
Pov Cinta
Kami akhirnya masuk ke dalam Restoran setelah sebelumnya mas Dika memarkirkan mobilnya. Mau tidak mau kami harus duduk di meja kosong yang berada di pojokan karena semua kursi sudah di penuhi oleh Karyawan yang akan melakukan makan siang.
"Kamu mau makan apa sayang?" tanya mas Dika.
"Kayaknya ayam bakar nya enak deh mas," jawabku.
"Ya sudah kalau begitu kami pesan ayam bakar saja dua, sama minumnya es jeruk aja," ucap mas Dika kepada pelayan yang sedang menulis pesanan kami.
"Emang kamu gak mau nambah lagi?" tanya mas Dika.
"Enggak, udah itu aja mas, kan kita di sunat kan untuk berhenti makan sebelum kenyang, jadi jangan pesen banyak-banyak, sayang nanti kalau sampai mubazir," jawabku.
"Iya_iya mas ikut saja apa mau kamu sayang," ujar mas Dika dengan tersenyum.
Beberapa saat kemudian akhirnya pesanan kami pun datang, dan kami memutuskan untuk memulai makan siang kami.
"Inget mas baca do'a dulu," ucapku disaat mas Dika hendak langsung memasukan makanannya ke dalam mulut tanpa membaca do'a terlebih dahulu.
"He_he, iya maaf aku lupa," ucap nya sambil cengengesan.
"Alhamdulillah makanannya enak banget ya mas," ucapku.
"Iya enak banget, tadinya aku mau nambah lagi kalau gak inget perkataan kamu tadi yang harus berhenti makan sebelum kenyang," jawab mas Dika.
"Syukur deh kalau mas inget, nanti badan mas Dika jadi gendut lho kalau makannya berlebihan. Oh iya mas, aku mau ke toilet dulu sebentar ya," ucapku. Namun, Mas Dika tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.
"Ayo aku antar," ucap mas Dika.
"Astagfirulloh...mas, aku bukan anak kecil jadi gak bakalan nyasar juga."
"Tapi gimana nanti kalau kamu ada yang culik?" ucap mas Dika.
"Stop ya mas gak usah mikir yang aneh-aneh, aku cuma sebentar kok pengen buang air kecil aja," ujarku yang merasa risih dengan sikap posesifnya.
Aku pun akhirnya berjalan menuju toilet, tapi disaat aku baru melewati beberapa meja, aku melihat di depanku sebuah pemandangan yang sangat menjijikan, karena nampak seorang pria yang sudah terlihat berumur sedang berciuman dengan seorang gadis yang hanya di tutupi oleh buku menu, dan aku yakin itu bukan Istrinya karena gadis tersebut masih mengenakan seragam SMA.
__ADS_1
Astagfirulloh di tempat umum seperti ini sempat-sempatnya mereka melakukan tindakan tidak bermoral, ucapku dalam hati.
Namun, tiba-tiba aku tertabrak oleh seorang Pelayan yang sedang membawa makanan.
"Awwww" teriakku, sehingga mengganggu aktifitas pasangan mesum tersebut.
"Maaf ya Bu, saya tidak sengaja," ucap Pelayan tersebut.
"Iya tidak apa-apa mbak, lain kali hati-hati ya," jawabku.
Betapa terkejut nya aku ketika menengok ke arah pasangan mesum tadi.
"ASTAGFIRULLOH TIA," teriakku. Karena ternyata gadis yang berciuman dengan lelaki hidung belang tadi adalah Adikku sendiri.
"Kak Cinta," ucap Tia lirih, mungkin dia malu karena perbuatannya sudah kepergok olehku.
"Kakak kecewa sama kamu Tia, bisa-bisanya kamu melakukan hal yang tidak senonoh di tempat umum seperti ini, bahkan dengan seorang lelaki yang bukan muhrim kamu !" ucapku
"Kamu gak usah ikut campur dengan urusanku deh, lagian kamu itu cuma anak pungut, jadi kamu gak berhak buat ngatur-ngatur hidup aku !" bentak Tia.
"Maaf ya saya harap anda tidak mengganggu urusan kami, karena saya sudah mengeluarkan banyak uang untuk Tia," ucap lelaki yang berada di samping Tia.
"Bapak harusnya mikir, Bagaimana mungkin Bapak mau berkencan dengan gadis yang usianya sama seperti Anak Bapak sendiri, apa Bapak gak malu? dan apa juga Bapak tidak merasa berdosa karena telah mengkhianati Istri Bapak?" ucapku pada lelaki tersebut.
