
Dokter Soni kini berencana membawa Tia ke Klinik yang berada di dekat rumahnya untuk dia rawat. Tia yang depresi saat ini selalu nampak ketakutan jika bertemu dengan semua orang, tapi dengan jiwa playboy nya soni berusaha merayu Tia sehingga dia mulai tenang.
Di perjalanan Soni sempat membelikan rambut palsu untuk Tia gunakan, supaya nanti Tia tidak histeris jika kembali melihat penampilannya di kaca.
"Tia, sekarang aku pakaikan wig nya ya," ujar Soni yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Tia.
"Ternyata kamu cantik juga kalau memakai rambut palsu," ujar Soni tersenyum licik sehingga dia memutuskan untuk merawat Tia di rumah saja.
"Ayo sekarang kita turun sayang, kita sudah sampai di rumahku," ujar Soni yang kini membopong tubuh Tia turun dari mobil.
Soni tinggal sendiri di rumahnya karena kedua orangtuanya berada di luar Negri. Soni juga sengaja mengerjakan seorang Asisten rumah tangga hanya seminggu sekali supaya tidak mengganggu kesenangannya yang tidak lazim, Karena terkadang Soni juga sering menyiksa binatang yang lewat di hadapannya.
Suatu ketika Soni pernah menyiksa seekor kucing dengan memukulinya, kemudian dia membedah kucing tersebut.
Soni selalu merasa bahagia apabila dia sudah melampiaskan hobinya. Hampir setiap hari Soni juga selalu bergonta ganti pasangan, jika tidak puas dia akan menyiksa pasangan mesumnya. Pacar Soni yaitu Dokter Kirana tidak pernah tau jika Soni seorang psikopat, karena di hadapan Kirana dia selalu menyembunyikan sifat aslinya.
Untuk melancarkan aksinya Soni yang sudah tidak kuat menahan hasrat kepada Tia pun kini mencampurkan obat tidur kepada minuman Tia, sehingga beberapa saat kemudian ketika Tia sudah tertidur Soni melampiaskan hasratnya dengan membabi buta.
Akhirnya aku mempunyai mainan baru untuk melampiaskan hasratku yang selalu membara, ujar Soni dalam hati dengan terus mencumbui tubuh Tia yang tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian Tia terbangun dari tidurnya, dan dia merasakan sakit pada sekujur tubuhnya akibat perbuatan Soni yang sudah bermain kasar, sehingga kini Tia pun terus menjerit kesakitan.
"Jangan menangis sayang, maafkan aku karena terlalu bernafsu kepadamu sehingga aku sudah bermain kasar," ujar Soni dengan menggerayangi tubuh Tia yang ketakutan dan Soni pun langsung menyuntikan obat penenang kepada Tia supaya kembali tertidur.
Aku harus mencari cara supaya Tia dengan sukarela memberikan tubuhnya padaku, mungkin aku harus merayunya dan bersikap baik supaya dia tidak merasa takut terhadapku, batin Soni, lalu kemudian Soni pun tertawa puas
Pada sore harinya Kirana datang ke rumah Soni. Dia merasa terkejut karena Soni kepergok sedang memandikan Tia.
__ADS_1
"Soni !" teriak Kirana.
Soni pun terlihat santai meski pun kini Kirana sudah terlihat emosi.
"Sayang rupanya kamu sudah datang?" tanya Soni.
"Aku gak nyangka kamu sudah mengkhianati hubungan kita," ujar Kirana dengan menangis.
"Sayang kamu jangan salah paham," ujar Soni yang kini menggandeng Kirana untuk duduk di kursi.
"Gadis yang tadi kamu lihat di kamar mandi adalah pasienku, namanya Tia," ujar Soni.
"Lalu kenapa kamu memperlakukannya secara spesial dan tidak membiarkan dia diurus oleh perawat yang ada di Klinik?" tanya Kirana.
"Tia adalah adik ipar Tuan Andhika, jadi aku membawanya tinggal di rumah supaya dia bisa lebih cepat sembuh, karena Tuan Andhika sudah membayar dengan mahal serta menyuruhku khusus untuk merawat Tia tanpa harus bekerja di Rumah Sakit," ujar Soni dengan menggerayangi tubuh Kirana.
