Pengorbanan Cinta

Pengorbanan Cinta
Bab 25 (Perselingkuhan Broto dan Bella)


__ADS_3

Setiap hari Broto dan Bella semakin menjadi-jadi, mereka bahkan selalu menghabiskan malam panas bersama.


"Sayang kamu selalu luar biasa," ucap Broto kepada Bella ketika selesai melakukan hubungan terlarang di sebuah hotel.


"Iya Ayah mertua juga selalu berhasil membuatku puas," jawab Bella.


"Sebaiknya kamu jangan panggil aku Ayah mertua jika sedang berdua sayang, seakan-akan aku ini sudah sangat tua, padahal Ilham saja belum tentu bisa memuaskan kamu," ucap Broto.


"Oke deh kalau begitu aku akan memanggil sayang juga gimana?" ucap Bella dengan bergelayut manja sehingga kembali membangkitkan gairah Broto.


Kedua manusia bejat itu sama sekali tidak pernah memikirkan konsekuensi yang akan terjadi akibat hubungan terlarang mereka, karena yang ada hanyalah napsu setan yang menguasai diri mereka.


......................


Di lain tempat Ilham kini sedang bersama dengan Bu Salma.


Ilham yang tidak pernah peduli dengan urusan Bella pun tidak pernah bertanya apalagi berkomentar, mau Bella pergi kemana juga Ilham sama sekali tidak memperdulikan nya, karena Pernikahan mereka hanyalah sebuah Status saja.


Bu Salma merasa prihatin melihat Pernikahan Ilham dan Bella yang tidak harmonis.


"Maafkan Ibu ya Nak, karena Ibu tidak dapat menolak keinginan Bapakmu yang memaksa Ilham untuk Menikahi Bella, sehingga sekarang Pernikahan kalian tidak mendatangkan kebahagiaan," ujar Bu Salma dengan meneteskan airmata.


"Semua ini bukan kesalahan Ibu, kita berdua hanyalah korban keegoisan serta keserakahan yang Bapak lakukan," jawab Ilham.


"Iya Nak, Ibu juga sangat kecewa dengan sikap Bapak. Seandainya kamu Menikah dengan Cinta, kalian pasti akan bahagia," ujar Bu Salma.


"Tapi itu semua sudah terlambat Bu, karena sekarang Cinta sudah memilih Dika untuk menjadi pendamping hidupnya," ucap Ilham.


"Ibu tau Nak kalau rasa cinta kalian berdua sangatlah besar, dan Cinta tidak akan semudah itu untuk berpindah ke lain hati."


"Tapi Cinta menolak Ilham mentah-mentah Bu, ketika Ilham berkata bahwa akan secepatnya menceraikan Bella, padahal Ilham sama sekali belum pernah menyentuh Bella sedikit pun."

__ADS_1


"Astagfirulloh Nak, kamu tau kan dosa hukumnya tidak memberikan nafkah bathin terhadap seorang Istri?" tanya Bu Salma.


"Ilham sangat tau Bu, tapi Ilham sama sekali tidak pernah bisa menghilangkan bayang-bayang Cinta dari pikiran Ilham, hati Ilham sangat sakit Bu menjalani Pernikahan ini."


"Ibu sangat mengerti tentang perasaan kamu sayang, meski pun Perceraian itu di halalkan oleh agama, akan tetapi sangat dibenci oleh Alloh. Namun, jika keputusan kamu memang sudah bulat, Ibu tidak akan berusaha untuk mencegahnya karena Ibu melihat Pernikahan kalian juga tidak pernah harmonis, dan Ibu hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kehidupan Ilham semoga kelak Ilham mendapatkan seorang Istri yang Saleha," ujar Bu Salma.


"Tapi kebahagiaan Ilham hanya dengan Cinta Bu, karena Cinta adalah cinta pertama dan cinta terakhir untuk Ilham," ucap Ilham dengan tertunduk sedih.


Bu Salma yang melihat kesedihan Ilham pun hanya bisa meneteskan airmata dan memeluk tubuh Anak semata wayangnya itu.


......................


Di tempat lain Dika membawa Cinta ke kantornya dan semua orang tertunduk hormat melihat kedatangan mereka. Sehingga beberapa saat kemudian terdengar desas desus di kalangan karyawan tentang kedekatan Dika dan Cinta.


"Baru kali ini ya Bos Dika ngajak seorang perempuan ke kantor, itu pacarnya apa kembarannya sih? kok wajah mereka mirip banget," ujar salah satu karyawan di Kantor Dika.


"Denger-denger sih perempuan itu calon Istrinya, tapi iya juga ya, kenapa wajah mereka bisa mirip banget." semua orang pun terlihat bingung, hingga akhirnya datang atasan mereka.


