
Sesampainya di Rumah Sakit, Dika berlari dengan menggendong Cinta menuju UGD, kemudian perawat dan Dokter pun bergegas menghampirinya.
"Maaf tuan Andhika, apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Dokter.
"Dokter tolong cepat periksa Cinta, aku takut terjadi apa-apa dengan dia," ujar Dika dengan panik.
"Silahkan tuan baringkan dulu Nonanya disini," ucap seorang perawat.
Akhirnya Dika membaringkan tubuh Cinta secara perlahan ke sebuah blangkar yang berada di UGD dengan terus menggenggam tangan cinta dengan erat.
hingga terdengar desas desus dari beberapa Perawat yang mengetahui tentang identitas Dika sebagai pemilik Rumah Sakit.
"Lihat deh Tuan tampan, baru kali ini ya terlihat khawatir pada seorang perempuan, udah gitu So Sweat banget lagi dari tadi tangannya sampai gak mau lepasin tangan perempuan itu," ucap salah satu suster disana.
"Iya ih aku iri banget sama tuh cewek, beruntung banget ya," jawab suster satu lagi.
Dika yang mendengar percakapan mereka pun sama sekali tidak memperdulikannya.
"Bagaimana Dok keadaan Cinta? kondisinya baik-baik saja kan? dia tidak mempunyai penyakit yang parah kan Dok?" Dika terus memberondong Dokter dengan pertanyaan.
"Tuan Andhika tidak usah khawatir, keadaan Nona Cinta tidak terlalu parah, sepertinya dia hanya kecapean dan banyak pikiran saja, jadi dengan istirahat cukup dan meminum vitamin saja itu akan segera memulihkan kondisinya saat ini," jawab Dokter.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk Cinta, dan saya mau dia di rawat di ruangan paling bagus yang Rumah Sakit ini punya," ucap Dika.
Kemudian Dokter pun segera menyuruh Perawat menyiapkan ruangan khusus untuk Cinta di rawat.
Setelah beberapa saat kemudian Cinta di pindahkan ke ruang perawatan Spesial khusus untuk pemilik Rumah Sakit.
Dika tidak sedikit pun melepaskan pegangan tangannya kepada Cinta, hingga Mbok Nah yang melihat semua itu kini angkat Bicara.
"Nak Dika, kasihan lho nak Cinta daritadi di pegangin terus tangannya, dilepasin juga Nak Cinta gak bakalan kabur," ledek mbok Nah.
"Oh iya maaf mbok, tadi Dika panik sampai-sampai gak sadar sudah pegangin tangan Cinta," Dika pun nampak malu sama mbok Nah.
"Gak sadar kok bisa sampai lama banget ya?" sindir mbok Nah lagi yang ditanggapi Dika dengan cengengesan.
__ADS_1
Seandainya Nak Dika tahu kalau sebenarnya dia mempunyai saudara kembar, pasti dia akan sangat menyayanginya juga, dan mungkin Ibu Diana tidak akan meninggal karena syok dengan adik kembar Nak Dika yang diculik, pasti sekarang mereka sudah hidup bahagia, ucap Mbok Nah dalam hati.
"Nak Dika sebaiknya pulang saja ke rumah supaya bisa istirahat, biar Si Mbok saja yang nungguin Nak Cinta disini," ujar Mbok Nah.
"Enggak Mbok, Dika akan terus berada di samping Cinta sampai Cinta sembuh, lebih baik Mbok saja yang pulang biar nanti Dika suruh supir buat nganterin Mbok Nah," jawab Dik.
"Ya sudah kalau itu memang kemauan Nak Dika, Si Mbok pamit dulu ya, jangan lupa makan, Nak Dika juga harus jaga kesehatan, jangan sampai nanti Nak Cinta sembuh malah Nak Dika yang sakit," ucap Mbok Nah yang dijawab dengan anggukan kepala serta senyuman oleh Dika.
"Mbok juga hati-hati ya di jalan, kalau ada apa-apa mbok kabarin saja Dika," ujar Dika
Akhirnya Mbok Nah pulang setelah sebelumnya mengucapkan Salam.
Dika yang kecapean pun tanpa sadar kini sudah tertidur dengan posisi duduk di kursi samping ranjang perawatan Cinta dengan terus menggenggam erat tangan orang yang dicintainya itu.
Hingga beberapa saat kemudian Cinta mencoba untuk membuka matanya, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan tempatnya kini berada.
Dimana aku? kenapa aku di infus? apa ini Rumah sakit? tanya Cinta dalam hati.
Cinta kini melihat Dika yang sedang tidur terlelap berada di samping ranjangnya.