"Apakah benar dengan yang kamu katakan sayang?" tanya Kirana yang kini sudah mulai melunak sehingga membalas menggerayangi tubuh Soni yang juga hiperseks, dan akhirnya mereka pun menghabiskan waktu bersama di dalam kamar.
"Tia kenapa kamu melamun di sini?" tanya Soni yang kini melihat Tia duduk di ruang TV.
"Siapa perempuan itu Dokter? dia tidak akan menggunduli rambutku lagi kan? aku takut dia memasukan cabai ke dalam mulutku," ujar Tia yang saat ini mulai ketakutan sehingga memeluk tubuh Soni.
"Kamu tidak perlu takut padaku Tia, aku tidak akan menyakitimu," ujar Kirana dengan menghampiri Tia.
"Sepertinya gadis ini juga sedang hamil sayang," ujar Kirana kepada Soni.
"Benar sayang, karena tadi Tuan Andhika juga bilang seperti itu, dan Tuan Andhika juga meminta salah satu Dokter Kandungan supaya rutin memeriksa kandungan Tia," ujar Soni.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku akan meminta ijin kepada pihak Rumah Sakit supaya aku saja yang rutin memeriksanya agar kita bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama," ujar Kirana dengan mengedipkan sebelah matanya. Karena Kirana juga merupakan salah satu Dokter kandungan yang bekerja di Rumah Sakit milik Dika.
"Ide yang sangat bagus sayang," jawab Soni mendengar usul Kirana.
"Sayang sepertinya aku harus pulang sekarang ya, sebentar lagi tengah malam, aku takut nanti orangtuaku marah besar," ujar Kirana.
"Maaf sayang aku tidak dapat mengantarmu karena aku harus selalu mengawasi Tia," ujar Soni.
"Tidak apa-apa aku juga bawa mobil sendiri," ujar Kirana dengan mencium Soni kemudian bergegas pulang.
......................
Beberapa bulan kemudian kandungan Tia kini semakin membesar dan hampir mendekati taksiran persalinan.
Dokter Kirana kini merasa heran karena Tia selalu takut jika melihat oranglain, tapi anehnya Tia tidak takut sama sekali kepada Dokter Soni.
"Sayang kenapa ya aku aneh banget sama sikap Tia?" ujar Kirana.
"Memangnya apa yang aneh dengan Tia?" tanya Soni.
"Dia selalu ketakutan jika bertemu dengan semua orang termasuk denganku, tapi anehnya dia tidak pernah takut kepadamu bahkan perhatiannya terhadapmu sangat berlebihan," ujar Kirana terlihat cemburu.
"Kamu tidak perlu merasa aneh dan cemburu sayang, karena setiap hari aku kan selalu bersama dengan Tia, jadi wajar saja jika dia tidak takut kepadaku," jawab Soni.
Mana mungkin Tia takut kepadaku, karena setiap hari aku selalu memberikannya Surga Dunia, batin Soni.
"Aku juga hampir setiap hari bertemu dengan Tia, tapi dia tetap saja takut padaku, apa sebenarnya kalian mempunyai hubungan yang spesial?" selidik Kirana.
__ADS_1
"Sudahlah sayang kamu tidak usah mikir yang aneh-aneh, mana mungkin aku tertarik dengan perempuan depresi seperti Tia, sedangkan di hadapanku saat ini aku mempunyai kekasih yang begitu menggoda," ujar Soni. dan seperti biasa Kirana pun selalu terbuai oleh sentuhan Soni, padahal mereka belum Menikah.
Selama Tia tinggal bersama Soni, setiap hari Soni selalu melampiaskan hasratnya kepada Tia, dan Soni mengaggap Tia sebagai bonekanya karena dia selalu menurut dengan bujuk rayu Soni. Bahkan pada saat usia kandungan Tia baru semester pertama dia pernah mengalami pendarahan karena permainan Soni yang kasar, sehingga Soni secara perlahan merubah kebiasaannya menjadi lebih lembut.