"Kamu tidak usah munafik deh, kalau kamu mau ikutan dengan kami, ayo silahkan, aku juga bakalan bayar kamu," ajak Pria hidung belang tersebut.
PLAK
Aku akhirnya mendaratkan tanganku di pipi Pria hidung belang tersebut.
"Maaf Pak, jaga omongan Anda, harusnya anda malu telah menghina saya, karena anda juga terlahir dari rahim seorang perempuan !" ucapku padanya.
"Wooow, aku malah lebih suka dengan perempuan pemberani sepertimu," ucap lelaki tersebut dan dia mencoba untuk memegang pipiku. Namun, sebelum dia berhasil menyentuhnya tiba-tiba.
Bugh_bugh
Mas Dika memberikan bogem mentah kepada lelaki tersebut.
__ADS_1
"Jangan kurang ajar kamu, berani-beraninya mencoba untuk menyentuh calon Istriku !" ucap mas Dika.
Sesaat kemudian Pria hidung belang tersebut nampak terkejut hingga membulatkan matanya.
"Tuan Andhika Pratama," ucap dia dengan gugup.
"Oh ternyata Pria hidung belang itu adalah Manager di Perusahaanku sendiri," ucap mas Dika.
"Pak Bram maaf mulai sekarang Anda saya pecat dari Perusahaan saya, karena saya tidak mau mempunyai Karyawan yang tidak bermoral seperti anda !" teriak mas Dika.
"Saya mohon Tuan, jangan pecat saya, Bagaimana nanti nasib Anak dan Istri saya kalau saya tidak bekerja," lelaki yang bernama Bram itu pun langsung memohon kepada mas Dika dengan terus memegangi kaki mas Dika.
"Apa aku tidak salah dengar? kamu sekarang baru mengingat nasib anak dan Istrimu setelah aku pecat, lalu kemarin-kemarin kamu kemana saja? bahkan sampai bersenang-senang dengan gadis yang lebih pantas menjadi anakmu !" ucap mas Dika terlihat emosi.
"Ayo Cinta sekarang kita pergi dari tempat ini, tinggalkan saja Adikmu yang tidak tahu diri itu biar dia menjadi gelandangan sekalian," ucap mas Dika dengan menarik lembut tanganku untuk keluar dari Restoran tersebut. Namun, Tia berlari mengikuti kami dan ikut masuk kedalam mobil.
"Ngapain kamu ikut masuk ke dalam mobil segala !" bentak mas Dika kepada Tia.
"Ya..aku mau ikut pulang lah sama kakak aku?" jawab Tia.
"Sekarang kamu baru ngakuin Cinta sebagai Kakak kamu? kemarin-kemarin kamu kemana saja? bahkan tadi aku masih mendengar kalau kamu bilang Cinta hanyalah anak pungut," ucap mas Dika.
Aku pun merasa bingung dengan semua ini, disisi lain apa yang mas Dika ucapkan benar, tapi bagaimanapun juga Tia adalah adikku, walau pun kami tidak mempunyai hubungan darah.
"Sudah mas, kasihan Tia, jangan kamu marahin terus," ucapku mencoba menenangkan mas Dika dengan mengusap lembut punggung nya.
"Cinta sayang, kamu itu harus tegas sama Tia, dia itu sudah keterlaluan sama kamu, dan tindakannya kali ini sudah mencoreng nama baik keluarga kamu," ucap mas Dika.
"Setiap orang juga pernah melakukan kesalahan mas, mungkin Tia hanya khilaf saja, dan semoga Tia bisa berubah menjadi lebih baik lagi," ujarku.
"Sudah deh aku gak bakalan tersentuh atas pembelaan kamu anak pungut, gak usah sok berlaga baik hanya untuk mencari simpati dari kak Dika !" teriak Tia.
"Stop Tia, kenapa kamu selalu tega nyakitin Kakak yang selama ini sudah berjuang mati-matian demi kehidupan kalian, lebih baik sekarang juga kamu turun dari mobilku, kalau perlu kamu tidak usah kembali lagi ke rumahku !" teriak mas Dika.
Akhirnya Tia pun turun dan membanting pintu mobil dengan kerasnya. Aku hanya bisa menangis menghadapi ini semua, aku benar-benar kecewa sama Tia,
Bu, Pak, maafin Cinta karena sudah gagal menjadi kakak yang baik untuk Tia, ucapku dalam hati.
__ADS_1