Dika yang merasa ada pergerakan dari tangan Cinta pun kini secara perlahan membuka matanya dan Dika secara replek langsung memeluk tubuh Cinta karena saking bahagianya melihat Cinta yang kini sudah sadar dari pingsannya.
"Alhamdulillah Cinta, kamu sudah bangun sayang, aku khawatir kamu kenapa-napa," ucap Dika dengan meneteskan airmata dan nampak enggan melepaskan pelukannya dari tubuh Cinta.
"Terimakasih ya mas Dika atas semuanya, aku tau mas Dika sangat khawatir dengan keadaanku, tapi maaf bisakah mas melepas pelukannya, maaf mas kita bukan muhrim dan sekarang dadaku rasanya sesak banget nih." akhirnya Dika langsung melepas pelukannya dan wajahnya kini berubah menjadi merah karena malu atas sikapnya.
"Maaf ya Cinta aku gak sengaja," ucap Dika.
"Iya gak apa-apa mas, asal jangan di ulangi lagi ya," jawab Cinta dengan tersenyum.
"Bisa nggak senyumnya gak usah manis kaya gitu, gula aja sampai kalah manisnya, dan senyummu itu telah mengalihkan duniaku," gombal Dika.
"Beuh mulai deh Raja Gombal beraksi," sindir Cinta.
"Gak tau nih kalau lihat kamu aku rasanya pengen gombal terus," ucap Dika dengan cengengesan.
__ADS_1
"Mas Dika sebaiknya pulang aja ya, kasihan mas Dika pasti cape, baru juga semalam kita pulang dari Bogor, aku disini bisa jaga diri kok, kalau ada apa-apa aku bisa minta bantuan sama perawat disini," ujar Cinta.
"Pokoknya aku gak bakalan pernah ninggalin kamu walau pun cuma sebentar, kecuali kalau mau ke toilet aja," ucap Dika.
"Ya sudah gimana Bos aja, lagian Sultan mah bebaaaas..." ledek Cinta yang kini mendapat cubitan dari Dika di hidungnya.
Lalu Dika mencoba memberanikan diri untuk menanyakan tentang sesuatu hal yang dari semalam mengganjal hatinya.
"Cinta, apa sebegitu besarnya perasaan cinta kamu kepada Ilham, sampai disaat kamu tertidur pun hanya nama Ilham yang kamu panggil?" tanya Dika yang kini tertunduk sedih.
"Aku memang sangat mencintai mas Ilham. akan tetapi, mungkin sekarang sebaiknya aku mengubur rasa cinta itu dalam-dalam, dan mencoba membuka hatiku untuk seseorang yang mencintaiku," jawab Cinta.
Dika pun kini nampak membulatkan matanya ketika mendengar ucapan Cinta.
"Apa maksudnya kamu akan berusaha membuka hatimu buat aku?" tanya Dika dengan antusias.
"Memangnya aku bilang kalau orang itu mas Dika?" jawab Cinta hingga Dika yang tadinya antusias kini tertunduk sedih.
"Maaf ya mas Dika aku gak bisa...." belum juga Cinta menyelesaikan ucapannya Dika sudah memotong perkataan Cinta terlebih dahulu.
"Iya gak apa-apa Cinta, aku tau kamu butuh waktu untuk melupakan Ilham," ucap Dika.
"Aku belum selesai bicara kok sudah di potong aja?" ucap Cinta yang kini membuat Dika terlihat bingung.
"Aku mau bilang sama mas Dika kalau aku tuh gak bisa nolak Cinta mas Dika," jelas Cinta yang kini membuat Dika kembali membulatkan matanya serta replek akan memeluk Cinta lagi. Namun, Cinta menghentikan nya.
"Stop_stop ya mas, kita jadian bukan berarti mas bisa main sosor seenaknya aja, pokoknya tidak ada peluk sama cium sebelum kita resmi Menikah," ujar Cinta.
"Iya_iya sayang, Bagaimana kalau kita langsung Nikah saja setelah kamu sembuh? jadi bisa pacaran setelah Nikah," ucap Dika.
"Gak bisa gitu donk mas, aku mau kita nikahnya kalau sudah umur 25 tahun aja gimana? lagian baru juga umur kita 20 tahun mas," ucap Cinta.
"Oke deh kalau itu memang keinginan kamu, apa sih yang enggak buat pujaan hatiku," ucap Dika yang kini terlihat sangat bahagia sampai akhirnya Dika jingkrak-jingkrak saking bahagianya, Cinta pun kini ikut tertawa melihat kekonyolan nya.
Terimakasih ya, mas Dika sudah membuatku tersenyum, mudah-mudahan hubungan kita tidak kandas seperti hubunganku dengan mas Ilham yang hingga kini masih menyisakan luka, ucap Cinta dalam hati.
__ADS_1