Cinta dan Dika kini sudah berada di ruangan kerja Dika.


"Mas, aku gak enak deh dengan Karyawan kamu, mereka sepertinya melihatku dengan tatapan aneh," ujar Cinta.


"Sayang, kamu gak usah dengerin apa kata orang, lagian disini juga gak bakalan ada yang berani ngomongin kita, kan aku Bos nya," ucap Dika dengan tersenyum.


"Inget-inget jangan sombong, harta dan jabatan itu hanya titipan dari Alloh SWT," Cinta mencoba mengingatkan Dika.


"Iya sayang, aku juga cuma bercanda," ujar Dika dengan cengengesan.


"Mas, sebaiknya aku gak usah mengikuti kesetaraan SMA aja ya, kasihan nanti mas Dika harus keluar banyak uang lagi buat aku, cukup Tia dan Ahmad aja yang sudah mas Dika biayain sekolahnya.


"Kamu kok mikirnya gitu sih sayang, kamu itu segalanya buat aku, lagian aku juga sudah urus semuanya, nanti kamu tinggal duduk manis saja sambil belajar, atau kamu mau langsung ikut ujian?" tanya Dika.

__ADS_1


"Kalau aku langsung ikut ujian, percuma dong mas aku punya ijazah tapi gak punya ilmunya? ya sudah kalau begitu aku usahain insyaAlloh dalam satu tahun ini aku bakalan giat belajar, supaya bisa secepatnya ikut ujian, jadi mas Dika gak harus ngeluarin uang lebih banyak lagi buat biaya Sekolahku, mulai sekarang aku juga bakalan bantu kerja disini sebisa aku," ujar Cinta.


"Kamu jangan terlalu keras pada diri sendiri Cinta, aku kerja juga buat kamu, lagian kekayaanku gak bakalan habis tujuh turunan, bahkan tujuh tanjakan," ucap Dika dengan cengengesan.


"Iya Sultan mah bebas kok mau ngapain juga," ledek Cinta.


"Sebaiknya besok saja ya mas aku mulai belajarnya, biar aku juga bisa cepat-cepat cari pekerjaan," ujar Cinta.


"Memangnya siapa yang ngijinin kamu buat kerja hemm?" tanya Dika yang kini menatap tajam ke wajah Cinta.


"Aku gak mau kalau harus bergantung terus sama mas Dika, nanti dikiranya aku cewek matre," jawab Cinta yang merasa tak enak hati.


"Emang siapa sih yang bakalan berani ngatain kamu seperti itu? kalau sampai ada yang macam-macam sama kamu biar mas mu ini yang hadapi," ucap Dika dengan memukul pelan dadanya.


"Mas, kita itu kan belum Menikah jadi mas tidak punya kewajiban untuk menafkahiku, dan aku juga ingin mencari pengalaman terlebih dahulu, sebelum nantinya kita berumah tangga," ujar Cinta.


"Kamu itu sekarang sudah menjadi tanggung jawab aku sayang, apalagi kalau nanti kita sudah Menikah, kamu hanya boleh mengurus aku dan anak-anak kita. Bagaimana kalau kita Nikah nya sekarang aja? kan lebih enak kalau pacaran udah Nikah, jadi bisa ngapa-ngapain," goda Dika.


"Mulai deh ngomongnya kemana-mana, ya sudah aku kasih potongan waktu deh, nanti kalau Ulang tahun kita yang ke-21, aku pasti sudah siap untuk menjadi Istri mas Dika," ujar Cinta.


"Berarti tinggal Sepuluh bulanan lagi dong?" tanya Dika dengan antusias dan Cinta menjawabnya dengan anggukan kepala.


Mudah-mudahan saja ketika waktu itu tiba, aku sudah bisa mencintai mas Dika, ucap Cinta dalam hati.


"Makasih ya sayang jadi pengen meluk deh," ucap Dika.


"Boleh, boleh banget malah, nih peluk nih bantal sopa, enak kan empuk?" ucap Cinta dengan melemparkan bantal ke tubuh Dika yang sudah merentangkan kedua tangan nya.


"Tega banget sih sayang, peluk aja gak boleh," ucap Dika yang kini mendapat pelototan dari Cinta.


"Iya_iya, aku juga ingat, belum muhrim kan? lagian di ajak secepatnya dijadiin muhrim juga gak mau," ucap Dika cemberut.

__ADS_1


"Udah gak usah ngambek gitu, yuk sekarang kita buka bekal makan siang kita, tadi aku sudah masakin spesial lho buat calon imamku, ayo sini biar aku suapi juga," ucap Cinta sehingga membuat mood Dika kembali membaik.


__ADS_2