Pengorbanan Cinta

Pengorbanan Cinta
Bab 44 ( Bayangan Ilham )


__ADS_3

Cinta dan Arya mengucapkan Salam ketika memasuki rumah yang akan mereka tempati saat ini. Sekelebat bayangan tentang kejadian di rumah ini kini bermunculan kembali dalam ingatan Cinta, sehingga berkali-kali Cinta memegang kepalanya yang terasa sakit.


Kenapa aku bisa mengingat sesuatu tentang rumah ini, apa sebelumnya aku pernah tinggal disini? tanya Cinta dalam hati.


Wajah seorang lelaki kini samar-samar Cinta ingat, sehingga Cinta menyebut satu nama.


"Mas Ilham," ucap Cinta secara tiba-tiba.


"Darimana kamu tau nama temanku yang menjual rumah ini sayang? perasaan aku belum memberitahukannya," ujar Arya dengan heran.


"Enggak kok mas, aku cuma asal nebak saja," ujar Cinta dengan tersenyum dan menarik lembut tangan Arya untuk duduk di kursi.


"Memangnya benar yang jual rumah ini bernama Ilham?" tanya Cinta.


"Iya sayang, Ilham adalah teman sekamarku dulu pada waktu aku mondok di salah satu Pesantren yang berada di Jawa," jawab Arya.


"Jadi mas pernah mondok juga? pantesan aja mas fasih dalam membaca Al-qur'an dan suara mas terdengar sangat merdu," ujar Cinta.


"Mas mondok cuma sebentar waktu mas Sekolah SMA aja, karena pas keluar SMA mas keburu dapat Beasiswa ke luar Negri," ujar Arya.


"Hebat banget sih Suamiku, jadi makin Cinta deh," ujar Cinta dengan tersenyum.


"Kamu yang hebat sayang, karena sudah bisa membuatku jatuh Cinta," ujar Arya dengan mencubit hidung Cinta.


"Oh iya mas, kenapa mas Ilham sampai menjual rumahnya? padahal kan sayang rumahnya juga masih bagus," tanya Cinta.


"Ilham pindah ke tanah kelahiran Ibunya yang berada di daerah Jawa Tengah. Ilham juga pernah bercerita jika rumah ini mempunyai banyak kenangan bersama Cinta Pertamanya. Tapi, karena dia harus kehilangan orang yang dia Cintai tersebut, serta ada beberapa kejadian buruk di rumah ini, jadi akhirnya dia menjual rumah ini." jawab Arya.


"Oh begitu ceritanya, kasihan banget ya nasib Cintanya mas Ilham," ujar Cinta.


Entah kenapa dadaku terasa sesak mendengar kisah Cinta mas Ilham, Ya Alloh apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku belum bisa mengingat semuanya? ujar Cinta dalam hati.


"Iya mas juga turut prihatin mendengarnya, apalagi mas dengar Ilham di paksa Menikah oleh mendiang Ayahnya, meski pun sekarang sudah bercerai sih, karena katanya Istri Ilham sudah selingkuh dengan Ayah Ilham sendiri," ujar Arya.


"Astagfirulloh, Nauzubillah, kok bisa ya sampai seperti itu?" tanya Cinta.


"Ya bisa aja sayang, namanya juga khilaf, mungkin terbujuk rayuan syetan," ujar Arya.

__ADS_1


"Astagfirulloh, Daritadi kayaknya kita ghibah terus deh mas, aku mau mandi dulu aja ya, takut dosa kalau ngomongin orang terus, badanku juga udah lengket banget nih. Mas mau mandi bareng gak?" goda Cinta sehingga membuat wajah Arya memerah.


"Tapi Bohong," ujar Cinta dengan berlari masuk ke kamar mandi.


"Cinta, awas kamu ya !" teriak Arya dengan tertawa.


Lho kenapa Cinta sudah tahu letak kamar mandinya ya, padahal aku belum sempat menunjukan isi rumah ini, bathin Arya kini merasa heran.


......................


Malam pun kini telah tiba, Cinta yang tadi sudah sempat memasak kini memanggil Arya yang masih bertadarus di Mushola.


Tiba-tiba kepala Cinta terasa sakit ketika dia melihat wajah Arya kini berubah menjadi wajah lelaki yang selalu ada dalam bayangan serta mimpinya.


Arya yang melihat Cinta kesakitan pun kini bergegas menghampirinya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Arya.


"Gak tau mas tiba-tiba kepalaku sakit," jawab Cinta.


