Indra dengan meneteskan air mata
Dini yang merasa lehernya seperti kena tetesan air langsung membalikkan badannya dan mendapati wajah Indra yang sedang menangis
"Mengapa abang menangis,apa terjadi sesuatu hal "tanya Dini dan berusaha membawa Indra untuk duduk kembali di tempat duduknya semula
__ADS_1
"Aku tidak tahu ini tangis sedih atau tangis bahagia dek,kemarin Ibu Astri sudah menceritakan semuanya tentang status Edo di keluarga mu dek,aku juga melihat keberadaan Rudi disana yang sudah seperti keluarga sendiri,untuk itu aku bahagia dek,tetapi aku juga sangat sedih karena aku belum mampu seperti Rudi di keluarga adek"ucap Indra