Pengorbanan Cinta

Pengorbanan Cinta
Bab 36 ( Kematian yang mengenaskan )


__ADS_3

Pov Ilham.


Hari ini adalah hari Pernikahan Cinta dan Dika, aku memutuskan untuk tidak menghadiri pesta Pernikahan mereka, karena rasanya aku tidak akan sanggup melihat wanita yang begitu aku cintai bersanding dengan lelaki lain, bahkan lelaki itu adalah teman terbaikku.


"Nak, apa kamu tidak ingin menghadiri acara Pernikahan Cinta dan Dika?" tanya Ibuku.


"Tidak Bu, Ilham tidak akan sanggup menyaksikan orang yang Ilham cintai Menikah dengan lelaki lain," Jawabku pada Ibu.


"Ibu mengerti perasaan kamu Nak, tapi kamu harus belajar untuk merelakan Cinta, ikhlaskan serta do'akan Cinta supaya hidup bahagia, seperti Cinta yang selalu tulus mendo'akan Ilham, bahkan meski pun dia tidak sanggup menyaksikan Pernikahan Ilham dulu, dia tetap hadir untuk mendo'akan kebahagiaan Ilham, meski pun kenyataannya sekarang Pernikahan Ilham dan Bella sudah berakhir," ucap Ibu mengingatkanku.


"Iya Bu, Ilham tau kalau Ilham sudah egois, tapi Ibu lihat sendiri kan Ilham pingsan hanya dengan menerima Undangan Pernikahan Cinta saja, apalagi Ilham harus menyaksikan Pernikahannya secara langsung, Ilham pasti akan mati berdiri Bu," Jawabku pada Ibu.


"Kalau memang itu sudah menjadi keputusan Ilham, Ibu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang pasti, Ibu selalu berdo'a semoga Ilham selalu kuat menerima kenyataan ini," ucap Ibu padaku, sehingga aku memeluk tubuhnya dengan menangis.


Hari ini rasanya sangat berat untuk Aku lalui, hatiku saat ini serasa tertusuk oleh ribuan duri, Aku tidak sanggup menahan sesak di dada ini, rasanya Aku ingin menangis dan berteriak untuk meluapkan semuanya. Sehingga akhirnya Aku memutuskan untuk pergi ke Mushola yang berada di Rumah Sakit, karena yang saat ini bisa aku lakukan hanya mengadu kepada pemilik hidup dan matiku.


Dalam sujudku aku tumpahkan airmata yang sudah tidak dapat ku bendung lagi.


Ya Alloh apakah Aku berdosa jika menginginkan Pernikahan Cinta dan Dika batal? ampuni Aku Ya Alloh, karena belum bisa menerima takdir yang telah Engkau berikan, ucapku dalam hati.


Setelah melaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim aku pun kembali ke tempat Bapak di rawat, dan kini aku melihat Ibuku sedang menangis di depan Ruang ICU.


"Ibu kenapa menangis?" tanyaku dengan khawatir.


"Ilham, sekarang kondisi Bapakmu sedang kritis," jawab Ibuku.


"Ibu yang sabar ya, kita harus belajar mengikhlaskan Bapak, Ibu menyaksikan sendiri kan Bagaimana tersiksanya Bapak dengan penyakitnya?" ujarku pada Ibu.

__ADS_1


Dokter pun keluar dan meminta Ibu serta Aku untuk masuk menemui Bapak.


"Bu Salma, Pak Ilham, sebaiknya anda berdua temui Tuan Broto sekarang, karena mungkin itu akan menjadi yang terakhir kali dikarenakan keadaannya yang semakin kritis. Mohon maaf kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi penyakit Tuan Broto sudah terlalu parah, bahkan semua tubuhnya sudah hampir membusuk," ujar Dokter. Sehingga Aku dan Ibu pun bergegas masuk ke dalam Ruang ICU tempat Bapak dirawat.


"Astagfirulloh Pak," ucap Ibu ketika melihat mulut Bapak yang mengeluarkan busa.


"Salma, maafkan aku," ucap Bapak pada Ibu.


"Ilham maafkan Bapak Nak, Bapak sangat menyesal," ucap Bapak terdengar lirih.


Kini dadanya terlihat naik turun menahan sakit, mungkin Bapak sedang mengalami sakaratul maut, sehingga aku mencoba membantu Bapak dengan membisikan syahadat dan nama Alloh pada telinganya. Tapi Bapak sudah tidak bisa membuka mulutnya lagi.