Apa Cinta mengingat sesuatu tentang masalalunya? kenapa sejak pertama datang ke rumah ini Cinta selalu terlihat memegang kepalanya? apa mungkin Ilham yang selalu Cinta panggil dalam tidurnya adalah Ilham temanku? mudah-mudahan saja hanya namanya yang kebetulan sama, ujar Arya dalam hati menepis semua dugaannya.


"Mas aku gak mau istirahat," ujar Cinta.


"Kenapa? ini kan sudah malam?" tanya Arya.


"Aku lapar, tadi niat aku ke Mushola kan buat ngajakin mas makan," ujar Cinta.


"Kalau begitu cepetan sekarang kita makan dulu mumpung belum jam tujuh malam, soalnya kalau sudah jam tujuh malam pencernaan kita itu sudah harus istirahat, tidak boleh diisi oleh makanan yang sulit untuk di cerna oleh tubuh," jelas Arya.


"Iya Pak Dokter," jawab Cinta dengan tersenyum.


"Makannya yang banyak ya sayang biar kamu sehat, oiya kepalanya emang udah gak sakit sayang?" tanya Arya.


"Masih sakit sih mas, tapi cuma sedikit," jawab Cinta.


"Ya sudah nanti habis makan, sayangku minum obat dulu ya," ujar Arya yang kini memijit pelan pelipis Cinta.

__ADS_1


"Ayo cepetan duduk,mas juga harus makan, gak usah dipijitin kepalanya, kasihan mas juga pasti sudah lapar kan?" ajak Cinta.


Arya pun kini duduk dengan terus memandangi pujaan hatinya.


"Kenapa sih mas liatin wajahku terus? emangnya aku lucu?" tanya Cinta.


"Kamu bukan hanya lucu sayang, tapi di mataku kamu itu Sempurna," ujar Arya.


"udah ah jangan gombal, mana ada manusia yang Sempurna, mas tuh ada-ada aja deh," ujar Cinta dengan tertawa, sehingga mereka berdua kini memulai makan malamnya.


......................


Di tempat lain, Dika terus saja mengunci pintu kamarnya, tanpa mau keluar untuk makan dan minum, sehingga membuat Mbok Nah kini merasa khawatir, lalu berkali-kali mengetuk pintunya.


"Nak Dika ayo makan dulu Nak, Si Mbok takut kalau Nak Dika nanti sakit," ujar Mbok Nah, tapi Dika sama sekali tidak menjawabnya.


Ya Alloh, kasihan kamu Nak, kenapa semuanya jadi seperti ini, apa yang harus Si Mbok lakukan? Si Mbok takut terjadi sesuatu kepada Nak Dika, ujar Mbok Nah dalam hati.


Setelah menjelang pagi, akhirnya Mbok Nah kembali ke kamar Dika dan mencoba untuk membuka pintunya, dan ternyata pintunya sekarang tidak di kunci.


Ketika Mbok Nah berhasil masuk, ternyata Dika sudah tidak ada di kamarnya, sehingga Mbok Nah kini berteriak.


"Nak Dika, Nak Dika dimana?" teriak Mbok Nah memanggil-manggil nama Dika dengan mencarinya ke seluruh ruangan. Stella yang mendengarnya pun kini datang menghampiri Mbok Nah.


"Mbok Nah kenapa subuh-subuh gini sudah teriak-teriak?" tanya Stella.


"Nak Stella, Nak Dika hilang ! Mbok Nah sudah mencari-cari Nak Dika ke seluruh ruangan tapi gak ada juga" ujar Mbok Nah dengan berlinang airmata.


"Mbok sudah cari di Mushola depan?" tanya Stella.


"Belum Nak, tinggal di Musholla yang belum Si Mbok cari," jawab Mbok Nah.


"Kalau begitu kita coba cari Kak Dika ke sana, siapa tau Kak Dika berada di Mushola," ujar Stella. Sehingga Stella dan Mbok Nah kini melangkahkan kaki untuk mencari Dika ke Mushola yang berada di depan rumahnya.


Ternyata benar kalau Dika berada disana, dia terlihat menangis dengan memanjatkan do'a, sehingga Mbok Nah dan Stella yang kini melihat Dika pun ikut menangis.


"Nak Dika yang sabar ya, ikhlaskan semuanya," ujar Mbok Nah.

__ADS_1


"Kak Dika jangan sedih ya, ada Stella yang akan menemani Kak Dika untuk mencari keberadaan Kak Cinta, dan Polisi pasti akan segera menemukan petunjuk tentang keberadaannya," ujar Stella.


Dika yang mendengar perkataan Mbok Nah dan Stella pun hanya diam tanpa berkata sepatah kata pun, hanya airmata yang terus saja menetes mengungkapkan perasaannya sekarang ini.


__ADS_2