Setelah beberapa saat Bapak pun menghembuskan napas terakhirnya dengan lidah yang menjulur dan mata yang terbelalak, serta dari tubuhnya kini mengeluarkan banyak belatung.


"Innalillahi waina ilaihi roji'un," ucap Aku dan Ibu secara bersamaan.


Aku berusaha menutup mata serta lidahnya, tapi tetap tidak bisa, mungkin itu adalah azab Alloh yang harus Bapak terima karena perbuatannya selama ini.


Kami berdua akhirnya memutuskan membawa Jenazah Bapak pulang ke rumah supaya di mandikan terlebih dahulu sebelum akhirnya di kebumikan. Akan tetapi, tidak ada yang bersedia memandikan Jenazah Bapak karena bau busuk dari tubuhnya yang begitu menyengat, sehingga hanya aku dan Pak Ustad yang memandikan Jenazah serta menyolatkannya.


"Nak Ilham sebaiknya kita bergegas menguburkan mayat Pak Broto sebelum hujan turun," ujar Pak Ustad.


"Iya Pak mari, saya sudah menyuruh penggali kubur untuk membantu menggotong Jenazah Bapak," jawabku pada Pak Ustad.


Kami Akhirnya mencoba untuk mengangkat Jenazah Bapak, tapi kerandanya sangat berat meski pun sudah di gotong oleh enam orang.


"Astagfirulloh..Nak Ilham sepertinya ada sesuatu hal yang membuat Jenazah Pak Broto berat untuk kita angkat," ucap Pak Ustad. Sampai akhirnya aku mencoba berkata kepada Jenazah Bapak dengan memegang kerandanya.

__ADS_1


"Pak.. Ilham sudah ikhlas menerima semua takdir yang Ilham terima, pergilah dengan tenang, Ilham dan Ibu akan selalu mendo'akan Bapak, serta Ilham akan meminta maaf atas nama Bapak kepada semua orang yang telah Bapak Dzolimi.


Akhirnya Jenazah Bapak pun bisa kami angkat, dan kami segera menggotong kerandanya menuju pemakaman umum yang tidak jauh dari rumah.


Betapa terkejutnya kami semua setelah tiba di tanah yang digali untuk menguburkan jasad Bapak, karena disana sudah banyak ular serta lintah.


"Bagaimana ini Pak Ustad, kita tidak mungkin menguburkan Bapak bersama hewan tersebut," ujarku.


"Tapi Nak Ilham kita sudah tidak punya waktu lagi karena sekarang hujan sudah turun," jawab Pak Ustad. Sehingga kami pun dengan terpaksa menguburkan Bapak bersama Ular dan lintah.


Setelah Pemakaman selesai tiba-tiba kuburan Bapak tersambar petir sehingga membuat semua orang yang membantu pemakaman pun bergegas membubarkan diri.


"Ampuni semua dosa Bapak Ya Alloh," Do'a ku dengan bersimpuh melihat kuburan Bapak yang kini terlihat gosong.


Mungkin hatiku saat ini sama hancurnya dengan perasaan Cinta dulu yang secara bersamaan harus merasakan kehilangan orangtua dan orang yang kita cintai.


Maafkan aku Cinta, karena telah menggoreskan luka di hatimu, meski pun tanpa aku sengaja. Sekarang aku akan mencoba untuk merelakan serta mengikhlaskan dirimu semoga hidup bahagia bersama Dika, Ucapku dalam hati dengan terus meneteskan airmata.


Kini Ibu menghampiriku yang masih terduduk di bawah derasnya Air hujan.


"Ilham, ayo sekarang kita pulang Nak, ikhlaskan semuanya, semoga hari esok akan lebih baik, dan kamu akan menemukan kebahagiaan," ucap Ibu padaku. Sehingga kami berdua pun memutuskan untuk pulang.


Dengan langkah gontai aku mencoba berjalan dengan di bopong oleh Ibu.


"Terimakasih ya Bu, karena disaat Ilham terpuruk, Ibu selalu ada di samping Ilham," ucapku pada Ibu dengan bersimpuh di kakinya.


"Maafkan Ilham Bu, karena belum bisa menjadi anak Ibu yang berbakti," ujarku dengan mencium telapak kaki Ibuku. Karena aku meyakini jika surgaku berada di telapak kaki Ibuku.

__ADS_1


"Bangunlah Nak, Ilham adalah anak Ibu yang soleh, saat ini hanya Ilham yang Ibu punya, kamu harus kuat demi Ibu, yakinlah dibalik semua cobaan serta ujian pasti akan ada Hikmahnya."


__ADS_2